Hari ujian setoran besar tiba dengan subuh yang sama dinginnya, tapi bagi Fauzan pagi itu terasa lebih kelabu dari biasanya — bukan karena cuaca, melainkan karena kabut yang tidak mau pergi dari dalam kepalanya. Ia sudah mencoba menuruti Kang Soleh beberapa hari terakhir, tidur lebih awal, mengurangi sedikit pesanan. Tapi beberapa hari tidak cukup untuk membayar utang berminggu-minggu. Tubuhnya masih lunglai, matanya masih berat, dan di belakang dahinya masih berdenyut rasa berat yang tak kunjung hilang.
Ujian diadakan di aula. Tim asatidz duduk berderet di depan: Ustaz Romli di tengah, Ustaz Farid di sampingnya dengan buku absensi dan pena, serta dua ustaz lain yang lebih senior, salah satunya membawa mushaf besar untuk menyimak. Para santri baru duduk berbaris menunggu giliran, masing-masing dengan wajah tegang, bibir bergerak pelan mengulang hafalan untuk terakhir kali. Burhan duduk beberapa baris di depan Fauzan, tenang, tegak, percaya diri. Komar di sebelah Fauzan, gugup, telapak tangannya berkeringat.
"Aku deg-degan banget, Zan," bisik Komar. "Kamu gimana?"
Fauzan ingin menjawab, tapi mulutnya kering. "Sama," katanya akhirnya, meski di dalam ia merasa jauh lebih buruk dari sekadar gugup. Ia merasa seperti orang yang akan mendaki tebing dengan tangan yang sudah lemas sebelum mulai.
Nama-nama dipanggil satu per satu. Santri-santri maju, duduk bersila di hadapan tim asatidz, lalu menyetor hafalan mereka — surat demi surat, dinilai kelancarannya, ketepatan panjang-pendeknya, makhraj hurufnya. Ada yang lancar mengalir, ada yang tersendat lalu dibetulkan, ada yang harus mengulang. Setiap setoran dicatat Ustaz Farid dengan goresan pena yang terdengar jelas di keheningan aula.
Giliran Burhan tiba. Anak juragan itu maju dengan tenang, duduk, dan mulai menyetor. Hafalannya mengalir lancar, ayat demi ayat keluar tanpa jeda, panjang-pendek tepat, suaranya jelas dan mantap. Tim asatidz mengangguk-angguk. Bahkan dari kejauhan, Fauzan bisa melihat itu setoran yang baik, setoran anak yang punya dasar kuat dan menghafal tanpa beban di pundaknya. Burhan selesai, membungkuk, kembali ke tempatnya dengan wajah yang berusaha rendah hati tapi tidak bisa menyembunyikan kepuasan.
Lalu, "Fauzan Sahal."
Namanya dipanggil, dan untuk sesaat Fauzan tidak bisa menggerakkan kakinya. Komar menyikutnya pelan. "Maju, Zan. Bismillah aja."
Fauzan bangkit dengan lutut yang seperti bukan miliknya, persis seperti hari pertama setoran berbulan-bulan lalu, hari ketika ia tergagap membaca An-Naas dan ditertawakan. Tapi sekarang ia sudah bisa membaca lancar, sudah menghafal puluhan surat. Yang menjadi masalah bukan lagi kemampuannya. Yang menjadi masalah adalah kabut di kepalanya, tangan yang gemetar, dan tubuh yang sudah ditagih lunas oleh malam-malam tanpa tidur.
Ia duduk bersila di hadapan tim asatidz, meletakkan tangan di pangkuan untuk menyembunyikan getarnya. Ustaz Romli menatapnya, dan di mata sang ustaz ada sesuatu yang seperti dukungan diam, tapi juga keprihatinan, karena ia melihat betapa pucat anak ini.
"Mulai dari yang kamu kuasai, Nak," kata Ustaz Romli lembut. "Pelan-pelan."
