Fauzan mencari Burhan dan menemukannya di belakang asrama, sedang menjemur sarung. Ia berdiri di hadapan temannya itu dengan kertas keterangan transfer terkepal di tangan, dan kata-kata yang ia siapkan — terima kasih yang seharusnya tulus — entah bagaimana keluar jadi sesuatu yang lain.
"Kenapa kamu lakuin ini, Han?" suaranya bergetar, lebih keras dari yang ia mau. "Kenapa kamu minta-minta ke bapakmu buat aku? Aku nggak minta tolong. Aku nggak butuh dikasihani."
Burhan berbalik, kaget, lalu wajahnya mengeras. "Kasihani? Kamu pikir aku ngasihanin kamu?"
"Terus apa namanya? Aku berjuang sendiri, Han. Aku menyol sampai tanganku melepuh. Aku nggak butuh uang yang jatuh dari langit cuma karena bapakmu kaya dan kasihan sama anak tukang sol—"
"Berhenti." Suara Burhan dingin. "Dengerin diri kamu sendiri. Kamu kayak orang gila. Ibumu mau dioperasi, ada uangnya sekarang, dan kamu malah marah?"
Fauzan terdiam, dadanya naik-turun. Karena Burhan benar, dan ia tahu Burhan benar, dan justru itulah yang membuatnya makin marah. Ia tahu kemarahannya tidak masuk akal. Ia tahu ini kabar baik. Tapi ada sesuatu yang lebih tua dari akal sehat di dalam dirinya yang tak bisa menerima — sesuatu yang berkata bahwa menerima pertolongan sebesar ini berarti mengakui ia gagal, ia tak cukup, ia kalah. Sama seperti ayahnya yang lebih memilih menyol sepatu sampai bungkuk daripada meminjam uang ke saudara.
"Aku nggak bisa nerima, Han," katanya pelan, kemarahannya runtuh jadi sesuatu yang lebih menyedihkan. "Aku nggak tahu gimana caranya bayar. Aku nggak mau seumur hidup ngerasa berutang sama kamu, sama bapakmu. Aku nggak bisa."
Burhan menatapnya lama. Lalu, tak terduga, raut wajahnya melembut. "Kamu tahu, Zan, kamu ini persis bapakmu yang kamu ceritain. Yang lebih milih nanggung sendiri sampai hancur daripada nerima tolong." Ia mengambil kembali sarung yang baru saja ia jemur, melipatnya tanpa perlu, hanya untuk punya sesuatu untuk dipegang. "Aku nggak minta kamu bayar. Aku nggak minta apa-apa. Tahu nggak kenapa aku lakuin ini?" Suaranya turun. "Karena kamu satu-satunya orang di pondok ini yang ngeliat aku bukan sebagai anak juragan sombong. Kamu liat aku waktu aku cerita soal bapakku, dan kamu nggak ketawa, nggak ngejek. Kamu cuma bilang luka kita sama sumbernya. Itu... itu pertama kalinya ada yang ngeliat aku, Zan. Beneran ngeliat." Ia menelan ludah. "Ini caraku ngeliat kamu balik. Itu aja. Bukan kasihan. Bukan utang."
Fauzan berdiri membisu, kepalan tangannya melonggar.
Mereka tidak menyelesaikan percakapan itu sore itu — Fauzan pergi dengan hati yang terbelah dua, antara haru dan harga diri yang masih meronta. Tapi kabar pertengkaran kecil itu, entah bagaimana, sampai ke ndalem. Dan malam itu, Fauzan dipanggil menghadap Kiai.
Kiai duduk di serambi ndalem, tampak lebih kurus dari terakhir kali Fauzan melihatnya, sesekali terbatuk, tapi matanya masih tajam dan teduh. Ia menyuruh Fauzan duduk, dan untuk beberapa saat hanya menyeruput teh dalam diam.
"Aku dengar kamu menolak pertolongan, Le," katanya akhirnya.
Fauzan menunduk. "Saya... saya nggak mau berutang budi, Kiai. Saya mau usaha sendiri."
Kiai mengangguk pelan, dan ada senyum tipis yang sedih di bibirnya. "Tahu nggak, Le, kalimat itu pernah aku denger sebelumnya. Bertahun-tahun lalu. Dari bapakmu."
Fauzan mengangkat wajahnya, terkejut.
"Dulu, pas bapakmu hampir bangkrut, aku nawarin tolong. Dia nolak, sama persis kayak kamu sekarang. Gengsi. Harga diri. 'Saya mau usaha sendiri, Kiai.' Sampai akhirnya keadaannya maksa dia nerima. Dan tahu apa yang dia lakuin buat bales? Dia bernazar. Dia begitu nggak tahan nanggung rasa berutang budi, sampai dia masang beban tiga puluh juz di pundak anaknya yang belum lahir waktu itu." Kiai menatap Fauzan lekat-lekat. "Beban yang sekarang kamu pikul. Beban yang bikin kamu sengsara. Kamu ngerti, Le? Nazar yang nyiksa kamu ini lahir dari satu hal: ketidakmampuan bapakmu nerima pertolongan dengan ikhlas."
Kata-kata itu menghantam Fauzan seperti air dingin. Ia tak pernah memandangnya begitu. Bahwa seluruh beban hidupnya bermula dari harga diri ayahnya yang tak sanggup sekadar berkata terima kasih dan menerima. Dan kini ia, Fauzan, sedang mengulang persis pola yang sama.
"Menerima pertolongan dengan ikhlas itu juga ibadah, Le," kata Kiai lembut. "Itu kerendahan hati. Yang sombong bukan cuma yang nolak ngasih. Yang nolak nerima — yang ngerasa dirinya terlalu tinggi buat ditolong — itu juga sombong, cuma bentuknya beda. Temanmu nolong kamu dengan tulus. Terima. Bukan buat dirimu. Buat ibumu. Dan biar kamu nggak mewarisi beban yang sama yang bikin bapakmu masang nazar dulu."
Fauzan menunduk dalam, dan air matanya jatuh ke lantai serambi. Ia mengerti sekarang. Menolak pertolongan bukan kekuatan — itu cara lain dari kesombongan, cara lain dari membebani diri sampai hancur. Dan kalau ia terus begini, ia akan jadi ayahnya, akan menurunkan beban yang sama ke orang lain suatu hari nanti.
"Saya terima, Kiai," bisiknya akhirnya. "Saya akan terima."