Pada hari keempat belas, Fauzan menyelesaikan pasang sepatu yang terakhir.
Ia duduk di lantai koperasi dengan empat puluh pasang sepatu tersusun rapi di hadapannya, bersih, dijahit, disol ulang, siap dijual kembali. Tangannya melepuh di beberapa tempat, jari telunjuknya tertusuk jarum entah berapa kali, punggungnya terasa seperti papan kayu yang dipres. Tetapi sepatu-sepatu itu selesai, semuanya, tepat waktu. Ia memandangnya dengan campuran bangga dan ngeri, bangga karena ia menuntaskan apa yang ia janjikan, ngeri karena ia tahu apa yang ia korbankan untuk menuntaskannya.
Pak Kasdi datang menjemput hari itu juga, membawa karung-karung dan dua keranjang motor. Ia memeriksa beberapa pasang secara acak, membalik sol, menarik jahitan, lalu mengangguk dengan wajah puas yang tak bisa disembunyikan. "Rapi, Zan. Rapi banget. Haji Mukri bakal seneng. Tukang lama dia nggak pernah sebagus ini."
Lalu ia mengeluarkan amplop dari kantong jaketnya dan menyerahkannya. Fauzan menerimanya, dan begitu ia merasakan tebalnya amplop itu di telapak tangannya, jantungnya berdegup. Ia membukanya sedikit, mengintip, dan melihat lembaran-lembaran uang lebih banyak dari yang pernah ia pegang seumur hidupnya. Tangannya gemetar bukan karena lelah kali ini.
"Itu lengkap," kata Pak Kasdi. "Sesuai janji. Hitung sendiri kalau mau."
Fauzan tidak menghitungnya. Ia hanya menggenggam amplop itu, dan untuk sesaat ia membayangkan apa yang bisa dilakukan uang ini. Pemeriksaan dalam untuk paru ibunya. Bercak yang harus dilihat lebih jauh. Mungkin obat untuk beberapa bulan. Mungkin sebagian beban yang menumpuk di pundak Maryam. Semua itu, dalam satu amplop, hasil dari dua minggu tangannya yang melepuh.
"Terima kasih, Pak," katanya, dan suaranya tebal.
Pak Kasdi memandangnya, lalu wajahnya yang puas itu meredup sedikit, digantikan ekspresi yang lebih tua, lebih berhati-hati. "Zan," katanya pelan, sambil mengangkat sepatu-sepatu ke keranjang. "Bapak seneng kamu selesai. Bapak seneng dapat kepercayaan Haji Mukri. Tapi Bapak liat kamu. Bapak liat tangan kamu." Ia menunjuk dagunya ke arah jari Fauzan yang melepuh. "Dan Bapak denger dari Pak penjaga koperasi, setoran ngaji kamu lagi mandek. Bener?"
Fauzan tidak menjawab, dan diamnya adalah jawaban.
Pak Kasdi mengangguk pelan, seakan sudah menduga. "Begini, Zan. Bapak ini orang dagang. Bapak ngerti uang. Tapi Bapak juga sudah tua, dan ada hal yang Bapak baru ngerti setelah tua." Ia berhenti, menaruh keranjang, dan duduk di samping Fauzan. "Uang itu, kalau kamu hitung, ada angkanya. Jelas. Tapi yang kamu bayar buat dapetin uang itu, sering nggak ada angkanya. Dua minggu kamu nggak ngaji. Itu nggak keliatan di amplop. Tapi itu kebayar juga, Zan. Cuma bayarnya nanti, dan bayarnya bukan pakai uang." Ia menepuk lutut Fauzan. "Bapak nggak nyesel kasih kamu pesanan ini. Kamu butuh, ibumu butuh. Tapi Bapak harap ini yang terakhir yang segede ini. Kalau Haji Mukri minta lagi, Bapak bakal bilang kamu cuma bisa yang kecil-kecil. Biar kamu nggak rusak."
Fauzan menunduk. Ia tahu Pak Kasdi benar. Ia tahu, lebih dari siapa pun, harga yang ia bayar. Tetapi ia juga tahu bahwa jika besok Haji Mukri menawarkan pesanan sebesar ini lagi dengan upah sebesar ini, dan ibunya masih sakit, ia akan mengambilnya lagi. Karena di antara hafalan yang bisa ia kejar nanti dan napas ibunya yang tak bisa menunggu, ia tahu mana yang akan ia pilih, setiap kali, sampai napas ibunya aman.
Sorenya, ia menyerahkan uang itu kepada Pak Kasdi untuk dikirimkan ke kampung lewat saudara Pak Kasdi yang kebetulan akan ke kota dekat kampung Fauzan, jalur yang lebih aman daripada yang dulu hampir membongkar rahasianya. Ia menyisihkan sedikit untuk dirinya, sangat sedikit, dan menyimpan sisanya untuk Maryam, untuk ibu, untuk pemeriksaan itu.
Dan ketika ia berjalan kembali ke kamar dengan amplop yang sudah kosong di tangannya, ia merasa lega dan hampa sekaligus. Lega karena ibu kini punya kesempatan diperiksa. Hampa karena ia menyadari, dengan kejernihan yang dingin, bahwa ia baru saja menukar dua minggu masa depannya di pondok demi napas ibunya hari ini. Bukan pertukaran yang ia sesali. Tetapi pertukaran yang punya harga, dan harga itu, seperti kata Pak Kasdi, belum jatuh tempo.
Ia baru sampai di teras kamar ketika seorang santri kecil menghampirinya, terengah. "Kak Fauzan. Ustaz Farid nyari Kakak. Disuruh menghadap habis isya. Katanya soal evaluasi setoran."
Fauzan berhenti. Hampa di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. Tagihan itu, yang ia tahu pasti datang, ternyata jatuh tempo lebih cepat dari yang ia kira. Ia mengangguk pada santri kecil itu, mengucapkan terima kasih, lalu berdiri sendirian di teras saat senja turun, memandang amplop kosong di tangannya dan menyadari bahwa harga dari dua minggu itu akan ditagih malam ini juga.