Telepon umum pondok hanya bisa dipakai hari Jumat, di jam tertentu, dengan antrean panjang dan pengawasan pengurus. Fauzan sudah berminggu-minggu menabung kesempatan ini, dan ketika akhirnya gilirannya tiba, jantungnya berdebar saat memutar nomor warung Bu Inah, satu-satunya nomor di kampung yang bisa dihubungi, tempat ia menitip pesan untuk keluarganya.
Ia harus menelepon dua kali. Pertama, untuk menitip pesan agar Maryam datang ke warung pada jam yang dijanjikan. Lalu, di Jumat berikutnya, untuk benar-benar bicara. Maka pagi itu, ketika ia menempelkan gagang telepon yang panas oleh tangan-tangan santri sebelumnya ke telinganya dan mendengar suara Bu Inah memanggil-manggil ke arah dalam warung, lalu langkah kaki tergesa, lalu suara yang ia kenal, dadanya nyaris meledak.
"Halo? Fauzan? Ini kamu, Le?"
Suara Maryam. Sedikit serak oleh kabel telepon yang buruk, tetapi tak salah lagi, suara kakaknya. Dan mendengar suara itu, setelah berbulan-bulan hanya membaca tulisan tangannya di surat, sesuatu di tenggorokan Fauzan tercekat hingga ia hampir tak bisa bicara.
"Iya, Mbak," katanya, suaranya tipis. "Ini Fauzan. Gimana di rumah, Mbak? Gimana Ibu?"
Ada jeda sebentar, jeda yang membuat jantung Fauzan berhenti. Lalu Maryam berkata, "Ibu... Ibu di sini, Le. Di warung Bu Inah. Tadi Ibu maksa ikut, biar bisa denger suaramu. Bentar, ya, aku kasih ke Ibu."
Fauzan mencengkeram gagang telepon lebih erat. Ada gemerisik, suara kursi digeser, suara Maryam berbisik hati-hati, lalu sebuah napas, napas yang berat dan mengandung bunyi halus yang membuat Fauzan langsung tahu, sebelum sepatah kata pun diucapkan, bahwa paru ibunya belum sembuh.
"Fauzan..."
Satu kata. Hanya namanya. Tetapi dalam satu kata itu ada seluruh kampung pesisir, seluruh masa kecilnya, seluruh rumah yang reyot dan hangat itu, dan Fauzan merasa lututnya lemas. Suara ibunya jauh lebih lemah dari yang ia ingat. Pelan, tipis, terputus-putus oleh napas yang harus ia atur.
"Iya, Bu," jawab Fauzan, dan air matanya sudah jatuh sebelum ia sempat menahannya. "Ini Fauzan, Bu. Ibu apa kabar? Ibu sehat?"
"Ibu... sehat, Le," kata ibunya, dan Fauzan tahu itu bohong, bohong yang sama jenisnya dengan bohong yang ia katakan pada ibunya. "Ibu kangen kamu. Sudah lama nggak liat kamu. Kamu di sana baik-baik, to? Makan teratur? Nggak nakal?"
"Baik, Bu," kata Fauzan, menyeka matanya dengan punggung tangan yang masih berbau lem sepatu samar. "Fauzan baik. Makan teratur. Nggak nakal."
"Ngajinya gimana?" tanya ibunya, dan ada sesuatu yang menguat di suaranya saat menanyakan itu, sesuatu yang membuat Fauzan tahu inilah yang paling ingin ibunya dengar. "Hafalanmu nambah, to? Ibu tiap malam doain kamu, Le. Ibu doain biar kamu lancar ngajinya, biar kamu jadi anak yang bisa baca Qur'an. Ibu nggak minta kamu jadi apa-apa yang hebat. Ibu cuma pengin kamu rajin, jangan males, jangan nyerah."
