Unit reparasi sepatu itu dimulai dari hal yang sederhana: sebuah sudut di belakang koperasi yang dulu jadi gudang barang tak terpakai, dibersihkan, diberi meja kayu panjang dan beberapa bangku. Fauzan membawa alat-alatnya, sebagian warisan ayah yang nyaris ia jual dulu, sebagian dibeli baru dengan modal dari pondok. Paku-paku kecil, palu sepatu, jarum sol yang melengkung, gulungan benang nilon, lem khusus, pisau cutter, dan landasan besi tempat menempa sol. Bau lem dan kulit mulai mengisi sudut itu, bau yang bagi Fauzan adalah bau rumah, bau ayahnya, bau masa kecilnya di emperan pasar.
Komar adalah murid pertamanya. Tentu saja Komar. Anak penarik becak itu duduk di hadapan Fauzan dengan sepasang sepatu rusak di tangan, mengernyit menahan tawa. "Aku, Zan? Jadi tukang sepatu? Bapakku narik becak, masa anaknya tukang sol."
"Memangnya kenapa," balas Fauzan, menyodorkan jarum sol padanya. "Bapakku tukang sol, dan aku bisa jadi penghafal Qur'an juga. Nggak ada pekerjaan halal yang nista, Mar. Yang nista itu nganggur sambil ngeluh."
Komar tertawa dan menerima jarum itu. Dan Fauzan mulai mengajar.
Ia ternyata adalah guru yang baik, jauh lebih sabar daripada yang ia kira ia bisa. Mungkin karena ia ingat betapa frustrasinya dulu ketika ia tak bisa apa-apa di kelas hafalan, betapa ia ingin ada seseorang yang mengajarinya pelan-pelan tanpa membuatnya merasa bodoh. Maka ia mengajari Komar dan beberapa santri miskin lain dengan cara yang sama: pelan, tanpa menertawakan, mengulang sebanyak yang dibutuhkan. Cara memegang jarum agar tidak menusuk jari. Cara menjahit sol agar rapat dan kuat. Cara membaca jenis kerusakan dan menentukan harga perbaikan. Cara mengelem agar tidak meleber. Cara menambal yang jebol tanpa terlihat tambalannya.
"Pelan, Mar," katanya ketika Komar terburu-buru dan jahitannya berantakan. "Sepatu nggak bisa diburu-buru. Kayak hafalan. Kalau diburu, malah ambyar. Satu-satu, rapi, sampai jadi."
Komar mendongak. "Kamu jadi mirip Kang Soleh, Zan. Ngajar pakai perumpamaan."
Fauzan tertegun, lalu tersenyum. Ia tak menyadarinya, tapi memang benar. Tanpa sengaja ia telah menjadi seperti orang-orang yang dulu mengajarinya, mengaitkan satu hal pada hal lain, membuat yang sulit terasa mungkin.
Dalam beberapa pekan, sudut belakang koperasi itu hidup. Lima, lalu tujuh, lalu sepuluh santri belajar menyol di sela-sela jadwal hafalan mereka. Bukan menggantikan hafalan, melainkan mengisi waktu yang dulu mereka habiskan untuk melamun atau mengeluh tentang uang yang tak ada. Orang-orang kampung mulai datang, membawa sepatu sekolah anak yang jebol, sandal yang putus, sepatu kerja yang solnya menganga. Kabar tersebar bahwa di pondok ada tempat reparasi sepatu yang murah dan rapi, dikerjakan santri.
Dan ada sesuatu yang lebih dalam terjadi, sesuatu yang melampaui uang. Santri-santri miskin yang dulu datang ke pondok dengan rasa rendah diri, yang merasa diri mereka hanya numpang hidup dari belas kasihan beasiswa, kini mulai merasakan sesuatu yang baru di dada mereka: harga diri. Mereka menghasilkan. Mereka mengirim uang pulang ke kampung dengan keringat sendiri, bukan dengan menyelinap dan berbohong seperti Fauzan dulu, tapi dengan terang dan halal. Mereka belajar bahwa mereka bukan beban, melainkan orang yang berguna.
Suatu sore, ketika Fauzan sedang mengajari seorang santri kecil cara mengganti hak sepatu yang miring, ia berhenti sejenak dan memandang ke seluruh sudut itu. Bunyi palu beradu dengan landasan, bunyi jarum menembus sol, gumaman santri yang mengulang-ulang langkah, dan di antaranya, sayup-sayup, ada yang menggumam hafalan sambil tangannya bekerja, ayat dan lem berpadu, persis seperti igauan demamnya dulu. Tapi sekarang itu bukan igauan kalut. Itu harmoni.
Fauzan teringat dirinya sendiri di hari pertama. Anak yang ditertawakan karena bodoh, yang merasa tak punya tempat di pondok ini, yang mengira ia hanya numpang di antara orang-orang yang lebih pintar dan lebih saleh. Anak yang menghitung hari-harinya sebagai hukuman.
Kini ia berdiri di tengah sudut yang ia ciptakan sendiri, mengajar, menularkan keterampilan yang dulu ia anggap aib, menahan orang-orang lain agar tidak jatuh persis seperti dirinya dulu ditahan. Untuk pertama kali sejak ia menginjak gerbang Darul Hidayah, ia tidak merasa numpang. Ia merasa berakar. Pondok ini, yang dulu terasa seperti penjara tempat ayahnya membuangnya, perlahan, tanpa ia sadari kapan persisnya, telah menjadi sesuatu yang lain. Telah menjadi tempat yang ia jaga. Telah, hampir-hampir, menjadi rumah.