Burhan menemukannya di sudut koperasi pada suatu siang, jongkok di belakang meja kayu kecil dengan sepatu pantofel di pangkuan, jari-jari hitam oleh lem, sebuah palu kecil mengetuk paku ke sol dengan irama yang tenang. Di samping Fauzan, tumpukan sepatu menunggu giliran, dan di dinding tergantung papan tulis kecil bertuliskan jadwal reparasi koperasi. Semuanya terang-terangan, tercatat, sah.
Burhan berdiri di ambang pintu koperasi cukup lama sebelum Fauzan menyadarinya. Saat Fauzan mendongak dan melihat anak juragan itu, ia menyiapkan diri untuk ejekan. Tapi yang ada di wajah Burhan bukan ejekan. Itu kebingungan, kebingungan yang dalam, kebingungan seseorang yang melihat aturan dunianya tidak berlaku.
"Jadi ini," kata Burhan akhirnya, melangkah masuk. "Yang dulu kamu sembunyi-sembunyiin di pasar, sekarang dipajang di koperasi pondok. Kamu yang melanggar, eh malah dikasih meja sendiri." Ia menyilangkan tangan. "Aku nggak ngerti, Zan. Sungguh. Aku ngancam mau lapor karena kamu kerja diam-diam. Sekarang kamu kerja terang-terangan dan nggak ada yang ngehukum. Kok bisa?"
Fauzan meletakkan palunya. "Kiai yang ngizinin. Resmi, lewat koperasi."
"Resmi." Burhan mengulang kata itu seperti mengunyah sesuatu yang pahit. "Enak banget. Kamu langgar aturan, terus diajak ke ndalem, terus pulang-pulang malah dapat kerjaan resmi. Aku tiap hari setoran rapi, nggak pernah keluar tanpa izin, dan aku nggak pernah diajak ngobrol berdua sama Kiai. Kamu tahu kenapa? Karena kamu pinter ngambil hati. Kamu mainin cerita sedihmu, ibu sakit ini itu, sampai Kiai luluh. Itu namanya menjilat, Zan."
Kata menjilat itu menusuk. Fauzan merasa darahnya naik, panas, ke wajah. Tapi ia menahan diri. "Kamu nggak tahu apa-apa, Burhan."
"Aku tahu cukup," balas Burhan, suaranya meninggi. "Aku tahu kamu masuk sini tanpa bisa baca, pakai beasiswa, sementara aku bayar penuh. Aku tahu kamu keluyuran ke pasar diam-diam. Dan sekarang aku tahu kamu malah dapat hadiah dari pelanggaranmu. Mana keadilannya? Di sini ada santri yang lebih miskin dari kamu, yang nggak pernah dikasih izin kerja, yang nahan lapar diam-diam. Kenapa kamu yang dapat? Karena kamu pinter bikin Kiai kasihan!"
"Cukup!" Fauzan berdiri, dan untuk pertama kali sejak masuk pondok ia tidak menundukkan kepala di hadapan Burhan. "Kamu pikir aku menikmati ini? Kamu pikir aku senang jongkok di sini benerin sepatu orang sementara teman-temanku menghafal? Kamu pikir aku bangga ketahuan, dipanggil ke ndalem, dipermalukan?" Suaranya bergetar, tapi ia tidak berhenti. "Kamu lihat tanganku ini, Burhan? Hitam tiap hari. Kamu lihat aku ngantuk di halaqah karena malamnya nggak tidur ngejar hafalan? Kamu mau tukeran sama aku? Kamu mau jadi anak yang bapaknya sepi order, ibunya sakit, yang harus benerin sepatu orang biar keluarganya bisa makan? Ayo, tukeran. Aku kasih meja ini ke kamu."
Burhan terdiam, terkejut oleh ledakan itu. Anak pendiam yang biasanya menunduk ini tiba-tiba berdiri tegak dengan mata yang menyala. Tapi Burhan terlalu keras kepala untuk mundur begitu saja. Ia menutup keterkejutannya dengan kemarahan yang lebih dangkal.
"Tetap aja nggak adil," gumamnya, meski nadanya sudah kehilangan tenaga. "Kamu dapat keistimewaan. Itu faktanya."
"Iya, aku dapat," balas Fauzan, lebih pelan sekarang, tapi tegas. "Dan kamu tahu apa yang kamu dapat, Burhan? Kamu dapat bapak yang punya tiga toko bangunan, yang bisa bayar pondok penuh, yang nggak akan pernah biarin kamu kelaparan. Kamu dapat jam tangan yang harganya bisa buat makan keluargaku sebulan. Kalau kita ngitung keistimewaan, aku masih kalah jauh dari kamu."
Kalimat itu memukul Burhan di tempat yang tidak terduga. Wajahnya berubah, dan untuk sesaat ada sesuatu yang retak di balik kesombongannya, sesuatu yang Fauzan tidak sempat baca karena Burhan buru-buru berbalik. "Terserah," katanya, lalu keluar dari koperasi dengan langkah cepat.
Fauzan duduk kembali, jantungnya masih berdebar, tangannya gemetar. Ia mengambil pantofel yang tadi ia kerjakan, mencoba kembali ke iramanya yang tenang, tapi pikirannya berkecamuk. Ia tahu Burhan hanya tahu setengah cerita — tahu soal kerja, tahu soal beasiswa, tapi tidak benar-benar tahu soal ibunya yang terbaring di kampung dengan paru-paru yang mengkhianatinya, tidak tahu soal rasa takut yang menggigit Fauzan setiap kali surat dari Maryam datang. Burhan menilai dari permukaan, dari ketidakadilan yang ia lihat, dan dari permukaan itu, Fauzan harus akui, ia memang tampak seperti anak yang beruntung.
Tapi yang membuat Fauzan termenung bukan tuduhan Burhan. Yang membuatnya termenung adalah retakan yang ia lihat sekilas tadi, saat ia menyebut bapak Burhan. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang sakit, yang membuat Fauzan curiga bahwa kemarahan Burhan tentang keadilan sebenarnya bukan tentang keadilan sama sekali. Bahwa di balik jam tangan mahal dan tiga toko bangunan itu, ada anak yang juga, dengan caranya sendiri, dikirim ke pondok dan ditinggal di gerbang. Fauzan belum tahu pasti. Tapi ia menyimpan firasat itu, dan kembali mengetuk paku ke sol, satu ketukan demi satu ketukan, di koperasi yang sunyi.