Tidak ada keputusan besar yang Fauzan ambil setelah surat itu. Tidak ada momen dramatis di mana ia memilih satu jalan dan meninggalkan yang lain. Yang terjadi lebih pelan dan lebih licik dari itu: ia mulai mencuri waktu, sedikit demi sedikit, dari mana pun ia bisa, dan setiap pencurian kecil terasa wajar pada saat itu, sampai kumpulan pencurian kecil itu menjadi sesuatu yang merobeknya.
Dimulai dari jam istirahat. Jadwal koperasi resminya berakhir sebelum asar, tapi Fauzan mulai datang lebih awal, tepat setelah suapan terakhir makan siang, memangkas waktu istirahatnya sendiri. Lalu ia mulai membawa sepatu yang belum selesai ke kamar, mengerjakannya diam-diam di sela waktu hafalan, jari-jari bekerja sementara matanya seharusnya membaca mushaf. Lalu jam tidur. Ia mulai menyol sampai larut, lalu menghafal setelahnya, sehingga tidurnya yang sudah pendek menjadi lebih pendek lagi, kadang hanya dua tiga jam sebelum bel subuh.
Pak Kasdi senang. Pesanan dari pasar yang dititipkannya ke koperasi selalu kembali cepat, dikerjakan rapi, dan ia bisa mengambil lebih banyak pesanan karena tahu Fauzan akan menyelesaikannya. "Tangan kamu makin cepat, Nak," katanya suatu kali, saat mampir ke pondok mengantar setumpuk sepatu. Tapi lalu ia menatap wajah Fauzan lebih lama, dan senyumnya memudar. "Tapi kamu kok kuyu betul. Matamu cekung. Kamu tidur cukup, nggak?"
"Cukup, Pak," jawab Fauzan, dan itu bohong, salah satu dari banyak bohong yang kini kembali ia kuasai meski sudah berjanji tidak akan berbohong lagi. "Cuma lagi banyak hafalan."
Pak Kasdi tidak sepenuhnya percaya, Fauzan bisa melihat itu. Tapi lelaki tua itu butuh tangan Fauzan untuk pesanannya, dan kebutuhan itu menumpulkan kekhawatirannya. Ia hanya berkata, "Jangan dipaksa-paksa, Nak," lalu pergi, dan Fauzan tahu pesan itu setengah hati, karena keesokan harinya tumpukan pesanan justru bertambah.
Upahnya memang bertambah. Fauzan mengirim lebih banyak ke kampung, dan setiap kiriman memberinya sedikit lega — bukti bahwa ia melakukan sesuatu, bahwa ia tidak duduk diam sementara ibunya sakit. Tapi setiap rupiah yang ia kirim dibayar dengan sesuatu yang tidak terlihat di buku catatannya: jam tidur yang hilang, konsentrasi yang menipis, dan retakan pertama yang mulai muncul di hafalannya.
Retakan itu datang halus pada awalnya. Ayat yang seharusnya sudah kuat tiba-tiba goyah saat ia setor. Surat yang sudah ia khatamkan minggu lalu, saat ditanya ulang oleh Ustaz Romli, keluar tersendat. Bukan lupa total — ayatnya masih ada di suatu tempat di kepalanya — tapi tidak lagi mengalir, tidak lagi otomatis, seperti jalan yang dulu mulus kini berlubang di sana-sini. Metode menulis Kang Soleh masih bekerja, tapi metode itu butuh waktu dan tenaga, dan keduanya kini ia gadaikan ke sepatu.
Ustaz Romli memperhatikan. "Fauzan," katanya suatu sore, setelah Fauzan tersendat di ayat yang ketiga kali ini, "setoranmu maju-mundur. Minggu lalu bagus, sekarang turun lagi. Ada apa?"
"Capek, Ustaz," jawab Fauzan. "Banyak pesanan di koperasi."
Ustaz Romli menatapnya, dan ada keprihatinan di matanya yang membuat Fauzan ingin memalingkan wajah. "Kerjamu di koperasi itu syaratnya hafalan nggak boleh turun. Kamu tahu itu. Kalau begini terus, Ustaz Farid akan cabut jadwal kerjamu, dan itu bukan saya yang mau. Saya cuma mau lihat kamu nggak rugi dua-duanya." Ia menutup mushaf. "Saya tahu kamu anak yang punya alasan, Nak. Tapi alasan nggak bisa nyetor hafalan. Cuma kamu yang bisa."
Kalimat itu menempel di Fauzan sepanjang malam. Ia tahu Ustaz Romli benar. Ia tahu ia sedang menggerogoti satu kewajiban demi memberi makan yang lain. Tapi setiap kali ia membayangkan mengurangi jam kerja, ia membayangkan angka di surat Maryam, dan tangannya kembali meraih sepatu, bukan mushaf. Ibunya butuh uang sekarang. Hafalan bisa dikejar nanti — begitu ia menghibur diri, tanpa benar-benar percaya, karena ia tahu ujian setoran besar tinggal sepekan lagi, dan nanti yang ia janjikan pada diri sendiri tidak akan pernah datang tepat waktu.
Malam itu ia menyol dua pasang sepatu di balik selimut sampai pukul satu, lalu membuka buku Hafalan dengan mata yang sudah hampir tak bisa fokus. Huruf-huruf berenang. Jarinya bergerak menulis ayat di udara, tapi kali ini ayat itu tidak datang. Ia mengulang. Tetap tidak datang. Untuk pertama kali sejak Kang Soleh mengajarinya, metode itu gagal — bukan karena metodenya salah, tapi karena tubuh dan otak yang menjalankannya sudah terlalu kosong untuk diisi apa pun. Fauzan menutup buku itu, menyandarkan kepala ke dinding, dan dalam gelap ia menyadari kebenaran yang sudah lama ia hindari: ia tidak sedang menanggung dua beban. Ia sedang menjatuhkan satu untuk memikul yang lain, dan beban yang ia jatuhkan adalah satu-satunya yang menahan kursinya di pondok ini.