Ustaz Farid menerima Fauzan di ruang pengurus setelah isya, di bawah lampu neon yang berdengung pelan. Di meja terbentang buku besar catatan setoran santri, dan jari Ustaz Farid berhenti di satu baris yang Fauzan tahu pasti adalah barisnya sendiri. Lelaki itu tidak langsung bicara. Ia membiarkan diam menggantung, dan diam itu lebih menekan daripada bentakan mana pun.
"Duduk," kata Ustaz Farid akhirnya.
Fauzan duduk, tangannya di pangkuan, kepalanya tertunduk.
"Dua minggu," kata Ustaz Farid, jarinya mengetuk buku besar itu. "Dua minggu setoranmu kosong, Fauzan. Bukan turun. Kosong. Ustaz Romli lapor ke saya. Kang penjaga koperasi juga lapor, kamu kerja sampai malam, di luar jadwal yang saya buat. Saya mau dengar dari mulutmu sendiri. Apa yang terjadi."
Fauzan menelan ludah. "Ada pesanan besar, Ustaz. Empat puluh pasang. Dari juragan grosir. Saya kerjakan dua minggu."
"Empat puluh pasang," ulang Ustaz Farid, dan suaranya naik sedikit. "Empat puluh pasang sepatu, Fauzan. Itu bukan reparasi sambilan. Itu pekerjaan penuh. Kamu pikir jadwal yang saya buat itu apa? Hiasan? Saya duduk sama Kiai, sama Ustaz Romli, kami atur jam demi jam supaya kamu bisa kerja tanpa hafalanmu hancur. Itu bukan gampang. Itu kelonggaran yang nggak pernah dikasih ke santri lain. Dan kamu..." Ia menggeleng. "Kamu pakai kelonggaran itu buat kerja malam-malam diam-diam, ngelanggar jadwal yang dibuat khusus buat kamu."
Setiap kata menusuk, karena setiap kata benar. Fauzan menunduk lebih dalam.
"Kamu tahu apa yang Kiai bilang waktu kasih kamu izin?" lanjut Ustaz Farid. "Beliau bilang, syaratnya satu, hafalan nggak boleh turun. Itu syarat mutlak. Dan sekarang hafalanmu nggak cuma turun, Fauzan. Berhenti total. Dua minggu. Kamu tahu apa artinya ini? Ini artinya kelonggaranmu bisa dicabut. Kerja koperasimu bisa dihentikan. Dan kalau itu terjadi, kamu balik ke titik nol, cuma punya hafalan, tanpa cara apa pun buat ngirim uang ke ibumu. Kamu mau itu?"
Sesuatu di dada Fauzan, yang selama dua minggu ini ia tekan rapat-rapat di bawah tumpukan sepatu dan lelah dan amplop tebal, tiba-tiba retak. Bukan karena ia tidak tahu Ustaz Farid benar. Justru karena Ustaz Farid terlalu benar, dan kebenaran itu tidak menyisakan ruang untuk kenyataan yang Fauzan hidupi setiap hari.
"Kalau saya nggak kerja, Ustaz," kata Fauzan, dan suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan, lebih bergetar, "ibu saya nggak diperiksa. Bercak di parunya nggak dilihat. Dan kalau itu dibiarkan, saya nggak tahu apa yang terjadi sama ibu saya."
Ustaz Farid terdiam. Mungkin ia tidak menyangka Fauzan, yang selama ini selalu menunduk dan menurut, akan membantah.
"Empat puluh pasang itu," lanjut Fauzan, dan kini sesuatu yang sudah lama tertahan mulai tumpah, "upahnya hampir cukup buat pemeriksaan ibu saya. Hampir. Itu uang yang nggak bisa saya kumpulin dari sepatu kecil-kecil dalam dua setengah jam sehari, dalam berbulan-bulan. Saya tahu saya ngelanggar jadwal. Saya tahu hafalan saya berhenti. Tapi Ustaz..." Suaranya pecah. "Hafalan bisa saya kejar lagi. Ayat nggak akan ke mana-mana. Tapi ibu saya bisa ke mana-mana, Ustaz. Ibu saya bisa nggak ada. Kalau saya harus milih antara ngejar ayat sama ngejar napas ibu saya, Ustaz mau saya pilih yang mana?"
Kalimat itu menggantung di ruangan, dan Fauzan langsung menyesalinya, takut ia sudah melewati batas, takut ia sudah kurang ajar pada gurunya. Tetapi ia tidak menariknya kembali. Karena untuk pertama kali sejak diantar ke gerbang, ia menyuarakan pertanyaan yang menggerogotinya sejak awal, pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan: kenapa ia harus memilih antara ibu dan ayat, antara nyawa dan janji.
Ustaz Farid memandangnya lama. Wajahnya yang keras itu tidak melunak, tapi ada sesuatu yang bergeser di matanya, sesuatu yang mengakui bahwa pertanyaan Fauzan tidak punya jawaban yang mudah.
"Saya nggak suruh kamu pilih napas ibumu atau ayat, Fauzan," kata Ustaz Farid akhirnya, suaranya lebih pelan. "Yang saya suruh, jangan kamu kerjakan keduanya dengan cara yang menghancurkan dua-duanya. Kamu pikir kalau kamu ambil empat puluh pasang lagi, terus hafalanmu berhenti, terus kelonggaranmu dicabut, itu nyelametin ibumu? Nggak. Itu cuma nunda kehancuranmu sebulan. Habis uang itu, kamu balik nol, tanpa kerja, tanpa hafalan. Lalu apa?" Ia menatap Fauzan tajam. "Saya keras sama kamu bukan karena saya nggak peduli ibumu. Saya keras justru karena saya peduli kamu nggak punya jalan lain selain ini. Kalau jalan ini kamu rusak sendiri, nggak ada jalan kedua. Mengerti?"
Fauzan menunduk, dan air matanya jatuh ke lantai. Ia mengerti. Tetapi mengerti tidak membuat pilihan itu hilang. Ustaz Farid benar bahwa merusak jalan ini bodoh. Tetapi tubuh ibunya tidak peduli pada logika jangka panjang. Bercak di parunya tumbuh dalam waktu nyata, sekarang, sementara hafalan adalah sesuatu yang bisa ditunda. Dan di antara dua kebenaran yang sama-sama benar itu, Fauzan terjepit, persis seperti ia terjepit sejak gerbang, dan untuk pertama kali ia membantah bukan karena ia punya jawaban, tetapi karena ia sudah terlalu lelah untuk pura-pura pertanyaan itu tidak ada.