Tubuh manusia, Fauzan belajar di minggu itu, adalah pemberi pinjaman yang paling sabar dan paling kejam sekaligus. Ia memberimu pinjaman tanpa banyak bertanya — beberapa jam tidur yang hilang, beberapa kali makan yang dilewat — dan untuk sementara kamu merasa lolos, merasa bisa berbuat lebih banyak dari yang sebenarnya mungkin. Lalu, tanpa peringatan, ia menagih semuanya sekaligus, dengan bunga.
Penagihan itu dimulai dengan pusing. Fauzan berdiri terlalu cepat dari menyol sepatu suatu siang, dan dunia berputar, dinding koperasi miring, dan ia harus berpegangan ke meja sampai pandangannya kembali. Ia mengira itu karena belum makan. Ia makan, tapi pusingnya tidak hilang sepenuhnya, hanya mengendap menjadi rasa berat yang konstan di belakang matanya. Lalu mata berkunang. Saat ia membaca mushaf di subuh hari, huruf-huruf hijaiah yang sudah mulai ia kuasai tiba-tiba berpendar, bertumpuk, dan ia harus memejamkan mata beberapa detik sebelum bisa membacanya lagi.
Ia tidak memberi tahu siapa pun. Komar curiga, beberapa kali memergokinya memijit pelipis, tapi Fauzan selalu berkata ia baik-baik saja. Ia tidak bisa berhenti. Ujian setoran besar tinggal beberapa hari. Pesanan dari Pak Kasdi menumpuk. Angka di surat Maryam masih menggantung. Berhenti bukan pilihan; berhenti berarti mengakui bahwa ia gagal di salah satu dari dua kewajibannya, dan ia belum siap mengakui itu.
Maka ia membagi malamnya seperti orang membagi roti terakhir di antara terlalu banyak mulut. Sehabis isya dan tadarus berjamaah, saat yang lain tidur, ia turun diam-diam ke koperasi atau menyol di kamar sampai tengah malam. Lalu ia pindah ke perpustakaan — Kang Soleh memberinya izin masuk kapan saja, kepercayaan yang kini ia salahgunakan — dan di sana, di bawah lampu redup, ia membuka buku Hafalan-nya dan menghafal di sepertiga malam, jam yang katanya paling berkah, jam yang seharusnya untuk munajat, kini ia pakai untuk berlomba dengan tenggat.
Tapi sepertiga malam yang dipakai tubuh yang sudah habis bukanlah berkah. Itu siksaan. Fauzan duduk di antara rak-rak buku tua, pulpen di tangan, dan menulis ayat dengan kepala yang terus menunduk, terangkat sebentar, lalu menunduk lagi. Ia melawan kantuk seperti orang melawan arus, dan untuk beberapa menit ia menang, lalu arus itu menariknya, dan ia tertidur dengan kepala di atas buku, pulpen masih tergenggam, ayat yang belum selesai ditulis menggantung di tengah baris.
Di sanalah Kang Soleh menemukannya menjelang subuh.
Santri senior itu datang untuk membuka perpustakaan dan mendapati Fauzan terlipat di kursi, kepala di atas buku, mulut sedikit terbuka, pulpen yang sudah hampir lepas dari jari. Lampu masih menyala. Buku Pesanan dan buku Hafalan tergeletak berdampingan, dan dari noda lem di sampul keduanya, Kang Soleh langsung mengerti apa yang sedang terjadi pada anak ini.
Ia tidak langsung membangunkannya. Ia berdiri sebentar, menatap Fauzan tidur, dan ada sesuatu seperti kesedihan di wajahnya yang nyentrik itu. Lalu ia menyentuh bahu Fauzan pelan. "Le. Bangun, Le. Sudah mau subuh."
Fauzan tersentak bangun, panik, pulpennya jatuh berdenting ke lantai. "Kang Soleh— maaf, saya ketiduran, saya—"
"Sudah, sudah." Kang Soleh menarik kursi, duduk di hadapannya. "Kamu di sini dari jam berapa?"
Fauzan menunduk. "Habis isya, Kang. Saya... saya ngejar hafalan buat ujian."