Fauzan menarik napas, memejamkan mata sebentar, dan memanggil ayat pertama. Ia mulai dengan surat-surat yang paling kuat ia hafal, yang sudah ia tulis ratusan kali, yang sudah ia kaitkan dengan rob dan bau lem dan wajah ibunya. Dan untuk surat-surat pertama itu, hafalannya datang. Tersendat sedikit, tapi datang. Ia melewati satu surat, dua surat, tiga surat. Ada secercah harapan yang mulai menyala di dadanya. Mungkin ia bisa.
Lalu kabut itu turun.
Di tengah surat keempat — surat yang sebenarnya sudah ia kuasai, yang dalam keadaan normal bisa ia lafalkan sambil menyol sepatu — Fauzan tersendat. Ayat yang seharusnya datang tidak datang. Ia mengulang ayat sebelumnya, berharap momentumnya membawanya, tapi sampai di titik yang sama, kepalanya kosong. Ayat itu ada di suatu tempat, ia bisa merasakannya, di ujung lidahnya, di ujung jarinya yang ingin menuliskannya di udara — tapi tidak mau keluar. Tubuhnya yang lelah telah menelannya.
"Tenang, Nak," kata salah satu ustaz senior, memberi sedikit petunjuk, satu kata pembuka ayat. Fauzan menangkapnya, melanjutkan, tapi beberapa ayat kemudian tersendat lagi. Lalu lagi. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia bisa merasakan mata seluruh aula di punggungnya, dan jauh di belakang, ia membayangkan tatapan Burhan, mungkin puas, mungkin tidak, ia tidak berani menoleh.
Ia mencoba metode Kang Soleh, menulis ayat di udara dengan jari di atas lututnya, diam-diam, memanggil hafalan lewat tangan. Untuk beberapa ayat, itu berhasil — tangannya mengingat apa yang lidahnya lupa. Tapi tangannya pun gemetar terlalu hebat, dan kabut di kepalanya terlalu tebal, sehingga bahkan jalur tangan itu tersumbat.
Ustaz Romli menatapnya lama, dan akhirnya berkata, dengan suara yang sangat lembut, "Sudah dulu, Nak. Cukup."
Fauzan berhenti, kepala tertunduk dalam, napas memburu. Ia tidak tahu seberapa banyak yang berhasil ia setor, seberapa banyak yang gagal. Ia hanya tahu bahwa ia tampil jauh di bawah kemampuannya, bahwa surat-surat yang sebenarnya ia kuasai keluar berantakan, dan bahwa tim asatidz baru saja menyaksikan bukan seorang anak yang lemah hafalan, melainkan seorang anak yang menghancurkan hafalannya sendiri dengan sesuatu yang tidak mereka tahu.
"Terima kasih, Fauzan," kata Ustaz Farid, datar, sambil mencatat sesuatu di bukunya. Goresan pena itu terdengar seperti vonis.
Fauzan membungkuk, bangkit, dan kembali ke tempatnya dengan kaki yang nyaris tidak menyangga. Komar menatapnya khawatir, ingin bertanya tapi tidak berani. Fauzan duduk, menunduk, dan menatap kedua tangannya yang masih gemetar — tangan yang bisa menyol sepatu dengan mata terpejam, tapi pagi ini gagal menahan ayat-ayat yang sudah susah payah ia kumpulkan.
Ujian terus berjalan untuk santri-santri lain, tapi Fauzan tidak lagi mendengarnya. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban, sama tergantungnya seperti pertanyaan Kiai dulu di ndalem: apakah yang barusan itu cukup? Apakah setoran yang berantakan tadi melewati standar minimal, atau ia baru saja kehilangan kursinya, kehilangan jalan untuk mengirim nafkah, kehilangan muka ayahnya — semuanya, dalam satu pagi yang berkabut? Ia tidak tahu. Tidak ada yang memberi tahunya. Dan ketidaktahuan itu, sekali lagi, adalah beban yang harus ia pikul sambil menunggu.