Butuh hampir sepekan sebelum Fauzan benar-benar pulih dan diizinkan kembali ke jadwal biasanya. Tubuhnya masih mudah lelah, tapi kepalanya sudah jernih, dan ia bersyukur bisa kembali memegang sepatu dan membuka mushaf tanpa dunia berputar. Tapi ketika ia mulai kembali berjalan-jalan di kompleks pondok, ada sesuatu yang ia perhatikan, sesuatu yang dulu terlalu sibuk ia abaikan ketika dirinya sendiri tenggelam dalam kemelut.
Kiai sudah lama tidak memimpin pengajian rutin.
Fauzan menyadarinya pelan-pelan. Dulu, di awal-awal ia datang ke pondok, suara Kiai mengaji kitab di surau besar adalah bagian dari irama hari. Suara itu tegas, jernih, mengisi ruang sampai ke sudut-sudut. Para santri duduk berderet di hadapannya, mendengarkan. Tapi sekarang, makin sering, yang memimpin adalah putra Kiai atau salah satu ustaz senior, dan ketika ditanya, jawabannya selalu sama: Kiai sedang kurang sehat, sedang istirahat.
Suatu sore Fauzan kebetulan melintas di dekat ndalem ketika mengantar setrukan koperasi, dan ia mendengarnya. Batuk. Panjang, dalam, menggali, batuk yang seperti mau merobek dada dari dalam. Ia berhenti di balik pagar tanaman, tak sengaja menyaksikan ketika seorang ustaz membantu Kiai berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, langkah Kiai yang dulu tegap kini pelan dan ragu, tangannya bersandar ke lengan ustaz itu.
Fauzan terpaku. Sosok yang ia lihat di balik pagar itu bukan lagi sosok berwibawa yang dulu membuatnya gemetar ketika dipanggil ke ndalem, sosok yang ia kira penagih nazar yang akan memulangkannya dan mempermalukan ayahnya. Yang ia lihat sekarang adalah seorang lelaki tua yang kurus, yang sarungnya tampak terlalu longgar di pinggangnya yang menyusut, yang punggungnya mulai membungkuk, yang batuknya terdengar seperti sesuatu yang tak bisa lagi ia sembuhkan.
Malam itu Fauzan tak bisa berhenti memikirkannya. Ia ingat bagaimana Kiai, di tengah kesusahannya sendiri, di tengah pondok yang sedang seret dananya, masih menyempatkan diri menghubungi donatur-donatur lama demi pengobatan ibunya. Ia ingat bagaimana Kiai pernah memberinya uang dari kantongnya sendiri agar ia bisa pulang menjenguk Ibu. Ia ingat bagaimana Kiai menengahi ketika ia terlalu gengsi menerima bantuan Burhan, dengan kalimat yang masih ia ingat sampai sekarang, soal menerima pertolongan dengan ikhlas sebagai bentuk kerendahan hati.
Selama ini orang ini menanggung. Bukan hanya beban Fauzan, tapi beban seluruh pondok, beban ratusan santri, beban yayasan yang seret, beban donatur yang berkurang. Ia menanggung semuanya dengan tubuh yang ternyata juga renta, juga rapuh, juga punya batas seperti tubuh Fauzan sendiri yang baru saja runtuh karena terlalu lama menanggung.
Keesokan harinya, ketika Fauzan mengantarkan sepasang sandal kulit yang baru selesai ia jahit ulang ke koperasi, ia bertanya pada Pak Kasdi soal Kiai. Pak Kasdi, yang sudah puluhan tahun di pondok ini, menghela napas panjang dan meletakkan cangkir kopinya.
"Kiai itu sudah lama nggak enak badan, Le," katanya pelan. "Tapi beliau nggak mau mengeluh. Tahu sendiri orangnya. Pondok susah, beliau lebih susah lagi, tapi nggak pernah keluar dari mulutnya. Diurus sendiri semuanya. Mikir santri, mikir gaji ustaz, mikir dapur. Badannya yang nanggung."
"Beliau berobat, Pak?"
Pak Kasdi diam sebentar. "Berobat. Tapi tahu sendiri, biaya. Beliau ini malah lebih suka uangnya buat pondok daripada buat dirinya sendiri. Berkali-kali ditawari periksa ke kota yang bagus, beliau bilang, nanti saja, ada yang lebih perlu."
Fauzan menunduk, memandang tangannya sendiri, tangan tukang sol yang penuh bekas lem dan tusukan jarum. Dulu ia melihat Kiai sebagai dinding, sebagai aturan, sebagai sosok yang memegang nasibnya. Sekarang ia melihat seorang manusia, manusia yang persis seperti ayahnya sendiri, persis seperti Pak Sahal yang lebih memilih menanggung sendiri daripada berutang budi, lebih memilih memberi daripada meminta, lebih memilih membungkuk daripada mengeluh.
Dan sesuatu yang baru tumbuh di dadanya. Bukan lagi takut. Bukan lagi hormat yang berjarak. Tapi sesuatu yang lebih hangat dan lebih perih sekaligus, sesuatu seperti yang ia rasakan pada ayahnya: keinginan untuk menjaga. Keinginan untuk, sekali ini saja, menjadi tangan yang menahan, bukan tangan yang ditahan.
"Pak," kata Fauzan tiba-tiba, mengangkat wajah. "Koperasi ini... kita bisa bikin jadi lebih besar nggak? Biar bisa bantu pondok. Biar Kiai nggak nanggung semuanya sendiri."
Pak Kasdi menatapnya, sedikit terkejut, lalu sudut bibirnya terangkat. "Itu," katanya, "baru namanya santri yang mulai mengerti."