Panggilan kedua datang dua malam kemudian, lagi-lagi setelah isya, dibawa oleh pengurus yang sama. Tapi kali ini langkah Fauzan ke ndalem terasa berbeda. Ketakutan masih ada, tapi tidak lagi menguasai. Di antara takut itu, ada keingintahuan, dan sesuatu yang lebih lembut yang ia belum berani namai.
Kiai sudah menunggunya di kursi rotan yang sama, dengan tasbih yang sama di tangan dan gelas air serta bungkus obat di meja kecil. Wajahnya tampak sedikit lebih segar dari malam pengakuan, meski batuknya masih sesekali muncul. Ia menyuruh Fauzan duduk, lalu menatapnya lama, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu tapi ingin memastikan sekali lagi kepada siapa keputusan itu ia berikan.
"Saya sudah mikir dua malam, Nak," kata Kiai. "Dan saya mau bilang dulu: secara aturan, apa yang kamu lakukan itu pelanggaran. Bohong, keluar tanpa izin, kerja diam-diam. Kalau saya tegakkan aturan mentah-mentah, kamu memang harus dihukum, mungkin dipulangkan. Pengurus yang lain pasti setuju itu."
Fauzan menunduk, menyiapkan diri.
"Tapi," Kiai melanjutkan, "aturan itu dibuat buat menjaga santri, bukan buat menghancurkannya. Aturan yang dipakai buat ngehukum anak yang nyari nafkah buat ibunya yang sakit, itu aturan yang sudah lupa kenapa dia dibuat." Ia meletakkan tasbihnya. "Jadi saya nggak akan pulangkan kamu, Nak."
Fauzan mengangkat wajah, dan ada sesuatu yang melonjak di dadanya, terlalu cepat untuk diatur.
"Tapi saya juga nggak bisa biarkan kamu terus menyelinap dan bohong," lanjut Kiai, kali ini lebih tegas. "Itu nggak baik buat kamu, dan nggak adil buat santri lain yang nurut aturan. Jadi begini tawaran saya. Dengar baik-baik."
Fauzan mencondongkan badan.
"Pondok ini punya koperasi kecil. Selama ini ngurusin sembako, alat tulis, kebutuhan santri. Mau saya tambah satu bagian: bagian reparasi dan jual-beli barang bekas, termasuk sepatu. Kamu boleh kerja di situ. Resmi. Terjadwal. Kamu menyol sepatu, benerin barang, dan upahmu halal, tercatat, nggak perlu kamu sembunyikan dari siapa-siapa. Hasilnya boleh kamu kirim ke ibumu, dan pondok yang bantu ngirimkan supaya nggak ada lagi urusan struk-strukan diam-diam." Kiai menatapnya tajam. "Tapi ada syaratnya, dan syarat ini mutlak. Hafalanmu nggak boleh tertinggal. Kamu tetap harus capai target seperti santri lain. Kalau hafalanmu jeblok gara-gara kerja, jadwal kerjamu saya cabut. Adil?"
Fauzan terdiam, mencerna. Ini bukan hukuman. Ini bukan pengampunan kosong. Ini sesuatu yang lebih sulit ia pahami: sebuah jalan yang dibuka khusus untuknya, jalan yang mengubah pelanggarannya menjadi pekerjaan yang sah. Apa yang selama ini ia curi dengan rasa bersalah, kini diberikan padanya dengan terhormat. Dan justru karena diberikan dengan terhormat, beban itu berubah bentuk — bukan lagi beban sembunyi-sembunyi, tapi beban tanggung jawab yang penuh.
"Kenapa, Kiai?" Pertanyaan itu lolos sebelum ia sempat menahannya. "Kenapa Kiai repot-repot bikin jalan buat saya? Saya cuma anak yang melanggar. Pondok nggak rugi apa-apa kalau saya dipulangkan."
Kiai tersenyum, senyum yang lelah tapi hangat. Ia diam sebentar, lalu berkata pelan, "Karena saya tahu rasanya, Nak. Mikul beban yang bukan kamu yang pilih."
Fauzan menatapnya, tak mengerti.
"Kamu pikir saya selalu mau jadi kiai?" Lelaki tua itu menatap jauh, ke rak kitab yang penuh sampai langit-langit. "Saya ini anak bungsu. Yang seharusnya nerusin pondok abah saya itu kakak saya. Tapi kakak saya meninggal muda, waktu saya masih mondok di tempat lain, masih punya rencana sendiri buat hidup saya. Tahu-tahu abah saya datang, bilang, kamu yang nerusin, Le. Nggak ada pilihan lain. Saya waktu itu marah, Nak. Persis kayak kamu di gerbang dulu. Saya merasa hidup saya diambil, dijanjikan ke sesuatu yang bukan saya yang janji." Ia batuk pelan. "Saya butuh bertahun-tahun buat berhenti merasa terpenjara, dan mulai ngerti kenapa saya di sini. Jadi kalau saya lihat anak lima belas tahun mikul nazar bapaknya sambil nyari nafkah buat ibunya, saya nggak lihat pelanggar, Nak. Saya lihat diri saya yang dulu."
Fauzan tidak bisa berkata apa-apa. Gambaran tentang Kiai yang selama ini ia simpan — sosok agung, penagih budi, pemilik nazar yang menjadi rantai di lehernya — runtuh sepenuhnya, dan di tempatnya berdiri seorang manusia tua yang rapuh, yang pernah marah seperti dirinya, yang pernah merasa terpenjara seperti dirinya, dan yang justru karena itu memilih untuk membuka pintu daripada menutupnya.
"Saya terima, Kiai," kata Fauzan akhirnya, suaranya tebal. "Saya akan kerja resmi. Dan saya akan jaga hafalan saya. Saya janji."
Kiai mengangkat tangan. "Jangan janji ke saya, Nak. Janji ke dirimu sendiri. Saya cuma manusia, saya bisa keliru, saya bisa mati besok. Yang harus kamu pegang teguh itu janjimu ke dirimu, bukan ke saya." Ia melambai ke pintu. "Sudah. Pulang. Besok temui Ustaz Farid, bilang saya yang suruh, dia akan atur jadwalnya."
Fauzan membungkuk dalam, lebih dalam dari malam-malam sebelumnya, lalu mundur ke pintu. Di luar, malam cerah tanpa gerimis, dan bintang-bintang menggantung di atas kaki gunung. Tapi ia tidak merasa selega yang ia bayangkan. Karena di balik kelegaan, ia menyadari sesuatu yang dingin dan jelas: kini tidak ada lagi alasan untuk gagal. Tidak ada lagi rahasia yang bisa ia jadikan dalih, tidak ada lagi beban sembunyi yang bisa ia salahkan kalau hafalannya tertinggal. Kiai telah mengangkat satu rantai dari lehernya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih berat — kepercayaan. Dan kepercayaan, Fauzan mulai mengerti, adalah beban yang paling tidak boleh dijatuhkan.