Surat dari Maryam datang di hari ketiga setelah pertengkaran dengan Burhan, dan Fauzan membukanya di pojok belakang masjid, tempat yang sudah menjadi sudut rahasianya untuk menerima kabar dari rumah. Amplop cokelat yang sama, tulisan kecil-kecil yang sama. Tapi begitu ia membaca baris-baris pertama, ada sesuatu di dadanya yang sudah memberi tahu bahwa kabar ini berbeda dari yang sebelumnya.
Maryam menulis bahwa uang kiriman Fauzan sudah cukup untuk membawa Ibu ke dokter paru di kota. Mereka pergi naik bus subuh-subuh, Ibu dipapah karena tidak kuat berjalan jauh, dan menunggu setengah hari sebelum diperiksa. Dokter mendengarkan paru-paru Ibu, lalu menyuruhnya menjalani pemeriksaan yang lebih dalam — foto dada, periksa dahak, ambil sampel. Hasilnya, tulis Maryam dengan tangan yang tampak gemetar di sebagian huruf, menunjukkan ada bercak di paru-paru Ibu. Bukan sekadar batuk biasa. Dokter bilang harus diperiksa lebih lanjut untuk memastikan apa itu, dan kemungkinan butuh pengobatan jangka panjang, mungkin tindakan, mungkin rawat inap. Biayanya, tulis Maryam, jauh, jauh lebih besar dari yang sudah mereka keluarkan. Angka yang ia sebut membuat Fauzan harus membaca ulang dua kali untuk memastikan ia tidak salah lihat.
"Le," tulis Maryam di paragraf terakhir, "Kakak nggak tahu harus gimana. Bapak diam saja waktu dengar angkanya, terus malamnya Kakak lihat Bapak duduk di emperan sendirian sampai larut. Kita sudah pinjam ke beberapa tetangga buat yang kemarin. Sekarang biaya yang ini, Kakak nggak tahu dari mana. Tolong kamu yang rajin saja di pondok, Le. Jangan kepikiran. Biar urusan biaya ini Kakak sama Bapak yang pikirin. Ibu titip salam, katanya kamu jangan sampai kurang tidur ngafalin."
Fauzan melipat surat itu pelan-pelan, lalu menyandarkan punggung ke dinding masjid yang dingin. Untuk beberapa saat ia hanya menatap kebun singkong di belakang pondok, kosong, sementara di dalam dadanya sesuatu runtuh perlahan.
Ia pernah merasa lega. Beberapa minggu terakhir, sejak kerjanya resmi dan kirimannya lancar, ada sebagian kecil dirinya yang mulai merasa keadaan terkendali. Ia punya jalan sekarang. Ia bisa menghasilkan, ia bisa mengirim, ibunya bisa berobat. Untuk pertama kali sejak surat pertama Maryam, ia mulai membayangkan bahwa mungkin, dengan kerja keras, ia bisa menanggung kedua bebannya sekaligus. Bahwa menyol sepatu di koperasi, sedikit demi sedikit, cukup.
Sekarang lega itu pecah seperti gelas yang jatuh.
Uang yang ia kumpulkan dari menyol sepatu — empat puluh ribu di sini, lima puluh ribu di sana, dikumpulkan tetes demi tetes dengan tangan yang lelah — tidak ada artinya di hadapan angka yang Maryam sebut. Ia bisa menyol sepatu setiap hari, melewatkan tidur, melewatkan setoran, dan tetap tidak akan cukup mengejar biaya itu dalam waktu yang dibutuhkan. Bercak di paru-paru. Pemeriksaan lebih dalam. Tindakan. Rawat inap. Kata-kata itu berbaris di kepalanya seperti tagihan yang tidak akan pernah bisa ia lunasi dengan palu kecil dan benang lilin.
Komar menemukannya di sana, seperti biasa, dan duduk tanpa bertanya. Untuk waktu yang lama, keduanya hanya diam.
"Kabar buruk?" tanya Komar akhirnya.
Fauzan mengangguk. "Ibu. Paru-parunya ada bercak. Harus diperiksa dalam, mungkin tindakan. Biayanya..." Ia tidak sanggup menyebut angkanya. "Banyak banget, Mar. Lebih banyak dari yang bisa aku hasilkan dari menyol sepatu, walaupun aku kerja seharian penuh selamanya."
Komar menarik napas panjang. Ia tidak menawarkan penghiburan kosong, tidak bilang sabar atau rezeki sudah diatur. Anak penarik becak itu tahu betul bahwa kalimat-kalimat seperti itu, di telinga orang yang sedang kekurangan, terdengar seperti ejekan. Ia hanya berkata pelan, "Aku ikut sedih, Zan. Sumpah." Lalu, setelah diam sebentar, "Tapi jangan kamu pikul sendirian. Kemarin kamu pikul sendirian, ketahuan, terus malah dibantuin Kiai. Mungkin kali ini juga begitu. Jangan langsung putus asa."
Fauzan ingin percaya itu. Tapi di kepalanya, perhitungan dingin yang selalu jadi keahliannya sudah bekerja, dan perhitungan itu tidak memberi ruang untuk harapan. Ia tahu berapa upah menyol sepatu. Ia tahu berapa pesanan yang masuk dalam sebulan. Ia tahu berapa jam yang ia punya. Dan ia tahu, dengan kepastian yang menyakitkan seperti hanya angka yang bisa, bahwa menyol sepatu seadanya, sebanyak apa pun, tidak akan pernah cukup.
Malam itu ia tidak bisa menulis ayat. Bukunya yang bertanda Hafalan terbuka di pangkuannya, pulpen di tangan, tapi jarinya tidak bergerak. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang ia takutkan jawabannya: kalau menyol sepatu tidak cukup, apa lagi yang ia punya? Berapa banyak waktu hafalan yang harus ia korbankan? Berapa jauh ia harus jatuh ke dalam dunia kerja, meninggalkan dunia ayat, demi nyawa ibunya? Dua kewajiban yang sudah lama menariknya ke arah berlawanan kini menarik lebih kuat dari sebelumnya, dan untuk pertama kali, Fauzan merasa salah satunya pasti akan robek.