Surat itu datang pada hari Selasa, diselipkan di antara tumpukan kiriman wali yang dibagikan pengurus selepas asar. Fauzan mengenali tulisan tangan Maryam sebelum membaca namanya — huruf-huruf yang miring ke kanan, ditulis dengan pena yang tintanya hampir habis sehingga beberapa kata harus ia raba untuk dipastikan. Ia membawanya ke sudut serambi, tempat yang paling jauh dari telinga orang, dan duduk di lantai semen yang masih hangat oleh matahari siang.
Tangannya gemetar saat membuka amplop. Ada firasat yang sudah lama bersarang di dadanya, firasat yang ia coba tepis setiap kali ia menempelkan gagang telepon ke telinga dan mendengar napas ibunya yang berat. Kini firasat itu menemukan bentuknya dalam tinta yang nyaris habis.
"Le," tulis Maryam, "Ibu dibawa ke rumah sakit kota Sabtu kemarin. Napasnya makin sesak, malam-malam nggak bisa tidur, batuknya keluar darah sedikit. Dokter bilang harus dirawat, nggak boleh pulang dulu. Aku nungguin Ibu di sini gantian sama tetangga. Bapak bolak-balik bawa bekal. Aku nggak mau bikin kamu khawatir, Le, tapi aku nggak bisa bohong sama kamu."
Fauzan menurunkan surat itu ke pangkuannya. Ada bunyi tadarus dari surau yang mengalir samar, dan suara anak-anak santri kecil bermain kelereng di halaman, dan semua itu terdengar jauh sekali, seperti dunia lain yang tak menyentuhnya. Ibunya di rumah sakit. Kata-kata itu berputar di kepalanya, kasar dan asing, tidak mau diterima.
Ia membaca paragraf berikutnya, dan tangannya makin dingin.
"Biayanya, Le. Kamar perawatan sehari saja sudah lebih dari upah Bapak sebulan. Belum obatnya, belum infusnya, belum periksa-periksanya. Uang yang kamu kirim kemarin sudah habis buat bayar muka. Aku bingung, Le. Aku pinjam ke Pak Lurah sedikit, ke Bu Inah sedikit. Tapi aku nggak tahu sampai kapan bisa nutup. Bapak nggak mau ngutang lebih, katanya malu. Tapi kalau Ibu nggak dirawat..."
Kalimat itu menggantung, tak diselesaikan. Maryam tak sanggup menuliskan apa yang ada di ujungnya, dan Fauzan tak sanggup membayangkannya. Ia melipat surat itu, lalu membukanya lagi, lalu melipatnya lagi, seakan dengan melipat dan membuka ia bisa mengubah isinya.
Di pasar, ia menyol sepatu untuk membayar pemeriksaan. Itu sudah cukup berat. Tapi rawat inap di rumah sakit kota adalah dunia angka yang berbeda sama sekali. Ia tahu harga-harga; itu satu-satunya hal yang ia mengerti dengan jelas. Ia bisa menghitung berapa pasang sepatu yang harus ia perbaiki untuk menutup satu malam kamar, dan angka itu membuatnya mual. Tidak mungkin. Tangannya tidak cukup cepat, jam kerjanya tidak cukup panjang, dan hari hanya punya dua puluh empat jam yang sebagian besar sudah terbagi habis untuk hafalan, setoran, jadwal dapur, tidur yang sudah ia curi habis-habisan.
Ia duduk di sana sampai magrib hampir tiba, sampai bayangan tiang serambi memanjang melintasi halaman. Komar menemukannya di situ, masih dengan surat di tangan, dan tidak perlu bertanya untuk tahu ada yang runtuh.
"Ibu?" Komar hanya bertanya satu kata itu.
Fauzan mengangguk. Ia tidak bisa bicara. Kalau ia membuka mulut, ia tahu yang keluar bukan kata-kata melainkan sesuatu yang lebih memalukan, dan ia tidak mau menangis di serambi tempat orang lewat.
Komar duduk di sampingnya, lututnya menyentuh lutut Fauzan, dan diam. Itu yang Fauzan butuhkan. Bukan nasihat, bukan ayat penghibur, hanya tubuh seorang teman yang juga miskin, yang juga punya bapak yang bisa jatuh, yang mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata.
"Aku di pondok," kata Fauzan akhirnya, suaranya parau, "ngapalin ayat. Sementara Ibu di rumah sakit. Sementara Mbak Maryam ngutang ke sana-sini. Aku di sini, Mar. Aku di sini, dan Ibu di sana."
Komar tidak menjawab. Ia tahu tidak ada jawaban.
Di surau, muazin mulai mengumandangkan azan magrib, dan suara itu, yang biasanya menenangkan Fauzan, kini terasa seperti tuduhan. Setiap santri bergegas mengambil wudu, bersiap salat berjamaah, lalu duduk untuk tadarus seperti yang mereka lakukan setiap malam, hidup yang teratur dan suci dan jauh dari rumah sakit kota tempat seorang perempuan kurus berjuang menarik napas.
Fauzan tidak bergerak. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di pondok, ia merasa kehadirannya di sini bukan kewajiban yang berat, melainkan sebuah pengkhianatan. Anak macam apa yang duduk tenang menghafal sementara ibunya sekarat? Nazar macam apa yang menuntut seorang anak memilih antara ayat Tuhan dan napas ibunya sendiri?
Ia berdiri, akhirnya, karena Komar menariknya pelan. Mereka berwudu bersama, air dingin membasuh wajahnya, dan untuk sesaat dinginnya itu menjernihkan kepalanya. Ia akan salat. Ia akan berdoa untuk ibunya, karena itu satu-satunya yang bisa ia lakukan malam ini dari jarak sejauh ini. Tapi di balik doanya, di tempat yang tak ia ucapkan bahkan kepada Tuhan, sebuah keputusan mulai mengeras seperti semen yang kering: ia harus pulang. Bagaimanapun caranya, ia harus pulang. Karena ada batas di mana ayat-ayat yang dihafal di kaki gunung tidak lagi cukup, dan satu-satunya yang berarti adalah berdiri di samping ranjang seorang ibu, memegang tangannya, dan membuktikan bahwa ia ada.