Panggilan itu datang setelah isya, dibawa oleh seorang santri pengurus yang mengetuk pintu kamar tujuh dan menyebut nama Fauzan dengan nada yang tidak bisa dibaca. "Kamu dipanggil Kiai. Ke ndalem. Sekarang."
Kamar tujuh mendadak sunyi. Komar menatap Fauzan dengan cemas. Bahkan Burhan, yang sedang menghafal di pojok, mengangkat wajah, dan untuk sekejap ada sesuatu di matanya yang bukan kemenangan, melainkan keterkejutan, seolah ia ingin berkata bahwa ini bukan dia, bukan dia yang melapor. Fauzan tidak sempat menafsirkannya. Ia bangkit, merapikan sarung dengan tangan yang dingin, dan mengikuti pengurus itu keluar ke malam.
Ndalem, kediaman Kiai, terletak di belakang kompleks pondok, sebuah rumah Jawa lama dengan teras luas dan lampu kuning yang temaram. Sepanjang jalan menuju ke sana, melewati pelataran yang basah dan barisan pohon, Fauzan merasa setiap langkah membawanya lebih dekat ke akhir segalanya. Ia yakin ini soal pasar. Burhan pasti melapor, atau penjaga gerbang curiga, atau seseorang melihatnya. Ia membayangkan urutan yang akan terjadi: pelanggaran dibacakan, beasiswa dicabut, ia dipulangkan. Dan setiap akibatnya berbaris di kepalanya seperti dakwaan. Ibunya kehilangan kiriman. Ayahnya kehilangan muka di hadapan orang yang pernah menyelamatkannya. Nazar batal. Budi tak terbayar. Semua yang ia coba pikul runtuh dalam satu malam.
Ia hampir ingin berbalik dan lari. Tapi ke mana? Ia menelan ketakutannya, dan terus melangkah.
Di teras ndalem, pengurus itu mempersilakannya naik, melepas sandal, lalu pamit. Fauzan berdiri sendiri di depan pintu kayu yang setengah terbuka. Dari dalam, terdengar suara batuk pelan, batuk orang tua, lalu suara yang lembut dan serak memanggil, "Masuk, Nak. Pintunya nggak dikunci."
Fauzan mendorong pintu dan masuk. Ruang tamu ndalem sederhana, jauh lebih sederhana dari yang ia bayangkan untuk seorang kiai besar. Lantai kayu, beberapa kursi rotan tua, rak kitab yang penuh sampai ke langit-langit, dan di dinding sebuah jam dinding yang detaknya terdengar jelas di kesunyian. Di salah satu kursi rotan, duduk seorang lelaki tua berpeci putih, bersarung, dengan wajah yang teduh tapi lelah. Kiai. Pengasuh pondok. Lelaki yang dulu menyelamatkan ayahnya, yang nazarnya kini menjadi rantai di leher Fauzan. Ini pertama kalinya Fauzan benar-benar berhadapan langsung dengannya.
Kiai itu tidak segagah yang Fauzan bayangkan. Tangannya keriput memegang tasbih, dan saat ia batuk lagi, tubuhnya yang kurus sedikit terguncang. Di sampingnya, di atas meja kecil, ada segelas air putih dan beberapa lembar bungkus obat. Kiai pun sakit, pikir Fauzan, dan entah kenapa kesadaran itu sedikit mengguncang gambaran yang selama ini ia simpan tentang sosok penagih nazar yang menakutkan.
"Duduk, Nak," kata Kiai, menunjuk kursi di seberangnya. Suaranya tenang, tanpa marah. Justru ketenangan itu yang membuat Fauzan makin takut, karena ia tidak bisa membaca ke arah mana ini akan pergi. Fauzan duduk di ujung kursi, punggung tegak, tangan di pangkuan, kepala menunduk.
Kiai menatapnya lama, tatapan yang menyelidik tapi tidak menghakimi, tatapan orang tua yang sudah melihat ribuan anak datang dan pergi melewati pondoknya. "Kamu Fauzan. Anaknya Sahal." Bukan pertanyaan. "Bapakmu apa kabar? Masih benerin sepatu?"
"Masih, Kiai," jawab Fauzan, suaranya nyaris bisik. "Tapi orderan sepi."
Kiai mengangguk pelan, seolah ia mengerti betul dunia yang sedang Fauzan jelaskan. "Sepi, ya. Zaman susah." Ia diam sejenak, lalu batuk lagi, menutup mulut dengan punggung tangan. "Saya juga sudah tua, Nak. Badan sudah nggak sekuat dulu. Pondok ini saya bangun dari nol, dan sekarang saya capek mikirin banyaknya anak yang harus dimakani, dibiayai, sementara dana terus kurang. Tiap malam saya mikir, mana yang bisa terus saya tampung, mana yang harus saya lepas. Berat, Nak. Jadi kiai itu bukan jadi raja. Jadi kiai itu jadi orang yang utangnya banyak ke banyak orang, dan harus jaga supaya nggak ada yang dikecewakan."
Fauzan mengangkat wajahnya sedikit, terkejut. Ia tidak menyangka Kiai akan bicara seperti ini, sejujur ini, kepada anak baru yang bermasalah. Sesaat, ketakutannya bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu seperti iba, dan ia tidak siap untuk merasa iba pada orang yang ia kira musuhnya.
Kiai menarik napas, lalu menggeser sesuatu di atas meja, mendorongnya pelan ke arah Fauzan. "Saya panggil kamu malam ini bukan mau marah, Nak. Saya cuma mau tanya satu hal."
Fauzan menunduk menatap apa yang Kiai dorong. Dan jantungnya berhenti sejenak.
Itu selembar struk kertas tipis, dan ia mengenalnya. Struk transfer dari warung BRILink di pasar. Bukan struk miliknya yang lecek di saku, tapi salinan catatan, yang entah bagaimana sampai ke tangan Kiai. Lalu Fauzan melihat di sebelahnya selembar kertas lain, sebuah catatan dari bendahara pondok, dan ia mengerti dalam sekejap kengerian yang sempurna. Warung agen di pasar itu, tempat ia mengirim uang, ternyata adalah warung yang sama yang menjadi agen pembayaran resmi pondok untuk titipan wali santri. Pemilik warung mengenali seragam dan asal Fauzan, dan saat bendahara pondok datang mengecek transaksi rutin, nama dan asal santri yang mengirim uang ke kampung tercatat di sana, dari seorang anak yang seharusnya tidak punya penghasilan apa pun. Rahasianya tidak terbongkar oleh Burhan, tidak oleh penjaga gerbang. Ia terbongkar oleh jejaknya sendiri, oleh uang yang ia kira sudah aman sampai ke ibunya, oleh kertas tipis yang ia kira tidak akan pernah berbicara.
Kiai mengambil struk itu, mengangkatnya pelan di antara dua jarinya yang keriput, menatap angka di atasnya, lalu menatap Fauzan dengan mata tua yang teduh dan tidak bisa dibohongi. Jam dinding berdetak keras di kesunyian. Di luar, gerimis mulai turun pelan di atap ndalem.
"Uang ini buat siapa, Nak?"