Malam itu Fauzan tidak tidur. Ia berbaring di kasur tipisnya di kamar nomor tujuh, memandang langit-langit yang retak rambut, mendengar napas teratur Burhan di sebelah dan dengkur halus Komar di pojok, dan di kepalanya rencana itu menyusun dirinya sendiri, batu demi batu.
Ia hapal jadwal pondok luar dalam. Pukul tiga, pengurus keamanan yang jaga malam biasanya tertidur di pos depan, kepalanya tersandar ke dinding. Gerbang utama dikunci, tapi pagar samping dekat dapur, yang berbatasan dengan kebun singkong milik tetangga pondok, kawatnya sudah lama longgar — ia tahu itu dari kali-kali ia menyelinap ke pasar dulu, sebelum semuanya menjadi resmi. Dari kebun singkong, jalan setapak menurun ke jalan desa, dan dari jalan desa ada angkutan pertama yang lewat menjelang subuh menuju terminal kecamatan. Dari kecamatan ada bus ke kota. Ia punya uang sedikit yang ia sisihkan, cukup untuk ongkos, mungkin, kalau ia hemat.
Logikanya rapi. Terlalu rapi. Itu yang membuatnya tahu ia sudah lama memikirkannya, jauh sebelum surat Maryam datang, di sudut hatinya yang tak pernah ia akui.
Ia bangun pelan-pelan menjelang pukul tiga. Ia mengeluarkan tasnya dari kolong, tas kain lusuh yang sama yang ia bawa dari kampung, dan mulai memasukkan barang dengan gerakan sehati-hati mungkin: dua potong baju, sarung, kotak alat sol yang selalu ia simpan di dasar tas, surat-surat Maryam yang ia ikat dengan karet. Tangannya bergerak dalam gelap, hafal letak setiap benda. Ia tidak menyalakan lampu. Ia tidak ingin membangunkan siapa pun. Ia ingin hilang seperti embun yang menguap sebelum matahari naik, tanpa pamit, tanpa harus menjelaskan, tanpa harus mendengar orang melarangnya.
Ia baru saja menarik ritsleting tas ketika sebuah suara, pelan tapi jelas, memotong kegelapan.
"Mau ke mana, Zan?"
Fauzan membeku. Komar duduk di kasurnya, bayangan hitam yang tegak, matanya berkilat sedikit menangkap cahaya bulan dari jendela.
"Tidur lagi, Mar," bisik Fauzan. "Nggak ada apa-apa."
"Kamu bohong." Komar tidak mengeraskan suara, tapi ada sesuatu di nadanya yang tidak mau ditawar. "Aku liat dari tadi kamu masukin baju ke tas. Mau pulang, ya?"
Fauzan tidak menjawab. Tangannya masih memegang tali tas, dan dalam diamnya itu seluruh jawaban tersampaikan.
Komar turun dari kasurnya, jongkok di depan Fauzan agar wajah mereka sejajar. "Kamu mau lewat mana? Pagar dapur? Terus jalan ke desa, naik angkutan subuh?"
Fauzan terkejut bahwa Komar tahu persis. Tentu saja Komar tahu. Komar juga miskin, juga pernah menghitung jalan pulang dalam kepalanya di malam-malam ia rindu rumah.
"Ibu di rumah sakit, Mar," kata Fauzan, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Aku nggak bisa di sini. Aku nggak bisa duduk ngapalin ayat sementara Ibu..." Ia tidak menyelesaikannya.
"Aku ngerti," kata Komar. "Demi Tuhan, Zan, aku ngerti. Kalau bapakku yang di rumah sakit, mungkin aku juga udah lari malam ini." Ia diam sebentar. "Tapi coba pikir. Kamu lari dari pondok diam-diam, tengah malam, lewat pagar. Itu artinya kabur. Bukan izin, bukan pulang baik-baik. Kabur. Tahu nggak apa artinya itu?"
Fauzan tahu. Kursi beasiswanya akan hilang. Budi ayahnya akan dianggap tak terbayar. Dan kalau kursi itu hilang, kalau ia bukan lagi santri Darul Hidayah, maka pekerjaan resminya di koperasi juga hilang — satu-satunya sumber uang yang halal dan aman yang ia punya untuk ibunya. Ia akan pulang dengan tangan kosong, membawa kegagalan, dan justru meninggalkan ibunya tanpa nafkah yang selama ini ia kirim.
Ia tahu semua itu. Tapi tahu dan merasa adalah dua hal yang berbeda, dan malam ini perasaannya jauh lebih keras daripada akalnya.
"Tapi aku nggak bisa diam, Mar," bisiknya, dan kini air matanya jatuh, hangat di pipinya yang dingin. "Gimana kalau Ibu... gimana kalau aku nggak sempat ketemu? Gimana kalau aku di sini ngapalin ayat, dan Ibu di sana, dan aku nggak ada di sampingnya pas... " Ia tidak bisa mengucapkan kata itu.
Komar meraih bahunya. "Dengar. Aku nggak nyuruh kamu diam. Aku nyuruh kamu mikir jernih. Kalau kamu kabur sekarang, kamu kehilangan semuanya, dan Ibu kehilangan kiriman kamu. Tapi kalau kamu minta izin baik-baik, mungkin masih ada jalan. Ada Kiai. Ada Pak Kasdi. Jangan kamu buang semuanya dalam satu malam karena kamu nggak sabar nunggu pagi."
Fauzan menunduk, tasnya masih di pangkuannya, dan tubuhnya berguncang oleh tangis yang ia tahan agar tidak terdengar. Komar tidak melepaskan bahunya. Ia menunggu, sabar, sampai guncangan itu mereda.
"Tahan sampai subuh," kata Komar pelan. "Cuma sampai subuh. Habis subuh kita pikirin sama-sama gimana caranya kamu pulang dengan benar. Janji?"
Fauzan tidak menjawab dengan kata. Tapi ia meletakkan tasnya kembali ke kolong, pelan, dan duduk bersandar ke dinding, dan Komar duduk di sampingnya sampai langit di balik jendela perlahan berubah dari hitam menjadi biru tua. Dua anak miskin, menunggu subuh, menahan jatuh.