Esok paginya Fauzan menitip pesan lewat tukang sayur bahwa ia menerima pesanan Haji Mukri. Sore harinya, kardus pertama tiba: dua belas pasang sepatu bekas dalam karung, bau apek tercampur debu gudang, sebagian solnya terkelupas, sebagian hanya butuh dibersihkan dan dijahit ulang. Fauzan membuka karung itu di sudut koperasi dan jantungnya berdegup melihat banyaknya. Dan ini baru sepertiga.
Minggu pertama berjalan seperti perang yang ia kalah pelan-pelan tanpa sadar.
Ia mengerjakan sepatu setiap menit yang ia punya. Habis zuhur, dua setengah jam jatahnya, ia kerja tanpa angkat kepala. Lalu ketika jadwal habis dan teman-teman bubar untuk halaqah sore, ia membereskan alat dengan setengah hati, lalu kembali lagi malam hari setelah isya, dengan alasan ada sepatu yang lemnya harus dipres semalaman. Ustaz Farid memang menjadwalkan kerja sampai jam tertentu, tetapi tidak ada yang menjaga koperasi di malam hari, dan Fauzan menemukan bahwa selama ia tidak terlihat, tidak ada yang menghentikannya.
Hafalan, dalam minggu itu, menjadi sesuatu yang ia janjikan pada diri sendiri akan ia kerjakan nanti. Nanti setelah sepatu ini selesai. Nanti setelah karung kedua datang dan dikerjakan. Nanti, selalu nanti. Pagi-pagi ia masih membuka mushaf di perpustakaan, tapi matanya membaca dan otaknya menghitung berapa pasang yang harus ia selesaikan hari itu agar tidak ketinggalan tenggat dua minggu. Tangannya tidak lagi menari di udara menggambar ayat. Tangannya gatal ingin memegang jarum dan benang.
Setoran sorenya mulai pincang. Surat yang kemarin lancar, kini tersendat. Ustaz Romli memperhatikan, dan pada setoran ketiga yang berantakan dalam seminggu, ia menutup mushaf dan menatap Fauzan dengan tatapan yang Fauzan kenal, tatapan yang melihat lebih dalam dari yang Fauzan mau.
"Fauzan," kata Ustaz Romli pelan. "Kemarin lusa kamu lancar. Sekarang nyangkut lagi. Ada apa?"
Fauzan menunduk. "Capek, Ustaz. Banyak pesanan."
"Banyak pesanan," ulang Ustaz Romli, dan ada sesuatu di nadanya yang membuat Fauzan tahu gurunya tidak percaya begitu saja. "Pesanan koperasi kan ada jadwalnya. Dua setengah jam. Harusnya nggak bikin kamu sampai begini."
Fauzan diam. Ia bisa saja berkata jujur. Ia bisa berkata ada pesanan besar, empat puluh pasang, dari juragan grosir, di luar jadwal, dan ia mengerjakannya malam-malam diam-diam. Tetapi mengatakannya berarti membuka kemungkinan pesanan itu dilarang, dan dilarangnya pesanan itu berarti uang untuk ibu hilang. Maka ia memilih, untuk kesekian kali, jalan yang sudah terlalu sering ia tempuh.
"Iya, Ustaz," katanya. "Saya kurang tidur. Saya perbaiki."
Ustaz Romli menatapnya lama. Fauzan tahu gurunya tidak puas dengan jawaban itu. Ia ingat janji Ustaz Romli waktu itu, akan memperhatikan lebih dekat, bukan untuk mengawasi tapi untuk membantu. Dan kini ia merasakan perhatian itu, dan untuk pertama kali perhatian itu terasa seperti ancaman, karena ia sedang menyembunyikan sesuatu, dan orang yang memperhatikan dengan tulus justru paling mudah menemukan apa yang disembunyikan.
"Fauzan," kata Ustaz Romli akhirnya, suaranya lembut tapi tegas. "Saya nggak akan maksa kamu cerita kalau kamu belum mau. Tapi saya mau ingatkan satu hal. Kemarin pintu itu sudah kebuka buat kamu. Saya lihat sendiri. Dan saya nggak mau lihat pintu itu ketutup lagi gara-gara kamu tergelincir. Kadang yang bikin orang jatuh bukan tembok besar. Tapi tanah yang miring pelan-pelan, yang nggak kita sadari kita lagi tergelincir di atasnya, sampai tahu-tahu sudah di bawah." Ia membuka mushafnya lagi. "Ulang surat tadi. Pelan-pelan. Lupakan sepatu, lupakan capek, lima menit aja. Cuma kamu sama ayat ini."
Dan Fauzan, untuk lima menit itu, mencoba. Ia memejamkan mata, membuang tumpukan sepatu dari kepalanya, dan mengulang surat itu. Untuk lima menit, ia berhasil, dan ayat itu kembali mengalir. Tetapi begitu ia keluar dari halaqah dan kembali ke sudut koperasi, di mana karung kedua sudah menunggu dengan dua belas pasang sepatu apek yang lain, lima menit itu lenyap, dan tanah yang miring itu kembali menariknya turun, pelan, sangat pelan, sampai ia tak lagi merasa sedang turun.
Malam itu ia mengepres tiga sol sekaligus dengan batu bata, duduk di lantai koperasi yang dingin, dan menghitung. Dua puluh enam pasang selesai. Empat belas lagi. Lima hari lagi. Ia menggosok matanya, membuka buku Pesanan, mencoret yang sudah jadi, lalu, hampir sebagai renungan, ia membuka buku Hafalan. Halaman terakhirnya berhenti di tempat yang sama dengan seminggu lalu. Tidak bertambah satu baris pun. Ia menatap halaman kosong itu, dan untuk sesaat tanah yang miring itu terasa, dingin di telapak kakinya, dan ia tahu ia sedang tergelincir. Lalu lem yang ia tunggu mengeras, dan ia kembali pada batu bata dan jarum, dan rasa itu pun hilang lagi.