Mereka keluar dari ndalem dalam diam, ayah dan anak, melintasi halaman pondok yang mulai temaram oleh sore. Pak Sahal berjalan dengan kepala tertunduk, langkahnya berat, seakan kata-kata Kiai telah menambah beban ke punggungnya yang sudah bungkuk. Fauzan berjalan di sampingnya, dan di dadanya sesuatu yang sudah lama ia simpan kini bergolak, mendesak untuk keluar.
Mereka duduk lagi di bangku semen di bawah pohon, tempat tadi pagi mereka makan peyek. Langit di atas gunung mulai jingga. Dari surau terdengar santri-santri bersiap untuk magrib. Dan di antara dua manusia yang duduk berdampingan itu, ada begitu banyak yang tak terucap selama bertahun-tahun, menumpuk seperti tumpukan sepatu rusak yang menunggu diperbaiki.
Kiai telah membuka satu rahasia hari ini, rahasia tentang nazar. Dan Fauzan tahu, kalau ia ingin tembok di antara mereka benar-benar runtuh, ia harus membuka rahasianya sendiri. Rahasia yang ia simpan sejak ia menyelinap ke pasar untuk pertama kali. Rahasia yang ia tahan bahkan ketika duduk menjaga ibunya di rumah sakit dulu.
"Pak," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Ada yang harus saya bilang."
Pak Sahal mengangkat wajahnya.
Fauzan menarik napas dalam-dalam, memandang tangannya sendiri, tangan yang berbau lem itu, lalu mulai bicara. "Uang buat operasi Ibu... Bapak tahu dari mana?"
"Dari beasiswa, to, Le? Dari pondok. Dari donatur-donatur baik. Kiai yang carikan. Maryam bilang begitu."
"Sebagian, Pak. Sebagian memang dari donatur. Sebagian dari... dari teman saya, Burhan, yang minta tolong ke ayahnya yang kaya." Fauzan menelan ludah. "Tapi sebagian besar, Pak... sebagian besar dari saya sendiri."
Pak Sahal mengernyit. "Maksudmu, Le? Dari mana kamu punya uang? Kamu santri."
Dan akhirnya, di bawah langit jingga di halaman pondok, Fauzan menceritakan semuanya. Tentang surat pertama dari Maryam yang mengabarkan Ibu sakit. Tentang ia yang tak tahan membayangkan keluarganya kelaparan sementara ia menghabiskan beasiswa. Tentang pasar kecamatan dan penjual sepatu yang butuh tukang reparasi. Tentang ia yang menyelinap keluar pondok di jam istirahat, membungkuk menyol sepatu di sudut pasar, persis seperti ayahnya, dengan alat yang sama, dengan tangan yang sama. Tentang struk-struk yang ia kirim diam-diam. Tentang ketahuan oleh Kiai. Tentang kelonggaran yang diberikan agar ia boleh bekerja resmi lewat koperasi. Tentang malam-malam tanpa tidur, menghafal sepertiga malam setelah seharian menyol. Tentang ia yang nyaris menjual alat warisan ayahnya untuk menambal biaya operasi, dan dicegah Pak Kasdi.
Ia menceritakan semuanya. Dan ketika ia selesai, ia tak berani menatap ayahnya, takut melihat apa yang ada di wajah lelaki tua itu.
Untuk waktu yang lama, Pak Sahal tidak berkata apa-apa. Hening itu terasa seperti tak berujung. Dari surau, suara bilal mulai mengumandangkan azan magrib, merdu dan sendu di udara sore.
Ketika akhirnya Fauzan memberanikan diri menoleh, ia melihat air mata mengalir di pipi ayahnya yang berkerut, jatuh menetes ke tangannya yang kasar. Pak Sahal menangis tanpa suara, bahunya berguncang, dan di wajahnya bercampur dua hal yang saling bertarung. Malu, malu yang mendalam, malu seorang ayah yang seharusnya menafkahi keluarganya tapi justru anaknyalah yang membungkuk menyol sepatu demi menyelamatkan ibunya. Dan haru, haru yang tak kalah dalam, haru karena warisan tangannya, keterampilan yang ia kira hanya pekerjaan rendah dan tak berharga, ternyata adalah hal yang menyelamatkan nyawa istrinya.
"Le," kata Pak Sahal akhirnya, suaranya pecah. "Kamu... kamu masih kecil, Le. Lima belas tahun. Kamu seharusnya... seharusnya aku yang..." Ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Tangannya yang kasar terangkat, gemetar, dan menyentuh pipi anaknya, seakan tak percaya. "Tanganku," bisiknya, memandang tangan Fauzan yang penuh bekas lem. "Tanganku ada di tanganmu. Aku kira aku cuma mewariskan kemiskinan ke kamu. Aku kira aku cuma kasih kamu beban. Ternyata..."
"Bapak nggak kasih saya beban," kata Fauzan, dan air matanya sendiri jatuh sekarang, deras, tak tertahan lagi. "Bapak kasih saya tangan ini. Tangan yang bisa nyelametin Ibu. Tangan yang nggak bisa dicuri maling, kayak yang Bapak bilang dulu di gerbang. Saya nggak nyesel, Pak. Saya nggak nyesel sedikit pun."
Dan di bawah langit yang menggelap, di antara gema azan dan bayang-bayang pohon, tembok lama yang berdiri di antara ayah dan anak itu, tembok yang dibangun dari dendam halus dan rahasia dan kata-kata yang tak pernah diucapkan, akhirnya runtuh. Runtuh dalam kejujuran yang menyakitkan sekaligus melegakan, runtuh dalam air mata dua lelaki yang sama keras kepalanya, sama besarnya menanggung, sama dalamnya mencintai dengan cara yang canggung.