Uang itu, akhirnya, terkumpul. Bukan dari satu sumber, melainkan dari banyak tangan yang menahan agar keluarga Fauzan tidak jatuh — persis seperti yang dulu pernah Komar lakukan padanya, menahannya agar tidak kabur di malam pertama, dan persis seperti yang akan ia pahami sebagai inti dari segalanya kelak.
Sebagian dari hasil keringat Fauzan sendiri, ratusan jam menyol sepatu yang ia tabung sen demi sen. Sebagian besar dari sumbangan ayah Burhan yang masuk lewat rekening pondok tanpa nama. Dan sisanya — yang Fauzan tak duga — dari jaringan donatur pondok yang digerakkan Kiai. Meski pondok sendiri sedang susah, meski dana yayasan seret, Kiai turun tangan menghubungi beberapa wali santri dan dermawan lama, menceritakan kisah Fauzan tanpa berlebihan, hanya apa adanya: seorang anak yang menghafal sambil menyelamatkan ibunya. Dan tangan-tangan itu terbuka, sedikit demi sedikit, sampai angka yang mustahil itu, perlahan, menjadi mungkin.
Maryam menelepon dari rumah sakit kota, suaranya bergetar antara tak percaya dan haru, ketika Fauzan memberitahunya bahwa uang untuk tindakan medis Ibu sudah cukup. "Dari mana, Zan?" tanya Maryam berkali-kali. "Dari mana uang sebanyak itu?"
"Dari banyak orang, Kak," jawab Fauzan, dan suaranya pun bergetar. "Dari banyak tangan. Pokoknya cukup. Operasi Ibu bisa jalan."
Maka tindakan itu dijadwalkan. Dokter paru di rumah sakit kota menjelaskan pada Maryam dan Pak Sahal tentang prosedurnya, risikonya, harapannya. Bukan jaminan kesembuhan — tidak ada yang bisa menjamin itu — tapi kesempatan agar paru Ibu tidak terus memburuk, agar napasnya yang selama ini ditopang oksigen bisa kembali, sedikit demi sedikit, menjadi miliknya sendiri.
Fauzan tidak bisa hadir. Aturan pondok, jadwal hafalan, dan jarak yang jauh menahannya di Darul Hidayah. Untuk pertama kali ia menerima penahanan itu tanpa membenci — bukan karena ia tidak ingin di sana, ia ingin setengah mati, tapi karena ia mengerti sekarang bahwa kehadirannya tak akan mengubah hasil di meja operasi. Yang bisa ia lakukan, dari jauh, hanyalah apa yang selalu bisa ia lakukan: bekerja dan berdoa.
Maka di hari operasi itu, Fauzan menyibukkan tangannya supaya pikirannya tidak meledak. Pagi-pagi ia ke koperasi, menyol sepatu, menata pembukuan, mengerjakan apa pun yang bisa ia kerjakan. Tapi tangannya bergerak sendiri, sementara seluruh dirinya berada di kota, di samping ranjang dorong yang membawa ibunya masuk ke ruang yang dingin dan asing.
Komar menemaninya sepanjang hari, tak banyak bicara, hanya hadir. Burhan, yang kini tak ada lagi jarak di antara mereka, sesekali datang, duduk, menepuk pundak, lalu pergi lagi, dengan caranya yang kaku tapi tulus. Dan ketika waktu zuhur tiba, lalu asar, Fauzan tidak lagi bisa menyol. Ia masuk ke surau, menggelar sajadah di sudut yang sepi, dan untuk pertama kali sejak ia datang ke pondok ini, ia berdoa bukan karena diperintah, bukan karena takut, bukan karena ingin lulus evaluasi.
Ia berdoa dengan seluruh dadanya, dengan tangan terangkat dan kepala tertunduk, untuk ibunya. Ia membaca surat-surat yang baru ia khatamkan — juz tiga puluh, dari An-Naba sampai An-Naas — bukan sebagai setoran, bukan sebagai tugas, melainkan sebagai sesuatu yang ia persembahkan, hadiah dari tangan dan lidah seorang anak untuk ibu yang sedang berjuang antara hidup dan tidak, jauh di sana. Dan untuk pertama kali, Fauzan mengerti samar-samar apa yang Kang Soleh maksudkan: bahwa ayat-ayat ini menemaninya, di saat ia paling tak berdaya, di saat tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain bertahan.
Ia tidak tahu berapa lama ia di sana. Ketika ia mengangkat wajah, langit di luar jendela surau sudah jingga, menjelang magrib. Tubuhnya gemetar, sebagian karena lapar, sebagian karena cemas yang tak tertahankan. Operasi itu, kata dokter, akan memakan waktu beberapa jam, dan kabarnya baru akan datang malam ini, lewat telepon, ke pos penjagaan pondok.
Maka Fauzan menunggu. Ia duduk di dekat telepon umum, menolak makan, menolak tidur, dengan Komar di sampingnya dan Burhan tak jauh darinya. Setiap kali telepon di pos berdering untuk keperluan lain, jantungnya melompat ke tenggorokan, lalu jatuh kembali saat ternyata bukan untuknya. Malam merangkak pelan, dingin turun dari gunung, dan bintang-bintang muncul satu demi satu di atas pondok.
Dan Fauzan duduk di sana, di antara dua sahabatnya, dengan satu-satunya hal yang tersisa di tangannya yang sudah melakukan segala yang bisa ia lakukan: harapan, doa, dan ayat-ayat yang baru ia hafal, berputar pelan di kepalanya seperti tasbih, menahannya agar tidak jatuh sementara ia menunggu kabar yang akan menentukan apakah seluruh perjuangannya — seluruh keringat, kebohongan, dan air mata berbulan-bulan ini — berakhir dengan napas ibunya, atau dengan kehilangan yang tak akan pernah bisa ia bayar dengan uang sebanyak apa pun.