Malam itu Fauzan hampir tidak tidur. Bukan karena takut lagi — rasa takut akan vonis sudah dipindahkan Kiai ke esok hari — tapi karena justru penundaan itu yang menyiksa. Lebih mudah menerima hukuman yang sudah jelas daripada menunggu hukuman yang belum berbentuk. Ia berbaring telentang di kasur tipisnya, menatap langit-langit gelap, mendengar napas teratur teman-teman sekamar dan gumaman ayat Sulaiman dalam tidurnya, dan di kepalanya berputar terus-menerus satu kalimat Kiai: berani percaya bahwa nggak semua orang dewasa mau memanfaatkan kelemahanmu.
Komar terbangun sekali, mengintip ke arahnya. "Gimana tadi di ndalem?" bisiknya, takut membangunkan yang lain.
"Besok aja, Mar," jawab Fauzan pelan. "Aku ceritain besok."
Komar tidak memaksa. Ia hanya menepuk lengan Fauzan sekali, gestur kecil yang berarti aku di sini kalau kamu butuh, lalu kembali memejamkan mata. Tapi Fauzan tahu sahabatnya itu juga tidak benar-benar tidur. Ada solidaritas diam di antara mereka, solidaritas anak-anak miskin yang tahu rasanya menunggu kabar buruk.
Subuh datang dengan kabut yang sama dinginnya. Fauzan menjalani harinya seperti yang Kiai perintahkan: bangun, antre pancuran, salat berjamaah, lalu duduk di halaqah Ustaz Romli untuk setoran. Tapi tubuhnya hadir dan pikirannya jauh. Saat gilirannya tiba, ia maju dengan mushaf, mulai melafalkan surat yang semalam masih ia kuasai, dan di tengah jalan ayatnya berantakan. Kata tertukar, urutan kacau, lidahnya tersandung di tempat yang biasanya lancar. Bukan karena ia tidak hafal, tapi karena separuh kepalanya masih duduk di kursi rotan ndalem, menunggu.
Ustaz Romli mengernyit. "Fauzan, ini kemarin sudah lancar. Kok hari ini mundur lagi?"
"Maaf, Ustaz," Fauzan menunduk. "Saya... kurang fokus."
Ustaz Romli menatapnya beberapa saat, dan Fauzan tahu sang ustaz menangkap bahwa ada yang tidak beres, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kurang fokus. Tapi Ustaz Romli tidak mengorek. Ia hanya berkata, "Ulangi sorenya. Tarik napas dulu. Hafalan itu nggak suka sama hati yang lagi ribut." Lalu ia menyuruh Fauzan mundur dan memanggil santri berikutnya.
Di pojok halaqah, Burhan memperhatikan. Sejak semalam, sejak Fauzan dipanggil ke ndalem, ada sesuatu yang berubah di sikap anak juragan itu. Bukan lagi tatapan menang yang biasa ia lemparkan ke Fauzan, melainkan tatapan gelisah, hampir bersalah. Dan Fauzan, meski sibuk dengan kecemasannya sendiri, menangkapnya. Ketika halaqah bubar, Burhan menghampirinya di teras, sesuatu yang nyaris tak pernah ia lakukan.
"Zan," katanya, suaranya tidak setajam biasa. "Soal semalam. Yang manggil kamu ke ndalem." Ia berhenti, menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Itu bukan aku. Aku nggak lapor. Beneran. Aku memang ngancam mau lapor, tapi aku belum lakuin apa-apa. Aku cuma... aku cuma nggak mau kamu kira aku yang ngadu."
Fauzan menatapnya, sedikit terkejut. Beberapa hari lalu, Burhan adalah pedang yang menggantung di atas kepalanya. Sekarang anak itu berdiri di hadapannya dengan wajah yang nyaris memohon untuk dipercaya. Dan anehnya, Fauzan percaya. Karena ia ingat tatapan Burhan semalam saat pengurus menyebut namanya — keterkejutan, bukan kemenangan.
"Aku tahu bukan kamu," kata Fauzan pelan. "Ketahuannya dari arah lain. Bukan dari kamu."
Bahu Burhan turun, kelegaan yang ia coba sembunyikan tapi gagal. "Oh." Ia diam sebentar, lalu bertanya dengan nada yang berusaha terdengar acuh tapi tidak berhasil, "Terus... kamu dihukum? Dipulangkan?"
"Belum tahu. Kiai bilang mau mikir dulu."
Burhan mengangguk, tampak ingin berkata sesuatu lagi tapi mengurungkannya. Akhirnya ia hanya berkata, "Ya sudah," lalu pergi. Tapi di langkahnya yang menjauh, Fauzan melihat sesuatu yang dulu tak pernah ada: keraguan seorang anak yang baru menyadari bahwa permainan kekuasaan kecil-kecilan yang ia mainkan ternyata bertaut dengan hidup orang lain yang sungguhan.
Sepanjang hari Fauzan menjalani jadwal dengan tubuh yang seperti bukan miliknya. Saat makan siang ia hampir tak menyentuh nasinya. Saat mengaji kitab sore, huruf-huruf di lembaran kuning itu berenang di matanya. Komar akhirnya menariknya ke pojok belakang masjid dan memaksanya bercerita, dan Fauzan menceritakan semuanya — pengakuan di ndalem, struk yang terbongkar lewat warung, penundaan vonis. Komar mendengarkan dengan mata membelalak.
"Jadi yang nemuin bukan Burhan, tapi struk transferanmu sendiri," gumam Komar, geleng-geleng. "Gila. Hati-hati banget kamu sembunyiin, eh ketahuan dari kertas." Lalu nadanya melembut. "Tapi Kiai nggak langsung mulangin kamu, Zan. Itu tanda baik. Kalau beliau mau, semalam juga sudah diputus. Yang ditunda itu artinya masih dipikirin gimana caranya nggak nyakitin kamu."
Fauzan tidak menjawab. Tapi kalimat Komar itu menetap di kepalanya. Untuk pertama kali sejak diantar ke gerbang, ia menyadari sesuatu yang menggoyahkan seluruh peta dunianya: nasibnya kini sepenuhnya berada di tangan orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai penagih, sebagai pemilik aturan yang mencekik, sebagai pihak seberang. Dan untuk pertama kali, ia tidak yakin lagi mereka itu musuh.
Ia teringat ayahnya, yang dulu juga datang ke pondok ini dengan tangan gemetar, hampir bangkrut, untuk meminta tolong pada orang yang sama. Dan ia teringat bahwa orang itu menolong tanpa minta dibalikkan. Mungkin, pikir Fauzan dengan rasa malu yang perlahan tumbuh, ia telah salah menilai sejak awal. Mungkin yang mengikatnya selama ini bukan kekejaman siapa-siapa, melainkan ketakutannya sendiri untuk percaya. Malam itu ia tidur lebih cepat dari semalam, bukan karena tenang, tapi karena lelah menunggu — dan di balik kelelahan itu, untuk pertama kali, ada secercah hal yang menyerupai harapan.