Telepon di pos penjagaan berdering tepat ketika bintang sudah penuh di langit pondok, dan Fauzan tahu, sebelum penjaga itu mengangkat gagangnya, bahwa kali ini untuknya. Ia bisa merasakannya di ujung-ujung jarinya yang dingin, di perutnya yang melilit, di dadanya yang seketika menjadi terlalu sempit untuk udara.
"Fauzan," panggil Pak penjaga, menyodorkan gagang telepon dengan tatapan yang tak bisa ia baca. "Dari kota."
Fauzan berdiri dengan kaki yang hampir tak ia rasakan. Komar bangkit di sampingnya, Burhan menegakkan badan di bangku kayu sebelah. Tangan Fauzan gemetar ketika ia menempelkan gagang itu ke telinga.
"Kak?" suaranya nyaris tak keluar.
Di seberang sana terdengar isak. Untuk satu detik yang panjang Fauzan merasa lantai pos itu runtuh dari bawah kakinya, dan ia sudah hampir menjatuhkan diri ke dinding, sudah hampir berkata pada dirinya sendiri bahwa ia telah datang terlambat, bahwa segala keringat dan kebohongan itu sia-sia. Tapi kemudian Maryam berkata, di antara isaknya, "Selesai, Zan. Operasinya selesai. Ibu... Ibu lewat. Ibu lewat masa kritisnya."
Kaki Fauzan benar-benar lemas sekarang, tapi bukan karena jatuh. "Lewat?" ulangnya, seperti orang bodoh, seperti orang yang lupa arti sebuah kata. "Ibu... Ibu hidup, Kak?"
"Hidup, Zan. Dokter bilang operasinya jalan baik. Paru-parunya... sebagian sudah bersih. Dia masih lemah sekali, masih harus di rumah sakit lama, pemulihannya bakal panjang, tapi dia hidup. Ibu masih sama kita."
Fauzan menempelkan keningnya ke dinding kayu pos yang dingin dan menutup mata. Ia mendengar suara Maryam terus mengalir, menceritakan tentang dokter yang keluar dari ruang operasi, tentang Pak Sahal yang menangis di koridor seperti anak kecil, tentang oksigen yang masih dipasang tapi napas Ibu yang kini lebih teratur. Ia mendengar semua itu, tapi semuanya seperti datang dari jauh, dari balik air, sementara di dalam dadanya sesuatu yang telah ia tahan berbulan-bulan akhirnya melepaskan cengkeramannya.
"Zan? Kamu masih di situ?"
"Masih, Kak," katanya parau. "Bilang ke Ibu... bilang ke Ibu aku khatam juz tiga puluh. Bilang aku bacain buat dia kemarin. Bilang aku nggak berhenti."
"Sudah aku bilang, Zan. Sudah. Waktu dia setengah sadar tadi sore, aku bisikin di kupingnya. Dia... dia senyum, Zan. Dia senyum."
Fauzan tidak menjawab. Ia tidak bisa. Ia hanya berdiri di sana dengan gagang telepon menempel di telinga, menangis tanpa suara, bahunya berguncang, sementara Komar berdiri kaku tak tahu harus berbuat apa dan Burhan memalingkan wajah ke kegelapan supaya tidak terlihat matanya sendiri berkaca.
Mereka menutup telepon. Maryam masih harus menjaga Ibu, masih harus mengurus seribu satu hal di rumah sakit. Fauzan meletakkan gagang itu pelan-pelan, seakan benda itu kaca yang bisa pecah, lalu membalik badan. Komar langsung memeluknya, erat, tanpa kata. "Alhamdulillah, Zan," bisik Komar berkali-kali. "Alhamdulillah."
Burhan tidak memeluknya. Burhan hanya menepuk pundaknya satu kali, keras, dengan caranya yang kaku itu, dan berkata, "Sudah, jangan nangis lagi. Cengeng." Tapi suaranya sendiri tersangkut di tenggorokan, dan Fauzan tahu, di balik kalimat ketus itu, ada lega yang sama besarnya. Karena Burhan-lah, diam-diam, yang ikut menahan keluarga ini agar tidak jatuh.
Malam itu Fauzan tidak bisa tidur, bukan karena cemas lagi, tapi karena dadanya terlalu penuh. Ia berbaring di kasur tipisnya, memandang langit-langit kamar tujuh, mendengar napas teratur Komar dan dengkur halus Burhan, dan untuk pertama kali sejak surat pertama dari Maryam datang berbulan-bulan lalu, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: tidak ada lagi yang harus ia tahan malam ini. Ibu hidup. Tagihan terbayar. Pekerjaan hari ini selesai.
Dan justru karena tidak ada lagi yang harus ia tahan, seluruh tubuhnya, yang selama ini ia paksa berdiri dengan kemauan semata, mulai runtuh.
Ia baru menyadarinya keesokan paginya, ketika ia bangun untuk subuh dan dunia di sekelilingnya berputar. Lantai surau terasa miring. Suara imam terdengar bergema aneh, jauh dan dekat sekaligus. Ia mencoba berdiri untuk rakaat kedua dan hampir terjerembap, ditangkap lengan Komar di saat terakhir.
"Zan, kamu kenapa? Mukamu merah sekali."
Fauzan menempelkan punggung tangannya ke keningnya sendiri, dan bahkan dengan tangan yang juga panas, ia bisa merasakan tubuhnya membara. Berbulan-bulan ia menyol sepatu siang hari, menghafal sepertiga malam, mencuri jam tidur, mengabaikan lapar, menelan cemas. Berbulan-bulan tubuhnya berteriak dan ia menyuruhnya diam. Sekarang, ketika beban itu akhirnya turun dari bahunya, tubuhnya menagih seluruh utang sekaligus.
"Kayaknya aku... " Fauzan tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Lututnya melipat, dan kalau bukan karena Komar dan seorang santri lain yang sigap, ia sudah jatuh ke lantai surau yang dingin. Dunia menyusut menjadi titik, lalu gelap, dan hal terakhir yang ia dengar adalah suara Komar memanggil-manggil namanya, panik, dari tempat yang terasa sangat jauh.