Pertanyaan itu menggantung di udara ndalem yang sunyi, dan untuk beberapa saat Fauzan tidak bisa menjawab apa pun. Tenggorokannya tercekat. Jam dinding berdetak, gerimis menderas pelan di atap, dan struk tipis itu masih bergetar di antara dua jari keriput Kiai. Segala alasan yang sudah ia susun sepanjang jalan dari kamar tujuh — sangkalan, dalih, pembelaan — runtuh sekaligus di hadapan kalimat sependek itu. Karena Kiai tidak menuduh. Kiai bertanya. Dan pertanyaan jauh lebih sulit dilawan daripada tuduhan.
Fauzan menunduk dalam-dalam. Ia bisa saja berbohong sekali lagi, mengarang cerita tentang titipan teman atau uang temuan. Bohong sudah jadi sesuatu yang ia kuasai beberapa minggu terakhir, dan ia tahu betapa mudahnya bohong berikutnya keluar setelah yang pertama. Tapi di hadapan lelaki tua yang batuknya terdengar lebih lemah dari sangkaannya, yang ruang tamunya lebih miskin dari yang ia bayangkan untuk seorang kiai besar, kebohongan terasa seperti melempar batu ke orang yang sudah duduk.
"Buat ibu saya, Kiai," katanya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi begitu kata pertama keluar, sisanya mengalir seperti bendungan yang jebol. "Ibu saya sakit. Paru-parunya. Sudah dua bulan. Awalnya cuma batuk, sekarang kalau jalan ke kamar mandi saja sudah ngos-ngosan. Harus diperiksa ke dokter di kota, tapi nggak ada biaya. Bapak sudah jarang dapat order sepatu. Kakak saya jahit borongan, tapi nggak cukup." Ia menelan ludah. "Saya di sini makan, tidur, belajar, semua ditanggung pondok. Tapi keluarga saya di rumah kelaparan, Kiai. Saya nggak bisa cuma duduk menghafal sementara ibu saya sesak napas. Jadi saya... saya benerin sepatu di pasar. Di kios Pak Kasdi. Diam-diam. Saya bohong sama penjaga gerbang, saya bohong sama teman. Uangnya saya kirim ke kampung lewat warung di pasar."
Ia berhenti, napasnya memburu. Ada sesuatu yang lega dan sekaligus mengerikan dalam mengatakannya dengan keras. Selama ini rahasia itu ia simpan sendirian sampai punggungnya bengkok, dan kini ia menaruhnya di meja seseorang, telanjang, untuk dihakimi.
"Saya tahu saya salah, Kiai," lanjutnya, kepala makin tertunduk. "Saya langgar aturan pondok. Saya gadaikan waktu hafalan saya. Saya tahu hukumannya. Kalau Kiai mau memulangkan saya, saya terima. Tapi tolong... jangan kasih tahu Bapak kenapa saya dipulangkan. Biar Bapak kira saya cuma bodoh, nggak bisa menghafal. Jangan sampai Bapak tahu saya melanggar. Beliau sudah cukup menanggung malu."
Kiai tidak langsung menjawab. Ia meletakkan struk itu kembali ke meja, perlahan, seolah kertas itu rapuh. Lalu ia bersandar di kursi rotannya, memejamkan mata sebentar, dan menarik napas panjang yang berakhir dengan batuk kecil. Fauzan menunggu vonis. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk amarah, untuk ceramah panjang tentang kepercayaan donatur yang ia khianati, tentang aturan yang ia injak. Ia siap untuk semua itu.
Yang tidak ia siapkan adalah keheningan.
Kiai diam lama sekali. Begitu lama sampai Fauzan berani mengangkat wajah sedikit, dan ia mendapati lelaki tua itu tidak menatapnya dengan marah, melainkan dengan sesuatu yang lebih sulit ditanggung: kesedihan. Bukan kesedihan yang menyalahkan, tapi kesedihan seseorang yang baru saja melihat beban yang terlalu berat di pundak yang terlalu kecil.
"Berapa umurmu, Nak?" tanya Kiai pelan.
"Lima belas, Kiai."
Kiai mengangguk, dan ada sesuatu yang bergetar halus di rahangnya. "Lima belas," ulangnya, seakan angka itu sendiri yang menyakitinya. "Anak lima belas tahun, menanggung nazar bapaknya, ditambah nyari nafkah buat ibunya yang sakit. Sambil belajar dari nol. Sambil ditertawakan teman-temannya." Ia menggeleng pelan. "Dan kamu pikir hukuman yang pantas buat itu adalah dipulangkan."
