Pak Sahal datang ke pondok pada suatu pagi di musim yang mulai kering, naik bus dari kota lalu ojek dari pertigaan, membawa sebungkus oleh-oleh peyek kacang yang dibungkus koran dan tas kresek berisi pakaian ganti seadanya. Ia berdiri di gerbang Darul Hidayah dengan canggung, lelaki tua kurus dengan kopiah lusuh dan sandal yang solnya, ironisnya, mulai menganga. Dan ia berdiri di tempat yang sama, di gerbang yang sama, tempat ia dulu meninggalkan anaknya dengan satu tas dan sepasang sandal jepit.
Fauzan dipanggil dari sudut reparasi, tangannya masih berbau lem, dan ketika ia melihat ayahnya berdiri di gerbang itu, langkahnya melambat. Ada banyak hal yang melintas di dadanya sekaligus. Rindu, ya. Tapi juga sisa dari dendam halus yang sudah lama ia pendam, yang sudah jauh berkurang tapi belum benar-benar hilang. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang baru: rasa iba. Karena ayahnya, di bawah sinar matahari pagi itu, terlihat begitu jauh lebih tua dari yang ia ingat. Lebih kurus. Lebih bungkuk. Seperti pondok yang menua, seperti Kiai yang menua, seperti semua yang menanggung terlalu lama.
"Pak," kata Fauzan, dan suaranya tersangkut.
Pak Sahal memandang anaknya, dan matanya yang sudah keruh oleh usia berkaca-kaca. "Le," katanya. Hanya itu. Lalu ia memperhatikan anaknya dari ujung kepala sampai kaki, seakan mencari-cari sesuatu, dan sebuah senyum kecil merekah di wajahnya yang berkerut. "Kamu... kamu kelihatan lebih gede, Le. Lebih... apa ya. Lebih tegak."
Mereka duduk di bawah pohon di halaman pondok, di bangku semen yang biasa dipakai santri menghafal. Pak Sahal membuka bungkusan peyeknya dan menyodorkannya ke anaknya, dan Fauzan mengambil sepotong, memakannya, dan rasanya membawa pulang seluruh kampung, seluruh masa kecil, seluruh sore di emperan rumah ketika ibunya masih sehat dan menggoreng peyek di dapur yang penuh asap.
"Ibumu sudah pulang dari rumah sakit, Le," kata Pak Sahal, dan suaranya menghangat. "Sudah di rumah. Masih lemah, masih harus jaga-jaga, tapi sudah bisa duduk, sudah bisa makan sendiri. Kemarin malah sudah mulai mau ke dapur, walau aku larang. Dokter bilang operasinya berhasil. Paru-parunya membaik." Ia berhenti, menggosok matanya dengan punggung tangan. "Dia titip salam. Dia... dia bangga sama kamu, Le. Bangga sekali. Katanya anaknya sudah hafal juz tiga puluh. Anak tukang sol sepatu, hafal Qur'an."
Fauzan menunduk, memandang potongan peyek di tangannya. Di dadanya ada sesuatu yang berdesir, sesuatu yang ingin keluar, sesuatu yang sudah lama ia simpan. Ayahnya bangga karena ia menghafal. Ayahnya mengira biaya operasi itu dari beasiswa, dari donatur, dari tangan-tangan baik yang entah dari mana. Ayahnya tidak tahu bahwa separuh dari uang yang menyelamatkan istrinya itu datang dari keringat anaknya sendiri, dari tangan kecil yang membungkuk menyol sepatu di sudut pasar, melanggar aturan, mencuri jam tidur, persis seperti ayahnya membungkuk di emperan pasar bertahun-tahun.
Ia ingin mengatakannya. Sungguh ingin. Tapi ketika ia membuka mulut, ia teringat harga diri ayahnya, lelaki yang lebih memilih menanggung sendiri daripada berutang budi, lelaki yang nazar tiga puluh juznya sendiri lahir dari ketidakmampuannya menerima pertolongan dengan ikhlas. Bagaimana ayahnya akan merasa, kalau tahu anaknya yang masih kecil-lah yang menanggung beban keluarga? Bukankah itu akan menghancurkan sesuatu di dalam diri ayahnya?
Maka untuk saat itu, sekali lagi, Fauzan menelan kata-katanya. "Alhamdulillah, Pak," katanya pelan. "Alhamdulillah Ibu sehat."
Pak Sahal mengangguk-angguk, lalu pandangannya beralih ke arah sudut belakang koperasi, tempat samar-samar terdengar bunyi palu dan tampak beberapa santri membungkuk di atas meja kerja. "Itu apa, Le? Kok kayak... kayak orang menyol sepatu."
Fauzan terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk menjawab setengah jujur. "Itu... unit reparasi sepatu pondok, Pak. Baru dibuka. Santri-santri yang nggak punya biaya, diajari menyol biar bisa cari uang halal."
Mata Pak Sahal menyipit, memandang sudut itu dengan penuh perhatian, dan sesuatu yang aneh melintas di wajahnya, semacam keterkejutan, semacam pengenalan. "Siapa yang ajari mereka?"
Fauzan tidak menjawab. Tapi diamnya, dan rona yang naik ke pipinya, dan bau lem yang masih melekat di jari-jarinya yang kini ayahnya perhatikan untuk pertama kali, sudah cukup menjadi jawaban. Pak Sahal memandang tangan anaknya, tangan yang penuh bekas tusukan jarum dan noda lem yang tak bisa hilang, tangan tukang sol, tangannya sendiri yang menurun ke anaknya, dan untuk waktu yang lama lelaki tua itu tidak berkata apa-apa. Hanya memandang. Dan di matanya yang keruh, sesuatu mulai mengerti.