Komar menerima surat itu pada hari Selasa, dan Fauzan tahu ada yang tidak beres begitu melihat wajah sahabatnya saat keluar dari kantor pos pondok tempat surat-surat dibagikan.
Komar yang biasanya ceria, yang tawanya gampang pecah, yang selalu punya cerita konyol soal penumpang becak bapaknya, kini berjalan dengan kepala tertunduk dan surat tergenggam erat. Ia tidak langsung ke kamar. Ia duduk di tepi kolam wudu, memandang air, dan Fauzan, yang melihatnya dari kejauhan, meninggalkan sepatu yang sedang ia kerjakan dan menghampirinya.
"Komar. Ada apa?"
Komar mengangkat surat itu, lalu menurunkannya lagi. "Bapakku," katanya, suaranya tidak seperti biasanya. "Bapakku kecelakaan. Becaknya ditabrak motor di tikungan pasar. Bapaknya cuma luka, katanya nggak parah, kaki keseleo sama lengan lecet. Tapi becaknya rusak. Rodanya bengkok, atapnya copot." Ia menelan ludah. "Selama becaknya belum dibenerin, Bapak nggak bisa narik. Nggak bisa narik berarti nggak ada pemasukan. Dan benerin becak itu butuh uang yang kami nggak punya."
Fauzan duduk di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa, karena ia tahu, dari pengalaman, bahwa di saat seperti ini kata-kata penghibur terdengar kosong. Ia hanya duduk, dan membiarkan Komar bicara.
"Adikku ada tiga, Zan," lanjut Komar. "Yang paling kecil masih balita. Emakku jualan jamu gendong, tapi itu nggak cukup buat semua. Yang nutup itu becak Bapak. Sekarang becaknya rusak." Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan. "Aku di sini, makan tiga kali sehari dari pondok, tidur di kasur, sementara di rumah mereka mungkin lagi mikir besok makan apa. Aku ngerasa..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Fauzan tahu persis kelanjutannya. Aku ngerasa nggak pantas ada di sini. Aku ngerasa egois. Aku ngerasa harusnya aku pulang dan bantu. Fauzan tahu persis, karena setiap kalimat itu adalah kalimat yang sama yang menggerogoti dadanya sendiri sejak surat Maryam yang pertama tiba.
"Kamu pikir mau pulang?" tanya Fauzan pelan.
Komar terdiam lama. "Aku nggak tahu, Zan. Kalau aku pulang, aku bisa kerja. Aku bisa bantu narik becak orang lain, atau jadi kuli pasar, atau apa pun. Aku bisa kirim uang. Tapi kalau aku pulang..." Ia menatap menara surau di kejauhan. "Kalau aku pulang, aku nggak akan balik lagi. Aku tahu itu. Sekali aku pulang, kerja, dapat uang, aku nggak akan bisa balik ke sini. Dan emakku, dia paling pengin aku selesai ngaji. Dia bilang dia nggak punya apa-apa buat diwarisin ke aku selain ini, kesempatan ini. Kalau aku pulang, aku buang yang dia perjuangin mati-matian."
Fauzan menatap sahabatnya, dan ia merasa seperti sedang menatap cermin. Pilihan yang sama. Tinggal atau pulang. Ayat atau keluarga. Janji orang tua atau kebutuhan yang nyata di depan mata. Komar terjebak di tempat yang persis sama dengan tempat Fauzan terjebak, dan untuk pertama kali Fauzan menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam jenis penderitaan ini. Bahwa di antara dinding-dinding pondok ini, di balik wajah-wajah santri yang menghafal dan jaga dapur dan mengantre wudu, ada anak-anak lain yang memikul beban yang sama beratnya, masing-masing diam-diam, masing-masing mengira dirinya satu-satunya.
"Aku ngerti," kata Fauzan, dan kata itu keluar dari tempat yang dalam. "Aku ngerti banget, Komar. Lebih dari yang kamu kira."
Komar menoleh padanya. Dan dalam tatapan itu, sesuatu berpindah di antara mereka, sesuatu yang tak perlu dijelaskan. Komar tahu Fauzan menyol sepatu untuk ibunya. Komar tahu Fauzan mencuri tidur dan hampir gagal ujian. Tetapi sampai saat itu, keduanya tak pernah benar-benar duduk dan mengakui bahwa mereka memikul beban yang sama jenisnya. Sekarang mereka mengakuinya, tanpa kata, hanya lewat tatapan dan diam.
"Jangan pulang dulu," kata Fauzan akhirnya. "Tulis surat ke emakmu. Tanya seberapa rusak becaknya. Mungkin nggak separah yang kamu bayangin. Mungkin bisa dibenerin sedikit demi sedikit. Dan..." Ia ragu, lalu melanjutkan, "dan kalau ternyata butuh uang, kita pikir bareng. Aku ada sedikit. Bukan banyak. Tapi roda becak yang bengkok itu, aku bisa lihat. Aku biasa benerin barang bengkok. Mungkin nggak perlu beli baru, cuma perlu diketok lurus sama tukang las. Itu lebih murah."
Komar menatapnya, dan untuk pertama kali sejak menerima surat, ada sesuatu yang melunak di wajahnya. Bukan harapan penuh, tapi tidak lagi keputusasaan murni. "Kamu mau bantu mikirin becak bapakku?"
"Bapakku tukang sol, Komar," kata Fauzan, dan ujung bibirnya naik sedikit. "Tapi tangan tukang itu sama aja. Sol sepatu, roda becak, atap copot, semua itu cuma barang rusak yang nunggu dibenerin. Aku nggak bisa benerin ibuku. Tapi mungkin aku bisa bantu benerin becak bapakmu."
Komar tertawa, tawa kecil yang bercampur air mata, lalu ia memeluk Fauzan singkat dan kaku, dengan cara dua anak laki-laki yang tak terbiasa memeluk. Dan dalam pelukan canggung itu, di tepi kolam wudu yang dingin, dua anak miskin dari dua kampung berbeda menemukan bahwa luka yang serupa, jika dibagi, menjadi sedikit lebih ringan untuk dipikul. Bukan hilang. Hanya lebih ringan. Tetapi di saat seperti ini, sedikit lebih ringan sudah cukup untuk membuat mereka mampu berdiri lagi keesokan harinya.