Pagi-pagi sekali, sebelum santri lain bangun, Fauzan sudah duduk di sudut surau dengan mushaf terbuka di pangkuan dan jaket lusuh menutupi pundaknya yang masih kurus sehabis sakit. Embun menetes dari ujung genting. Dari arah dapur terdengar Kang Soleh menanak nasi, bunyi sendok kayu beradu panci, dan bau asap kayu bakar yang naik tipis ke udara dingin. Fauzan membaca pelan, mengeja, menutup mata, mengulang. Lalu membuka mata lagi karena sesuatu di dadanya berdesir gelisah.
Ia baru menyadari betapa banyak waktu yang telah lewat.
Semalam Ustaz Farid menempelkan selembar pengumuman di papan kayu depan kantor pondok. Tulisannya rapi dengan spidol biru: evaluasi besar akhir tahun ajaran akan diadakan empat puluh hari lagi. Di bawahnya ada daftar nama santri beasiswa dan standar minimal yang harus dicapai untuk melanjutkan tahun depan. Mata Fauzan langsung mencari namanya. Di sebelahnya tertulis satu kalimat yang membuat perutnya mengencang: tuntas juz tiga puluh dan masuk juz satu sesuai target.
Juz satu. Ia bahkan belum benar-benar menyentuhnya.
Selama berbulan-bulan terakhir, hidupnya tersedot oleh hal-hal yang lebih mendesak daripada hafalan. Ibu yang masuk rumah sakit, biaya yang menumpuk, kerja menyol yang dipaksakan sampai ia tumbang, kemudian sakit demam yang merebahkannya berhari-hari, lalu krisis pondok dan koperasi. Semua itu nyata, semua itu penting, dan ia tak menyesalinya. Tapi sekarang, dengan kepala yang lebih jernih dan hati yang lebih ringan setelah berdamai dengan ayahnya, ia melihat dengan jelas apa yang telah ia korbankan. Hafalannya berhenti di garis batas juz tiga puluh dan tak bergerak maju sejengkal pun.
Ia menutup mushaf, menghela napas, dan memandang langit yang mulai memucat di balik siluet gunung.
Dulu, hafalan terasa seperti tembok yang dipasang ayahnya untuk menghukumnya. Sekarang tidak lagi. Sekarang ia ingin maju bukan karena takut dipulangkan, bukan karena nazar, melainkan karena ada janji yang ia ucapkan di tepi ranjang ibunya, dan janji itu tak pernah ia lupakan. Yang ibu inginkan bukan ia jadi hebat. Yang ibu inginkan ia tidak kehilangan dirinya. Dan Fauzan tahu, dengan kepastian yang tenang, bahwa berhenti sekarang justru sama dengan kehilangan diri.
"Sudah bangun, Le?"
Kang Soleh muncul di ambang surau, mengusap tangannya yang basah ke sarung. Wajahnya yang teduh menampakkan senyum kecil. Ia duduk di samping Fauzan tanpa diminta, melirik mushaf yang tertutup itu, lalu melirik wajah Fauzan yang gelisah.
"Lihat papan pengumuman?" tanya Kang Soleh.
Fauzan mengangguk. "Empat puluh hari, Kang. Saya belum masuk juz satu sama sekali. Sementara Burhan sudah hampir separuh juz satu."
Kang Soleh tidak buru-buru menghibur. Ia menatap halaman pondok yang basah, ke arah pohon belimbing yang daunnya menggigil tertiup angin gunung. "Kamu tahu kenapa juz tiga puluh kamu bisa tuntas, padahal awalnya kamu bahkan tergagap baca An-Naas?"
Fauzan menggeleng pelan.
"Karena kamu berhenti menghitung berapa banyak yang belum, dan mulai mengerjakan yang di depan mata. Satu ayat, satu hari. Kamu ingat?"
Fauzan ingat. Ia ingat metode itu, menulis ayat di kertas, mengaitkannya dengan benda nyata, mengulangnya sambil menyol sepatu. Ayat tentang waktu ia kaitkan dengan jarum jam reparasi. Ayat tentang timbangan ia kaitkan dengan timbangan lem yang ia takar. Dengan cara itu, huruf-huruf yang dulu seperti semut hitam tak bermakna perlahan menjadi suara yang bisa ia dengar di kepalanya.
"Tenggat itu bikin orang panik," lanjut Kang Soleh. "Dan orang panik lupa caranya jalan. Mereka cuma bisa lihat garis finish yang jauh, lalu kakinya gemetar duluan sebelum melangkah. Jangan begitu, Le. Lihat ubin di depanmu, bukan ubin di ujung sana."
Fauzan terdiam. Kata-kata itu masuk pelan, seperti air yang meresap ke tanah kering. Ia membuka kembali mushafnya, ke halaman pertama juz satu, ke ayat-ayat panjang yang membuatnya gentar. Surat Al-Baqarah. Ayat-ayatnya berbaris seperti deretan rumah di kampung yang tak ada habisnya, panjang dan padat dan asing.
"Kang," kata Fauzan, "juz satu beda dengan juz tiga puluh. Yang ini ayatnya panjang-panjang. Yang kemarin pendek, gampang dipotong. Yang ini..." Ia menelan ludah. "Yang ini kayak jalan yang nggak kelihatan ujungnya."
Kang Soleh tertawa kecil, tawa yang tidak meremehkan. "Memang. Tapi jalan panjang juga dilewati selangkah-selangkah, sama seperti jalan pendek. Bedanya cuma kamu harus lebih sabar dan tidak boleh berhenti di tengah karena merasa belum sampai-sampai." Ia berdiri, menepuk pundak Fauzan. "Empat puluh hari itu lama kalau kamu pakai betul. Pendek kalau kamu pakai buat takut."
Kang Soleh kembali ke dapur. Fauzan duduk sendiri lagi, memandang halaman juz satu yang menganga. Di kepalanya ia mulai menghitung. Empat puluh hari. Kalau ia bisa menuntaskan beberapa halaman tiap hari, mungkin, mungkin saja, ia bisa masuk cukup jauh ke juz satu untuk memenuhi standar. Bukan khatam, bukan tiga puluh juz, tapi cukup untuk lolos evaluasi dan tetap di pondok.
Ia menarik napas dalam-dalam. Udara dingin gunung mengisi dadanya, dan untuk pertama kali sejak melihat papan pengumuman itu, kegelisahannya berubah bentuk. Bukan lagi ketakutan yang melumpuhkan, tapi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih bisa dikerjakan: keinginan untuk mulai, sekarang, hari ini, dengan ayat pertama di depan matanya.
Dari surau yang mulai terisi santri-santri untuk salat Subuh, terdengar Ustaz Romli mengangkat iqamah. Fauzan menutup mushafnya, menyimpannya hati-hati, dan bangkit untuk berdiri di saf paling depan. Tenggat itu sudah dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan menghadapinya dengan kepala tertunduk.