Magrib telah lewat dan mereka masih duduk di bangku semen itu, ayah dan anak, dengan piring peyek yang sudah kosong di antara mereka dan langit yang kini bertabur bintang. Lampu-lampu pondok menyala satu demi satu. Dari kejauhan terdengar santri-santri kembali ke asrama, suara mereka samar dan hangat. Pak Sahal sudah berhenti menangis, tapi matanya masih basah, dan ada ketenangan baru di wajahnya, ketenangan orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang lama ia pikul.
"Le," kata Pak Sahal pelan, memandang ke kejauhan, ke arah siluet gunung yang gelap. "Bapak mau cerita sesuatu. Sesuatu yang Bapak nggak pernah ceritakan ke siapa-siapa. Bahkan ke ibumu."
Fauzan menoleh, diam, menunggu.
"Waktu Bapak bernazar dulu," kata Pak Sahal, suaranya berat, "orang-orang kira Bapak yakin kamu bisa. Mereka kira Bapak punya keyakinan besar, makanya berani menjanjikan tiga puluh juz. Padahal..." Ia tertawa kecil, tawa yang getir dan sedih. "Padahal Bapak nggak yakin sama sekali, Le. Bapak tahu kamu susah baca. Bapak tahu kamu lebih pintar baca jangka ukur daripada huruf Arab. Bapak tahu tiga puluh juz itu... mungkin mustahil buat kamu."
Fauzan tertegun. Selama ini ia mengira ayahnya menggantungkan harapan yang terlalu tinggi padanya karena tak tahu betapa bodohnya ia. Tapi ternyata ayahnya tahu. Tahu sejak awal.
"Lalu kenapa Bapak tetap bernazar begitu?"
Pak Sahal menunduk, dan tangannya yang kasar saling meremas di pangkuannya. "Karena waktu itu, Le, Bapak nggak punya apa-apa lagi untuk dipersembahkan. Kiai sudah menolong Bapak. Menyelamatkan usaha Bapak dari habis total. Dan Bapak... Bapak ini orang miskin, Le. Bapak nggak punya harta untuk membalas. Nggak punya tanah, nggak punya uang, nggak punya apa-apa. Yang Bapak punya cuma..." Suaranya pecah lagi. "Cuma janji. Cuma sesuatu yang besar dan susah, yang kalau bisa terwujud, terasa pantas jadi balasan untuk budi sebesar itu. Dan satu-satunya yang Bapak punya untuk mewujudkan janji sebesar itu... adalah kamu."
Ia mengangkat wajah dan menatap anaknya, dan di matanya ada permohonan yang dalam. "Bapak salah, Le. Bapak tahu sekarang Bapak salah. Bapak membebani masa depanmu dengan janji yang bukan janjimu. Bapak menjual hari-harimu untuk membayar utang budi Bapak. Bapak... Bapak mengorbankan kamu, anak Bapak sendiri, demi harga diri Bapak yang terlalu besar untuk menerima pertolongan dengan ikhlas." Air mata jatuh lagi. "Maafkan Bapak, Le. Maafkan Bapak."
Fauzan duduk diam, dan di dadanya seluruh dendam yang ia pendam sejak hari pertama di gerbang itu, dendam halus yang sudah lama mengerak, dendam pada ayah yang "menjual" masa depannya, dendam yang ia bawa-bawa berbulan-bulan seperti batu di dasar perut, akhirnya larut. Larut bukan karena dilupakan, tapi karena dimengerti. Karena ia kini melihat ayahnya bukan sebagai sosok yang kuat dan kejam yang menggadaikannya, melainkan sebagai apa adanya: seorang lelaki tua yang rapuh, miskin, dan keras kepala, yang dari ketidakberdayaannya melakukan satu-satunya hal yang ia tahu untuk menunjukkan terima kasih, dan dalam prosesnya melukai anak yang ia cintai tanpa pernah bermaksud.
Dan Fauzan teringat dirinya sendiri. Bukankah ia juga begitu? Bukankah ia juga, dari ketidakberdayaannya, menyelinap dan berbohong dan menyol sepatu sampai jatuh sakit, demi menyelamatkan ibunya? Bukankah ia juga punya harga diri yang keras kepala, yang nyaris membuatnya menolak bantuan Burhan? Bukankah ia juga, persis seperti ayahnya, lebih memilih menanggung sendiri daripada meminta tolong? Mereka berdua sama. Ayah dan anak, dipotong dari kain yang sama, keras kepala dengan cara yang sama, mencintai dengan cara yang sama canggungnya.
Maka Fauzan melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sejak ia masih kecil. Sejak ia masih cukup kecil untuk dipangku. Ia bergeser di bangku semen itu, mendekat, dan memeluk ayahnya.
Pak Sahal terkejut, tubuhnya kaku sejenak, lelaki tua yang tak terbiasa dipeluk, tak terbiasa menunjukkan kelembutan. Tapi kemudian ia luruh, dan tangannya yang kasar memeluk balik punggung anaknya, erat, dan ia menangis di bahu Fauzan seperti ia tadi menangis sendirian, hanya sekarang tidak lagi sendirian. Dua tukang sol sepatu, ayah dan anak, berpelukan di bawah langit berbintang di halaman pondok, dengan bau lem yang sama di tangan mereka berdua, dengan air mata yang sama asinnya.
"Saya sudah maafkan Bapak," bisik Fauzan di telinga ayahnya, dan ia menyadari bahwa kata-kata itu benar, sungguh benar, bukan sekadar diucapkan. "Sudah lama, Pak. Saya cuma belum tahu cara bilangnya."
Mereka berpelukan lama di bawah bintang-bintang, sementara dari surau terdengar santri-santri mulai tadarus malam, suara mereka mengalun naik turun, mengisi udara dingin yang turun dari gunung. Dan Fauzan, dalam pelukan ayahnya, menutup mata dan merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dadanya akhirnya kembali. Bukan beban yang terangkat. Bukan utang yang lunas. Tapi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berharga dari semua itu: rumah. Ia telah pulang, bukan ke kampung pesisir, tapi ke ayahnya, ke tempat di mana ia berasal, ke pelukan yang dulu ia kira telah hilang selamanya di gerbang itu.