Rapat pengurus diadakan di ruang tengah ndalem, di hadapan beberapa ustaz senior, Pak Kasdi, dan—mengejutkan Fauzan—Kiai sendiri, yang memaksakan diri hadir meski terlihat lelah, duduk bersandar di kursi dengan selimut tipis menutupi kaki. Fauzan berdiri di hadapan mereka dengan buku catatan di tangan dan jantung berdebar. Di antara para ustaz itu duduk pula Ustaz Farid, yang dulu menegurnya keras karena hafalannya mandek, yang dulu mengancam mencabut jadwal kerjanya. Tatapan Ustaz Farid datar, menunggu.
Fauzan menelan ludah, membuka catatannya, dan mulai bicara.
Ia tidak berbicara seperti seorang santri yang menghafal. Ia tidak fasih, tidak tertata indah, tidak penuh dalil. Ia bicara seperti seorang tukang yang tahu barangnya, seperti anak pasar yang tahu harga, seperti orang yang tangannya sudah ribuan kali memperbaiki yang rusak. Ia menjelaskan bahwa di kecamatan ini, di desa-desa sekeliling pondok, orang-orang membeli sepatu murah yang cepat rusak, lalu membuangnya begitu jebol, padahal sebagian besar masih bisa diperbaiki dengan biaya jauh lebih kecil daripada membeli baru.
"Pondok kita punya yang nggak dipunya tukang sepatu di pasar," katanya, suaranya makin mantap seiring ia bicara tentang hal yang benar-benar ia kuasai. "Kita punya banyak tangan. Santri-santri yang sekarang cuma jaga koperasi sambil ngantuk, sebenarnya bisa diajari menyol, menjahit, ganti sol, ganti hak. Saya bisa ajari. Bukan susah, asal telaten. Kita buka unit reparasi sepatu di koperasi. Orang kampung bawa sepatu rusak ke sini, kita perbaiki, mereka bayar murah, kita dapat untung. Santri yang miskin dapat penghasilan halal, nggak perlu lagi menyelinap keluar pondok kayak..."
Ia berhenti sejenak, lalu menyelesaikannya dengan jujur, "kayak yang dulu saya lakukan."
Ruangan hening. Beberapa ustaz saling pandang. Fauzan tahu apa yang ada di kepala mereka: bahwa menyol sepatu adalah pekerjaan rendah, pekerjaan kasar, tak pantas bagi santri penghafal Al-Qur'an. Ia sudah menduga keberatan itu, dan ia sudah menyiapkan jawabannya.
"Saya tahu mungkin ada yang merasa ini pekerjaan rendah," katanya pelan, memandang ke bawah lalu kembali mengangkat wajah. "Tapi Bapak-bapak, ayah saya tukang sol sepatu. Seumur hidupnya membungkuk di emperan pasar, memperbaiki sandal orang, sepatu orang. Dari tangan itulah saya makan, sekolah, sampai bisa ke sini. Dari tangan itulah, separuh biaya operasi ibu saya terbayar. Saya nggak pernah malu lagi sama tangan ini, Pak. Tangan ini yang dipakai untuk hal yang baik, sama mulianya dengan lidah yang dipakai mengaji."
Ustaz Farid, yang sejak tadi diam, kini menegakkan badan. Fauzan menahan napas, menunggu teguran. Tapi yang keluar dari mulut ustaz itu mengejutkannya.
"Berapa modal awal yang dibutuhkan?" tanya Ustaz Farid. "Dan berapa lama balik modalnya?"
Fauzan tergeragap sejenak, lalu membuka halaman lain di buku catatannya. "Modal alat dan bahan, sekitar segini, Pak. Tapi sebagian alat sudah saya punya, warisan ayah saya, bisa dipakai dulu. Balik modal, kalau ramai, tiga sampai empat bulan. Kalau sepi, paling lama setahun. Tapi setelah itu, untungnya jalan terus."
Ustaz Farid mengangguk pelan, mempelajari angka-angka itu dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Dulu ia memandang Fauzan sebagai anak yang lemah hafalan, beban yang harus ia awasi agar tidak mengabaikan setoran. Sekarang ia memandang anak ini dan melihat sesuatu yang lain: kecerdasan praktis, ketelitian, keberanian berdiri di hadapan para ustaz dan mempertahankan idenya. Sesuatu yang, ia akui dalam hati, tak dimiliki banyak santri yang fasih mengaji.
Dan kemudian Kiai berbicara, suaranya serak tapi jernih, dan seluruh ruangan diam mendengarkan.
"Anak ini," kata Kiai pelan, memandang Fauzan dengan mata yang lelah tapi tajam, "dulu datang ke sini membawa beban yang bukan bebannya. Nazar ayahnya. Dan kita semua sibuk menghitung apakah ia layak, apakah ia bisa mengejar angka. Kita lupa bertanya apa yang ia bawa di tangannya." Ia terbatuk sebentar, lalu melanjutkan. "Allah memberi setiap orang ladangnya masing-masing. Ada yang ladangnya lidah, ada yang ladangnya tangan. Yang penting bukan ladangnya apa, tapi apakah ia mengolahnya dengan jujur." Ia menatap para ustaz. "Saya setuju. Jalankan. Bantu anak ini."
Fauzan berdiri di sana, di hadapan para gurunya, dengan buku catatan lecek di tangan dan air yang menggenang di matanya yang ia tahan supaya tidak jatuh. Keahlian yang dulu ia kira aib, yang dulu membuatnya merasa bodoh dan rendah, hari ini menjadi hal yang menyelamatkan. Dan untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang dengan dendam di dada, ia merasa bahwa ia, dengan segala dirinya yang utuh, dengan ayat di lidahnya dan lem di jarinya, punya tempat di sini.