"Habis isya sampai subuh. Berarti kamu nggak tidur sama sekali." Bukan pertanyaan. Kang Soleh mengambil buku Hafalan, membuka halaman terakhir, melihat ayat yang menggantung tak selesai, garis pulpen yang melenceng ke bawah saat tangannya tertidur. "Dan ini, hafalan yang kamu kejar semalaman, kamu hafal nggak?"
Fauzan diam. Lalu, jujur, menggeleng. "Nggak masuk, Kang. Saya tulis, tapi nggak nempel. Kepala saya kosong."
Kang Soleh mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang sudah ia tahu. "Kamu tahu kenapa nggak nempel?" Ia tidak menunggu jawaban. "Karena otak itu butuh tidur buat nyimpen, Le. Yang kamu hafal siang, baru bener-bener nempel waktu kamu tidur malamnya. Kamu nggak tidur, ya hafalanmu nggak punya tempat buat ngendap. Kamu kira kamu nambah waktu dengan nggak tidur. Padahal kamu malah ngebuang hafalan yang sudah kamu kumpulin."
Fauzan menatapnya, lelah, tidak punya tenaga untuk membantah.
"Dengar, Le." Kang Soleh mencondongkan badan, suaranya pelan tapi tegas. "Saya tahu kamu lagi nanggung beban yang berat. Saya nggak akan ceramahin kamu soal sabar, soal pasrah, omong kosong yang gampang diucapin orang yang perutnya kenyang. Tapi saya mau bilang satu hal yang sering dilupain di pondok ini: tubuh kamu itu juga punya hak. Hak istirahat. Hak makan. Hak tidur. Dan hak itu nggak bisa diutang, Le. Beda sama uang. Uang bisa kamu utang sekarang, bayar nanti. Tidur nggak bisa. Kamu utang tidur, badanmu yang nagih, dan dia nagihnya nggak pakai aba-aba. Dia nagih pas kamu lagi ujian, pas kamu lagi butuh kepala kamu jernih." Ia menepuk buku Hafalan itu. "Kamu lagi ngorbanin tidur buat hafalan dan kerja. Tapi tanpa tidur, dua-duanya jadi sia-sia. Kamu capek, hafalan nggak nempel, kerja juga jadi lambat dan asal. Kamu pikir kamu nambah, padahal kamu ngurang dari semuanya."
Fauzan menundukkan kepala. Air mata mengambang di matanya, bukan karena tersentuh, tapi karena terlalu lelah untuk menahannya. "Saya nggak punya pilihan, Kang," bisiknya. "Ibu saya sakit. Saya harus kirim uang. Tapi saya juga nggak boleh gagal hafalan. Dua-duanya butuh waktu, dan waktu saya nggak cukup. Saya cuma punya malam. Kalau saya tidur, salah satunya pasti gagal."
Kang Soleh diam lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang berbeda, lebih lembut, hampir seperti orang yang berbicara dari pengalaman sendiri, "Le, kadang yang harus kamu pelajari bukan gimana cara nanggung dua beban sekaligus. Tapi gimana cara nerima bahwa kamu nggak bisa nanggung dua-duanya sempurna, dan tetap nggak hancur." Ia berdiri, mengambil buku Hafalan dan menutupnya. "Subuh sebentar lagi. Salat dulu. Habis subuh, tidur. Bukan menghafal. Tidur. Itu perintah saya sebagai penjaga perpustakaan ini, dan kamu nggak boleh masuk ke sini sebelum kamu tidur cukup. Saya kunci kalau perlu."
Fauzan mengangguk lemah, terlalu lelah untuk melawan. Ia memungut pulpennya, membereskan kedua bukunya, dan berjalan ke masjid dengan kaki yang seperti memikul karung pasir. Di luar, langit mulai pucat di balik gunung, dan suara orang-orang menuju subuh terdengar di kejauhan. Kepalanya berdenyut, matanya perih, dan di dalam dadanya, kalimat Kang Soleh terus berputar: kamu nggak bisa nanggung dua-duanya sempurna, dan tetap nggak hancur. Ia belum mengerti sepenuhnya apa artinya. Tapi sebagian kecil dirinya, bagian yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura, tahu bahwa kalimat itu sedang menunjuk ke arah ujian yang menunggunya beberapa hari lagi — ujian yang akan ia masuki dengan tubuh yang sudah ditagih lunas oleh malam-malam tanpa tidur.