Sore harinya, Kiai mengirim utusan untuk memanggil Pak Sahal dan Fauzan menghadap ke ndalem. Fauzan menuntun ayahnya melintasi kompleks pondok, dan ia merasakan ayahnya gugup, langkahnya kaku, kopiahnya berkali-kali dibetulkan. Tentu saja. Bagi Pak Sahal, Kiai adalah sosok yang menolongnya dulu saat ia hampir bangkrut, sosok yang kepadanya ia berutang budi seumur hidup, sosok yang demi membayar budinya ia menggantungkan masa depan anaknya pada sebuah nazar.
Kiai menerima mereka di ruang tengah, duduk bersandar di kursi dengan selimut tipis menutupi kakinya, terlihat lebih lelah dari sebelumnya tapi matanya tetap tajam. Ia menyambut Pak Sahal dengan hangat, menanyakan kabar, menanyakan istrinya, dan ketika Pak Sahal mengabarkan istrinya sudah pulih, wajah Kiai melembut.
"Alhamdulillah," kata Kiai. "Allah Maha Penolong."
Mereka berbincang tentang banyak hal, tentang kampung, tentang panen, tentang masa-masa dulu. Dan kemudian, perlahan, pembicaraan itu sampai pada hal yang selama ini menjadi inti dari segalanya, hal yang menyeret Fauzan ke gerbang pondok ini, hal yang menjadi beban di pundaknya sejak hari pertama: nazar itu.
"Sahal," kata Kiai pelan, memandang lelaki tua yang duduk membungkuk penuh hormat di hadapannya. "Saya ingin bicara soal nazar sampeyan. Soal Fauzan."
Pak Sahal mengangkat wajah, gugup. "Nggih, Kiai. Kalau Fauzan kurang baik hafalannya, kalau dia mengecewakan, saya mohon maaf. Saya yang salah, bukan dia. Saya yang..."
"Bukan itu," potong Kiai lembut. "Fauzan tidak mengecewakan siapa-siapa. Justru sebaliknya." Ia berhenti, menarik napas yang terdengar berat, lalu melanjutkan. "Saya ingin sampeyan, dan terutama Fauzan, mendengar ini langsung dari mulut saya, supaya tidak ada lagi salah paham yang dibawa-bawa."
Fauzan, yang duduk di samping ayahnya, menegakkan badan. Ada sesuatu dalam nada Kiai yang membuat dadanya berdebar.
"Sahal," kata Kiai, "sampeyan masih ingat dulu, waktu usaha sampeyan hampir habis, waktu sampeyan datang ke saya?"
"Ingat sekali, Kiai. Mana mungkin saya lupa. Kiai yang menolong saya. Kiai yang..."
"Saya menolong sampeyan," potong Kiai lagi, "karena saya melihat orang yang sedang susah, dan saya kebetulan punya yang bisa dibagi. Itu saja. Saya tidak pernah, sekali pun, meminta balasan. Tidak pernah meminta sampeyan bernazar apa-apa. Tidak pernah menyuruh sampeyan mengirim anak sampeyan ke sini untuk menghafal tiga puluh juz. Itu semua," Kiai menatap Pak Sahal dengan lembut tapi tegas, "datang dari sampeyan sendiri."
Ruangan menjadi hening. Fauzan menoleh ke ayahnya, dan ia melihat wajah lelaki tua itu memerah, lalu pucat, lalu kepalanya tertunduk dalam-dalam.
"Nazar itu," lanjut Kiai, suaranya melunak, "lahir dari hati sampeyan yang baik, Sahal. Saya tahu itu. Tapi juga lahir dari sesuatu yang lain. Dari rasa tidak enak sampeyan menerima pertolongan tanpa membalas. Dari harga diri sampeyan yang terlalu besar untuk berkata 'terima kasih' lalu sudah. Sampeyan merasa harus membayar. Merasa berutang. Dan karena sampeyan tidak punya harta untuk membayar, sampeyan mempersembahkan satu-satunya yang sampeyan punya: anak sampeyan, dan janji yang berat."
Pak Sahal tidak menjawab. Bahunya bergetar.
Fauzan duduk membeku. Selama berbulan-bulan ini, ia memikul nazar itu seperti memikul rantai. Ia membayangkan Kiai sebagai penagih yang akan menuntut pembayaran, membayangkan ayahnya terikat janji yang tak bisa ditawar, membayangkan dirinya sebagai korban dari sebuah kesepakatan kejam antara dua orang dewasa. Ia menyimpan dendam halus pada ayahnya yang "menjual" masa depannya demi nazar.
Tapi sekarang, mendengar kebenaran dari mulut Kiai sendiri, gambaran itu runtuh. Tidak ada penagih. Tidak ada kesepakatan kejam. Yang ada hanyalah seorang ayah miskin yang tak tahan menanggung utang budi, yang harga dirinya tak mengizinkannya menerima kebaikan begitu saja, yang dari rasa malu dan rasa terima kasih yang bercampur aduk mempersembahkan satu-satunya hal berharga yang ia punya: anaknya.
Beban yang ia pikul, sadar Fauzan, lahir bukan dari kekejaman siapa pun. Lahir dari cinta yang canggung dan harga diri yang keras kepala. Lahir dari kemiskinan yang membuat seorang ayah merasa ia tak punya apa-apa untuk diberikan kecuali masa depan anaknya. Dan itu, anehnya, jauh lebih menyakitkan untuk dimengerti daripada kekejaman. Karena kekejaman bisa dibenci. Tapi cinta yang salah jalan, cinta yang melukai tanpa bermaksud, hanya bisa dimaafkan.
Kiai menatap Fauzan, seakan membaca apa yang berkecamuk di kepala anak itu. "Saya ceritakan ini, Nak," katanya pelan, "bukan untuk mempermalukan ayahmu. Tapi supaya kamu tahu, beban yang kamu pikul ini tidak pernah dibuat untuk menghancurkanmu. Dibuat oleh tangan yang mencintaimu, walau dengan cara yang keliru. Itu bedanya. Dan itu yang harus kamu bawa pulang dari ruangan ini."