Fauzan dibawa ke ruang kesehatan pondok, sebuah kamar kecil di samping kantor pengurus dengan dua dipan besi, lemari obat sederhana, dan jendela yang menghadap kebun singkong. Ustaz yang mengurus kesehatan santri menempelkan punggung tangan ke keningnya, mengukur dengan termometer kaca yang lama, lalu menggeleng pelan. Demamnya tinggi sekali.
Selama dua hari pertama Fauzan lebih banyak tidak sadar daripada sadar. Ia mengambang di antara dua dunia. Kadang ia merasa dingin sampai gigi gemeletuk dan minta selimut tambahan; sebentar kemudian ia membuang semua selimut karena merasa dibakar. Keringatnya membasahi sprei. Komar bolak-balik membawa kompres, memeras lap di baskom air, menempelkannya ke kening sahabatnya itu dengan ketelatenan yang tak ia sangka ia punya.
Dan Fauzan mengigau.
Di tengah demamnya, kata-kata keluar dari mulutnya tanpa kendali, dan yang keluar adalah dua hal yang selama berbulan-bulan saling berebut di kepalanya. "Sa-ba-'a samaawaat," gumamnya, lidahnya berat, mengulang potongan ayat yang baru ia hafal. Lalu, tanpa jeda, "Nomor empat puluh dua... haknya tiga ribu... lemnya kurang..." Ukuran sepatu dan ayat suci, harga reparasi dan surat-surat pendek, semuanya berbaur dalam igauan satu anak yang terlalu lama menanggung dua kehidupan sekaligus.
Komar mendengarkan igauan itu dan dadanya terasa diremas. Ia tahu, mungkin lebih dari siapa pun, betapa beratnya beban yang dipikul Fauzan. Tapi mendengarnya keluar begitu, mentah dan tak tertutup, dari mulut sahabat yang sedang tak berdaya, membuat Komar mengerti betapa dalam luka itu menancap, betapa keras Fauzan memaksa dirinya sendiri selama ini.
Malam kedua, Burhan datang. Ia berdiri canggung di ambang pintu untuk waktu yang lama, seakan ruang kesehatan adalah tempat yang asing baginya, sebelum akhirnya masuk dan duduk di bangku di samping dipan. Komar yang sudah dua hari hampir tak tidur memandangnya dengan mata bengkak.
"Kamu istirahat, Mar," kata Burhan, suaranya rendah. "Aku jaga."
Komar ragu. "Kamu nggak biasa, Han."
"Aku bisa belajar." Burhan mengambil lap dari baskom, memerasnya dengan canggung, terlalu kering, lalu mencelupnya lagi. "Sana tidur. Besok gantian."
Maka Burhan duduk di sana sepanjang malam, anak juragan yang dulu mengancam akan melapor, yang dulu menyebut Fauzan penjilat, yang dulu memandang anak tukang sol sepatu itu dengan sebelah mata. Ia mengganti kompres setiap kali kering, ia membenarkan selimut setiap kali Fauzan menendangnya, ia memberi minum sesendok demi sesendok ketika Fauzan setengah sadar. Dan ketika menjelang dini hari Fauzan mengigau lagi, kali ini memanggil-manggil ibunya dengan suara seorang anak kecil yang ketakutan, Burhan menggenggam tangan sahabatnya itu dan berkata, pelan, hampir berbisik, "Ibumu selamat, Zan. Selamat. Sudah, tidur."
Fauzan baru benar-benar sadar di pagi hari ketiga. Ia membuka mata pada langit-langit yang asing, pada cahaya pucat yang masuk dari jendela kebun singkong, dan butuh beberapa saat sebelum ia mengerti ia ada di mana. Kepalanya masih berat, tapi dunia tidak lagi berputar. Demamnya, kata ustaz kesehatan yang memeriksanya pagi itu, sudah turun.
Yang pertama ia lihat ketika ia memalingkan kepala adalah Burhan, tertidur di bangku dengan kepala bersandar ke dinding dan mulut sedikit terbuka, lap kompres masih tergenggam di tangannya. Di lantai, di atas selembar tikar, Komar meringkuk tidur dengan bantal seadanya. Mereka berdua telah menjaganya bergantian, dua malam penuh, anak juragan dan anak penarik becak, di samping anak tukang sol sepatu.
Fauzan memandang keduanya dan sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama mengeras mulai mencair. Selama ini ia selalu merasa harus menanggung semuanya sendiri. Sejak surat pertama dari kampung, sejak ia menyelinap ke pasar untuk pertama kali, ia memikul sendirian, menyembunyikan sendirian, menahan sendirian. Ia bahkan menolak bantuan Burhan dulu karena gengsi. Ia mengira menanggung sendiri adalah satu-satunya cara menjadi kuat.
Tapi di kamar kecil itu, dengan tubuhnya yang baru saja runtuh karena terlalu lama menanggung sendiri, ia memahami sesuatu yang sederhana. Ia tidak sendirian. Tidak pernah benar-benar sendirian. Komar yang menahannya di malam pertama, Pak Kasdi yang mencegahnya menjual alat warisan, Kang Soleh yang mengajarinya, Kiai yang menengahi, Burhan yang diam-diam menelepon ayahnya, donatur-donatur yang tak ia kenal namanya. Banyak tangan. Selalu ada banyak tangan, menahannya agar tidak jatuh, bahkan ketika ia terlalu keras kepala untuk melihatnya.
Ketika Burhan terbangun dan mendapati Fauzan menatapnya, ia langsung salah tingkah, menegakkan badan, menyembunyikan lap kompres seakan ketahuan melakukan hal memalukan. "Sudah sadar, ya," katanya kaku. "Bagus. Kupikir kamu bakal tidur seminggu."
Fauzan tersenyum lemah. "Makasih, Han."
Burhan mendengus dan memalingkan wajah. "Buat apa? Aku cuma nggak mau dikira nggak peduli sama teman sekamar." Tapi telinganya memerah, dan Fauzan tahu, kini ia tahu, bagaimana membaca anak ini di balik kata-kata kerasnya.