Pertanyaan Fauzan pada Pak Kasdi sore itu ternyata membuka pintu pada kenyataan yang lebih besar dan lebih pahit dari yang ia kira. Selama ini ia mengira kesulitan keuangan hanya miliknya, hanya milik keluarganya yang miskin di pesisir. Ia tak pernah benar-benar berpikir bahwa pondok yang menampungnya, pondok yang ia kira berdiri kokoh dan tak tergoyahkan, ternyata sedang berdiri di atas tanah yang sama goyahnya.
Kabar itu menyebar pelan-pelan, dari bisik-bisik di asrama sampai ke pengumuman setengah-resmi di rapat pengurus yang bocor ke telinga santri. Donatur tetap pondok berkurang. Beberapa yang dulu rutin menyumbang kini sendiri sedang susah, atau sudah wafat, atau anak-anaknya tak meneruskan kebiasaan orang tua. Dana yayasan menipis. Dan yang paling mengkhawatirkan: ada wacana bahwa sebagian santri penerima beasiswa penuh, santri-santri miskin yang persis seperti Fauzan, mungkin harus dipulangkan karena pondok tak lagi sanggup menanggung biaya makan dan tempat mereka semua.
Fauzan mendengar kabar itu dan dadanya mencelos. Ia memandang Komar, yang juga penerima beasiswa, anak penarik becak yang bapaknya baru saja kecelakaan. Ia memandang santri-santri lain yang ia kenal, yang datang dari kampung-kampung jauh dengan tas seadanya dan harapan yang mereka gantungkan seluruhnya pada pondok ini. Kursinya bukan satu-satunya yang goyah. Mereka semua goyah, bersama-sama.
"Kalau aku dipulangkan," kata Komar suatu malam, suaranya pelan di kegelapan kamar tujuh, "Bapak mau gimana. Sudah nggak bisa narik becak, eh anaknya pulang nggak bawa apa-apa." Ia mencoba tertawa, tapi tawanya getir.
Fauzan tidak menjawab langsung. Ia berbaring memandang langit-langit, dan untuk pertama kali sejak ia datang ke pondok ini, ia memikirkan masalah yang bukan masalahnya sendiri. Selama berbulan-bulan dunianya hanya sebesar dua hal: hafalan dan biaya berobat Ibu. Tapi sekarang, dengan Ibu yang sudah melewati masa kritis, dengan beban itu sedikit terangkat dari pundaknya, ia mulai bisa melihat ke luar, melihat orang-orang lain yang menanggung beban yang sama beratnya.
Dan ia menyadari sesuatu. Ia, Fauzan, anak tukang sol sepatu yang tergagap membaca An-Naas di hari pertamanya, yang ditertawakan karena bodoh menghadapi hafalan, ternyata punya sesuatu yang tak dimiliki para ustaz dan pengurus pondok yang pintar mengaji itu. Ia tahu cara membaca harga. Ia tahu cara membuat barang rusak menjadi berguna lagi. Ia tahu cara menghitung untung-rugi, cara membaca jangka ukur dan kebutuhan pasar. Keahlian yang dulu membuatnya merasa bodoh di kelas hafalan, keahlian yang dulu ia sembunyikan seperti aib, justru adalah keahlian yang paling dibutuhkan pondok sekarang.
Keesokan harinya ia datang ke Pak Kasdi lagi, kali ini bukan dengan pertanyaan, tapi dengan buku catatan dan sederet angka.
"Pak," katanya, membuka catatannya, "saya sudah hitung-hitung. Koperasi kita ini sebenarnya rugi terus, bukan karena nggak ada yang beli, tapi karena pengelolaannya bocor di mana-mana. Stok nggak dicatat, barang hilang nggak ketahuan, harga jual kadang malah di bawah modal. Kalau ini dibenahi, koperasi bukan cuma bisa hidup, tapi bisa kasih untung buat pondok."
Pak Kasdi memandang angka-angka itu, lalu memandang Fauzan, lalu angka-angka itu lagi. Ia sudah puluhan tahun mengurus koperasi ini setengah hati, sebagai tugas tambahan, tanpa pernah benar-benar memahaminya sebagai sebuah usaha. Dan sekarang anak lima belas tahun ini, dengan pensil dan buku catatan lecek, menunjukkan padanya hal-hal yang luput selama bertahun-tahun.
"Kamu yakin bisa benahi ini, Le?"
"Saya nggak yakin bisa benahi sendiri, Pak," jawab Fauzan jujur, dan kalimat itu sendiri adalah tanda betapa jauh ia telah berubah, betapa jauh ia telah belajar bahwa tak ada yang menanggung sendiri. "Tapi kalau dibantu, kalau pengurus mau dengar, saya yakin bisa. Saya butuh izin buka pembukuan, butuh izin atur ulang stok. Dan saya butuh izin Kiai."
Pak Kasdi menggosok dagunya yang berjenggot tipis, lalu mengangguk pelan. Ada sesuatu yang menyala di matanya, sesuatu seperti harapan yang sudah lama tak ia rasakan. "Aku bawa ini ke rapat pengurus," katanya. "Tapi kamu yang jelasin. Kamu yang punya angkanya. Berani?"
Fauzan menelan ludah. Berdiri di depan para ustaz, menjelaskan, mempertaruhkan diri, adalah hal yang dulu mustahil ia bayangkan. Tapi ia teringat wajah Komar yang ketakutan dipulangkan, teringat batuk Kiai di balik pagar, teringat banyak tangan yang dulu menahannya agar tidak jatuh. Sekarang gilirannya menahan yang lain.
"Berani, Pak," katanya.