Ustaz Farid menerimanya keesokan paginya di kantor kecil di samping aula, ruangan penuh map dan buku besar absensi yang sama tempat dulu ia diberi tahu tentang syarat beasiswa. Tapi kali ini sikap Ustaz Farid berbeda. Tidak ada lagi nada datar yang mengukur. Ada sesuatu yang lebih hati-hati, lebih waspada, seperti orang yang diberi titipan berharga dan tidak sepenuhnya yakin titipan itu akan utuh saat dikembalikan.
"Kiai sudah bicara sama saya," katanya, membuka sebuah buku jadwal. "Terus terang, Nak, saya nggak sepenuhnya setuju. Bukan karena saya nggak kasihan sama ibumu. Tapi karena saya yang tiap hari lihat absensi setoran, dan saya tahu seberapa gampang anak yang dikasih kelonggaran jadi lupa diri. Saya sudah lihat banyak. Jadi saya bilang sama kamu sekarang, di depan: kelonggaran ini bukan hadiah. Ini pinjaman. Bayarnya pakai hafalan yang nggak boleh telat satu hari pun."
"Saya ngerti, Ustaz," jawab Fauzan.
"Ngerti gampang. Jalanin yang susah." Ustaz Farid membalik buku jadwalnya, menunjukkan kolom-kolom yang sudah ia isi dengan pensil. "Ini jadwalmu. Senin sampai Kamis, kamu kerja di koperasi habis zuhur sampai sebelum asar. Dua jam setengah. Cuma itu. Lewat dari itu, saya catat sebagai pelanggaran. Jumat libur kerja, fokus hafalan. Sabtu Minggu kerja boleh sampai tiga jam karena nggak ada kitab sore. Sisanya — subuh, malam, sela-sela — semua buat hafalan. Setoranmu ke Ustaz Romli tetap tiap hari, sama seperti yang lain. Kalau dalam dua minggu setoranmu mundur, saya panggil lagi, dan kita evaluasi ulang."
Fauzan menatap jadwal itu. Rapi, ketat, tanpa celah. Setiap jam punya namanya. Dan justru ketertibannya itu yang membuat Fauzan, anehnya, merasa cemas. Dulu, saat ia menyelinap diam-diam, selalu ada ruang untuk berdalih: aku capek, aku terpaksa, aku nggak punya pilihan. Tapi sekarang semuanya tercatat. Tidak ada lagi tempat sembunyi kalau ia lelah. Tidak ada lagi alasan kalau ia gagal.
"Dan satu hal lagi," Ustaz Farid menambahkan. "Ujian setoran besar tetap jalan. Dua pekan lagi. Kelonggaran kerja ini nggak mengurangi tuntutan ujian sedikit pun. Kamu tetap harus capai standar minimal seperti santri lain — lancar baca, dan setor hafalan yang sudah dikumpul. Jangan pikir karena Kiai baik sama kamu, ujiannya jadi gampang. Justru sebaliknya. Sekarang semua mata akan lihat: apakah anak yang dikasih kelonggaran ini pantas dikasih kelonggaran."
Fauzan menelan ludah. Dua pekan. Ia menghitung di kepalanya berapa surat yang sudah ia kuasai dan berapa yang masih harus dikejar, dan angka itu masih terasa seperti tebing.
"Saya siap, Ustaz," katanya, meski di dalam ia tidak sepenuhnya yakin.
Malam itu, di kamar tujuh, Fauzan melakukan sesuatu yang akan menjadi kebiasaannya berbulan-bulan ke depan. Ia mengeluarkan dua buku tulis tipis dari tasnya. Yang pertama, sampulnya ia tandai dengan tulisan tangan: Hafalan. Di dalamnya ia menulis ayat-ayat dengan metode Kang Soleh — ditulis, dibaca, diucap, dirasakan — halaman demi halaman, ayat demi ayat, masing-masing dikaitkan pada sesuatu yang ia kenal: rob yang naik di kampung, bau lem sepatu, wajah ibunya.
Buku kedua, sampulnya ia tandai: Pesanan. Di dalamnya ia mencatat dengan tulisan yang sama rapinya: jenis sepatu, kerusakan, ongkos, bagian untuknya, tanggal selesai. Kolom-kolom angka yang ia kuasai jauh lebih mudah daripada huruf hijaiah, dunia yang ia mengerti sejak kecil.
Komar mengintip dari kasur sebelah. "Dua buku, Zan? Kayak juragan."
Fauzan tersenyum tipis. "Satu buat ngitung ayat, satu buat ngitung sepatu."
"Kepala kamu muat semua itu?"
"Harus muat," jawab Fauzan pelan. "Nggak ada pilihan lain."
Dari pojok kamar, Burhan mengangkat wajah dari mushafnya, memperhatikan kedua buku itu, lalu kembali menunduk tanpa berkata apa-apa. Tapi Fauzan menangkap sesuatu di tatapan singkat itu — bukan ejekan seperti dulu, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan keheranan, mungkin secuil rasa hormat yang anak juragan itu sendiri belum mau akui.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama baru. Habis zuhur, Fauzan turun ke koperasi yang kini punya sudut khusus untuk reparasi — meja kayu kecil, kotak alat sol yang ia bawa dari rumah, tumpukan sepatu santri dan warga sekitar yang rusak. Pak Kasdi sesekali mengirim pesanan dari pasar lewat seorang pengurus, dan keduanya jadi semacam mitra yang sah. Tangan Fauzan bekerja cepat, dan untuk pertama kali ia bekerja tanpa harus melirik ke belakang, tanpa jantung berdebar takut ketahuan.
Tapi keterbukaan itu punya harganya. Sebelum dirahasiakan, kelelahan bisa ia sembunyikan di balik dalih. Sekarang, ketika ia mengantuk di halaqah sore karena tangannya pegal menyol sepatu, tidak ada lagi yang bisa ia salahkan kecuali dirinya. Ketika setorannya tersendat, Ustaz Romli menatapnya dengan pertanyaan diam, dan Fauzan tahu pertanyaan itu kini punya gigi: kamu sudah dikasih jalan, kenapa masih tersandung?
Malam-malam, setelah semua orang tidur, Fauzan menyalakan senter kecil di balik selimut dan membuka buku Hafalan-nya, menulis ayat di udara dengan jari, mengejar setiap menit yang ia bisa. Tubuhnya lelah, matanya perih, tapi ia terus menulis. Karena ia tahu, untuk pertama kali sejak diantar ke gerbang, bebannya sudah tertib, sudah punya bentuk dan nama. Dan beban yang tertib, ia mulai sadar, justru yang paling tidak boleh dijatuhkan — karena tidak ada lagi kekacauan yang bisa disalahkan kalau ia gagal.