Fauzan tidak mengerti ke mana arah ini. Ia hanya diam.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang, Nak?" suara Kiai turun, hampir bisik, dan di dalamnya ada nada yang membuat Fauzan terkejut — nada terluka, bukan menghukum. "Kenapa kamu pilih bohong, melanggar, capek sendirian, daripada datang ke pengurus, ke Ustaz Farid, ke saya, dan bilang: ibu saya sakit, saya butuh bantuan? Kamu pikir pondok ini cuma mau hafalanmu, nggak peduli ibumu hidup atau mati?"
Pertanyaan itu menohok Fauzan dari arah yang sama sekali tak ia duga. Selama ini ia melihat pondok sebagai penagih, sebagai aturan yang mencekik, sebagai tempat yang mau menukar masa depannya dengan budi ayahnya. Tak pernah sekali pun terlintas di kepalanya bahwa ia boleh meminta tolong. Karena meminta tolong, di dunia tempat ia tumbuh, sama saja dengan menambah utang. Dan keluarganya sudah terlalu banyak utang.
"Saya..." Fauzan mencari kata, tapi tak menemukannya. "Saya nggak tahu boleh, Kiai. Di kampung saya, kalau kita minta tolong, kita jadi beban. Bapak saya selalu bilang, lebih baik capek sendiri daripada ngerepotin orang."
Kiai tersenyum tipis, senyum yang justru terlihat lebih sedih dari air mata. "Itu bapakmu banget," katanya pelan. "Persis. Sahal dulu juga begitu. Hampir bangkrut, hampir kehilangan rumah, tapi dia nggak mau minta tolong sampai betul-betul mentok. Sampai dia datang ke sini dengan tangan gemetar." Ia menatap jauh, ke suatu titik di masa lalu yang hanya ia yang bisa lihat. "Dan sekarang anaknya mewarisi keras kepala yang sama. Capek sendirian, daripada minta tolong."
Fauzan tidak tahu harus berkata apa. Sesuatu di dadanya terasa longgar dan sakit sekaligus, seperti simpul yang ditarik terlalu kencang lalu tiba-tiba dilepaskan.
Kiai batuk lagi, lebih lama kali ini, dan meraih gelas air di sampingnya. Tangannya gemetar saat mengangkatnya. Setelah minum, ia meletakkan gelas itu kembali, dan untuk beberapa saat hanya memandangi tasbih di tangannya, butir demi butir berputar pelan.
"Sudah malam," katanya akhirnya, suaranya lelah. "Saya nggak akan kasih keputusan sekarang, Nak. Soal ini terlalu penting buat diputuskan capek-capek di malam hari. Kamu pulang dulu. Tidur. Besok jalani harimu seperti biasa — setoran, mengaji, semua. Jangan kabur, jangan ngapa-ngapain. Biar saya pikirkan ini semalam."
Fauzan mengangkat wajah, tak percaya. "Saya... nggak dipulangkan, Kiai?"
"Saya bilang saya belum putuskan," jawab Kiai, dan ada sedikit ketegasan kembali di suaranya. "Pikirkan ini: kamu sudah berani bohong dan melanggar demi ibumu. Sekarang saya minta kamu berani satu hal lagi yang lebih susah. Berani sabar nunggu, dan berani percaya bahwa nggak semua orang dewasa di sekitarmu mau memanfaatkan kelemahanmu." Ia melambaikan tangan pelan ke arah pintu. "Pulang, Nak. Hati-hati, di luar gerimis."
Fauzan berdiri dengan lutut yang lemas, membungkuk dalam, dan mundur ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali. Kiai sudah memejamkan mata lagi, kepala bersandar, tasbih berhenti berputar, dan dalam temaram lampu kuning itu lelaki tua itu tampak begitu rapuh, begitu sendirian, seakan beban yang ia pikul tak kalah berat dari beban Fauzan. Anak itu keluar ke gerimis dengan kepala penuh, dadanya tidak lagi dipenuhi rasa takut, melainkan sesuatu yang asing dan membingungkan: ia datang ke ndalem yakin akan bertemu musuh, dan pulang dengan perasaan baru saja meninggalkan seseorang yang, tanpa ia mengerti caranya, mungkin satu-satunya orang dewasa yang benar-benar melihatnya.