Fauzan menutup matanya. Di seberang sana, ibunya, yang terbaring sakit, yang parunya berbercak, yang napasnya tipis, sedang mendoakan agar hafalannya lancar. Tidak meminta uang. Tidak meminta apa pun untuk dirinya. Hanya meminta anaknya rajin mengaji. Dan ibunya tidak tahu, sama sekali tidak tahu, bahwa uang yang membawanya ke dokter, yang membayar pemeriksaan parunya, yang menyambung napasnya hari ini, datang dari tangan anak yang ia doakan agar rajin mengaji itu, tangan yang justru mencuri waktu mengaji demi membayar obatnya.
"Iya, Bu," kata Fauzan, dan suaranya hampir pecah seluruhnya. "Hafalan Fauzan nambah. Fauzan rajin, Bu. Fauzan nggak males." Sebagian itu benar. Sebagian bohong. Dan ia tak bisa membedakan lagi mana yang mana.
"Bagus, Le," kata ibunya, dan Fauzan bisa mendengar senyum di suaranya, senyum yang lemah tapi tulus. "Kamu jangan mikirin Ibu, ya. Jangan mikirin biaya-biaya. Itu urusan Bapak sama Mbakmu. Kamu fokus ngaji aja. Itu yang bikin Ibu seneng. Janji, ya?"
Jangan mikirin biaya. Fauzan menggigit bibirnya keras-keras agar tidak terisak ke dalam gagang telepon. Ibunya, yang tak tahu dari mana datangnya uang itu, memintanya untuk tidak memikirkan biaya, tidak tahu bahwa setiap rupiah yang membawanya ke dokter adalah hasil tangan anaknya yang melepuh di sudut koperasi, tidak tahu bahwa doanya agar Fauzan fokus mengaji justru bertabrakan dengan satu-satunya cara Fauzan menjaganya tetap hidup.
"Janji, Bu," katanya, dan kebohongan itu keluar dari tempat yang paling dalam dan paling tulus dalam dirinya, kebohongan yang lahir bukan dari niat menipu, melainkan dari cinta yang tak punya cara lain. "Fauzan janji."
Pengurus telepon mengetuk meja, memberi isyarat waktunya hampir habis, antrean masih panjang. Maryam mengambil alih gagang, berbisik cepat bahwa Ibu lelah dan harus istirahat, lalu berkata akan menulis surat untuk menjelaskan hasil pemeriksaan. Fauzan menitip salam untuk Bapak, untuk Ibu, untuk semuanya, lalu sambungan terputus, dan ia berdiri di depan telepon umum dengan gagang yang masih di tangannya, telinganya hanya mendengar nada panjang yang kosong.
Ia keluar dari bilik telepon, melewati antrean santri yang menunggu, dan tak ada yang menyadari air matanya selain mungkin Komar, yang menunggunya di luar dan langsung tahu, dari wajah sahabatnya, bahwa percakapan itu meninggalkan luka. Komar tidak bertanya. Ia hanya berjalan di samping Fauzan dalam diam, menemaninya sampai ke teras, dan duduk bersamanya tanpa kata.
Fauzan memandang kaki gunung di kejauhan, dan dalam dadanya tekad lamanya kini bercampur dengan sesuatu yang lebih kalut. Ia menyol sepatu untuk menyelamatkan napas ibunya. Ibunya berdoa agar ia rajin mengaji. Dan untuk menjaga napas itu, ia harus mengorbankan mengaji yang justru menjadi doa ibunya. Ia berbohong pada ibunya, berbohong pada Ustaz Farid, berbohong pada hampir semua orang, dan semua kebohongan itu, satu per satu, lahir dari cinta. Ia tidak tahu lagi apakah ia anak yang baik atau anak yang pendusta. Mungkin, pikirnya, sambil menyeka matanya yang terakhir kali, ia keduanya sekaligus. Mungkin di dunia tempat napas seorang ibu dibeli dengan keringat tangan seorang anak, kebaikan dan kebohongan adalah dua nama untuk hal yang sama.