Pak Kasdi datang sendiri ke pondok hari Sabtu pagi, hal yang tak pernah ia lakukan. Biasanya ia menitip pesanan lewat tukang sayur atau lewat anaknya yang sekolah dekat situ. Tetapi pagi itu ia datang dengan motor bututnya, memarkir di luar gerbang, dan minta izin ke piket untuk menemui Fauzan di area koperasi yang memang terbuka untuk transaksi.
Fauzan tahu sesuatu yang besar sedang terjadi begitu melihat wajah Pak Kasdi. Lelaki gempal pemilik kios sepatu di pasar kecamatan itu biasanya santai, suka bercanda, sering menyelipkan sebungkus gorengan untuk Fauzan. Tetapi pagi itu ada kilatan di matanya, kilatan orang yang mencium peluang.
"Zan," katanya, langsung duduk di bangku kayu koperasi tanpa basa-basi panjang. "Bapak punya tawaran. Tawaran besar. Tapi Bapak mau jujur dulu, ini berat. Kamu boleh nolak."
Fauzan menaruh sepatu yang sedang ia kerjakan. "Tawaran apa, Pak?"
Pak Kasdi mencondongkan badan. "Kamu kenal Haji Mukri, juragan grosir di pasar besar kabupaten? Yang punya gudang sepatu bekas impor itu? Dia ngumpulin sepatu-sepatu bekas dari mana-mana, kiloan, terus dijual lagi setelah dibenerin. Selama ini dia kirim ke tukang sol di kota, tapi tukangnya kabur, bawa kabur uang muka pula. Sekarang dia butuh tukang baru, cepat, telaten. Bapak bilang Bapak kenal anak yang tangannya bagus. Bapak nyebut nama kamu."
Fauzan menahan napas. "Berapa pasang, Pak?"
"Empat puluh pasang," kata Pak Kasdi, dan ia membiarkan angka itu menggantung. "Empat puluh pasang, Zan. Macam-macam kerusakannya, sebagian cuma lem ulang, sebagian harus ganti sol, ada yang harus dijahit ulang seluruh kelimannya. Dikerjakan dalam dua minggu. Dan upahnya..." Ia menyebut angka.
Fauzan merasa lututnya lemas. Angka itu. Angka itu lebih besar dari semua yang pernah ia hasilkan sejak mulai menyol di pondok, digabungkan. Angka itu hampir, hampir, menyentuh perkiraan biaya pemeriksaan dalam yang ditulis Maryam di suratnya, biaya untuk memeriksa bercak di paru ibunya lebih jauh. Selama ini ia menghitung dengan putus asa bagaimana mengumpulkan uang sebesar itu dari sepatu-sepatu kecil yang dititipkan satu-dua pasang. Dan kini, dalam satu tawaran, separuh jalan terbentang di depannya.
"Bapak nggak bohong sama dia," lanjut Pak Kasdi. "Bapak bilang kamu santri, kamu nggak bisa keluar pondok seenaknya, kamu cuma bisa kerja di sini, di sudut ini. Dia nggak masalah. Sepatunya bisa Bapak antar ke sini, kamu kerjain di sini, nanti Bapak yang ambil. Yang dia mau cuma cepat dan bagus. Dia bilang kalau kamu sanggup, mungkin ini bukan yang terakhir. Bisa jadi langganan."
Langganan. Kata itu berdengung di kepala Fauzan seperti lebah. Langganan berarti penghasilan tetap. Langganan berarti ia tak perlu lagi panik setiap kali ada surat dari kampung. Langganan berarti ibu bisa diperiksa, diobati, dirawat, tanpa Fauzan harus mencuri tidur dan terbangun dengan kepala berkabut.
Tetapi.
Ia menatap tumpukan sepatu pesanan biasa yang sudah ada di kotak kayunya, yang saja sudah membuatnya melebihi jadwal. Empat puluh pasang. Dalam dua minggu. Itu bukan dua setengah jam sehari. Itu setiap menit yang ada, dan menit-menit yang tidak ada. Itu berarti hafalan akan berhenti. Bukan melambat, berhenti. Padahal baru kemarin pintu itu terbuka, baru kemarin Ustaz Romli memandangnya dengan pengakuan, baru kemarin ia merasakan untuk pertama kali bahwa ia bisa.
"Berapa lama saya boleh mikir, Pak?" tanya Fauzan, suaranya serak.
Pak Kasdi menghela napas dan menepuk lutut Fauzan dengan tangan kasarnya. "Bapak butuh jawaban besok pagi, Zan. Haji Mukri orang sibuk, kalau kamu nggak mau, dia cari yang lain. Dan Bapak mau ngomong satu hal, sebagai orang yang lebih tua." Ia menatap Fauzan, dan kilatan peluang di matanya melembut jadi sesuatu yang lebih mirip kekhawatiran. "Bapak tahu kamu butuh uang. Bapak tahu ibumu sakit. Tapi Bapak juga lihat kamu makin kurus tiap Bapak ke sini. Uang ini banyak, Zan. Tapi uang nggak ada habisnya kalau dikejar. Kamu di sini bukan buat jadi tukang sol. Kamu di sini buat ngaji. Itu kata kamu sendiri waktu itu." Ia berdiri, mengenakan helmnya. "Pikir baik-baik. Jangan cuma pikir uangnya. Pikir juga apa yang kamu bayar buat dapat uang itu."
Lalu ia pergi, motornya menderu menuruni jalan pondok, meninggalkan Fauzan duduk sendirian di bangku koperasi dengan sepatu setengah jahit di tangan dan satu angka raksasa berdenyut di kepalanya.
Ia memandang tangannya sendiri. Tangan yang baru kemarin belajar menari di udara menggambar ayat. Tangan yang sama yang tahu cara menjahit keliman sepatu sampai rapi. Dua keahlian dalam satu tangan, dan keduanya menarik ke arah berlawanan. Ia tahu, di lubuk hatinya, jawaban apa yang akan ia berikan besok pagi. Ia tahu, karena di antara ayat yang lancar dan napas ibunya, ia tak pernah benar-benar punya pilihan. Tetapi mengetahui jawabannya tidak membuat keputusan itu lebih ringan. Justru sebaliknya. Justru karena ia tahu ia akan mengambilnya, ia sudah bisa merasakan harga yang akan ia bayar, menggantung di depan seperti tagihan yang belum jatuh tempo tapi pasti datang.