Burhan tidak pernah suka pada hal-hal yang tidak ia pahami, dan Fauzan adalah hal yang tidak ia pahami. Anak tukang sepatu yang masuk dengan beasiswa tanpa dasar baca, yang sering pucat dan kurang tidur, yang kadang menghilang di jam istirahat. Burhan mengamati, dan Burhan menyimpulkan dengan caranya sendiri: ada yang tidak beres.
Ia memergoki Fauzan pada suatu siang yang naas. Burhan, yang hari itu izin ke pasar untuk membeli perlengkapan mandi, melihat sosok bersarung familiar keluar dari sebuah kios sepatu bekas di pojok pasar, mengusap tangan ke kain lap, tangan yang hitam oleh sesuatu. Fauzan tidak melihatnya. Ia berjalan cepat menanjak kembali ke pondok, dan Burhan mengikuti dari jarak jauh, dengan rasa ingin tahu yang berubah jadi rasa menang.
Di gerbang samping pondok, saat Fauzan baru masuk, Burhan sudah menunggu, bersandar di tembok dengan tangan terlipat.
"Dari mana, Zan?" tanyanya, suaranya tenang tapi matanya tajam.
Fauzan tersentak. "Perpustakaan."
"Perpustakaan?" Burhan tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, menatap tangan Fauzan yang buru-buru dimasukkan ke saku. "Coba lihat tanganmu."
Fauzan tidak bergerak. Burhan, lebih tinggi dan lebih kuat, meraih pergelangan tangan Fauzan dan menariknya keluar dari saku. Kuku Fauzan hitam oleh lem sepatu, ada noda lem mengering di sela jari, bau khas lem dan kulit menempel. Burhan menatapnya, lalu menatap wajah Fauzan, dan senyumnya melebar.
"Perpustakaan bau lem sepatu, ya, sekarang?" Ia melepaskan tangan Fauzan. "Aku lihat kamu keluar dari kios di pasar, Zan. Kios sepatu. Kamu kerja di sana, kan? Diam-diam?"
Fauzan diam. Membantah tidak ada gunanya, buktinya menempel di kukunya. Tapi mengakui sama saja menyerahkan lehernya. Ia hanya menatap Burhan, dan untuk pertama kali, ada sesuatu yang keras dan dingin di matanya, sesuatu yang membuat Burhan sedikit terkejut, karena ia mengira anak pendiam ini akan ketakutan, bukan menatap balik seperti ini.
"Kamu tahu hukumannya apa kalau santri ketahuan kerja di luar diam-diam?" Burhan melanjutkan, suaranya lebih pelan sekarang, lebih mengancam. "Dipanggil pengurus. Dicatat pelanggaran berat. Apalagi kamu anak beasiswa. Beasiswa bisa dicabut, Zan. Kamu bisa dipulangkan."
"Kamu mau apa?" Suara Fauzan datar.
Burhan tampak menikmati momen itu, momen di mana ia memegang sesuatu atas seseorang. "Belum tahu. Mungkin aku lapor. Mungkin enggak. Tergantung." Ia mengangkat bahu. "Aku cuma nggak suka aja, ada orang yang nggak bener tapi diam-diam. Di sini semua orang kerja keras, ngafalin sampai mata merah, dan kamu malah keluyuran kerja di pasar sambil pura-pura jadi santri. Itu nggak adil."
Dan di kalimat itu, anehnya, Fauzan menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar ancaman. Ia menangkap luka. Burhan, dengan segala kekayaan dan kesombongannya, ternyata adalah anak yang dikirim ke pondok oleh bapaknya yang sibuk, yang diukur dari pencapaian, yang setiap hari membandingkan diri dengan yang lain karena itulah satu-satunya cara ia tahu menempatkan diri. Ketidakadilan yang ia ributkan bukan soal aturan pondok. Itu soal sesuatu yang lebih dalam, yang Fauzan belum sepenuhnya mengerti.
Tapi sekarang bukan waktunya memikirkan luka Burhan. Sekarang ada ancaman nyata di depannya.
"Lapor saja kalau mau," kata Fauzan, dan ia sendiri terkejut suaranya tidak gemetar. "Tapi sebelum kamu lapor, dengar dulu. Aku kerja bukan buat jajan. Ibuku sakit. Paru-parunya. Keluargaku nggak punya uang buat berobat. Aku kirim uang itu ke rumah. Kalau kamu lapor, aku dipulangkan, aku nggak bisa kirim uang lagi, dan ibuku—" Suaranya tercekat sedikit, lalu ia menelannya. "Itu saja yang perlu kamu tahu. Sisanya terserah kamu."
Burhan terdiam. Untuk sesaat, ada keraguan melintas di wajahnya, dan Fauzan tahu ia telah memukul sesuatu yang Burhan tidak siap menerimanya. Anak juragan itu mungkin tidak pernah membayangkan ada orang yang melanggar aturan bukan karena nakal, tapi karena terjepit. Tapi keraguan itu cepat ditutup Burhan dengan kembali memasang wajah keras.
"Itu urusanmu," katanya akhirnya, meski nadanya sudah tidak setajam tadi. "Aku pikir-pikir dulu." Ia berbalik, lalu berhenti, menoleh setengah. "Tapi awas kalau hafalanmu jeblok gara-gara keluyuran. Aku perhatikan kamu, Zan."
Ia pergi, meninggalkan Fauzan berdiri di gerbang samping dengan kaki yang lemas. Rahasianya kini bukan lagi rahasia. Ada satu orang yang tahu, satu orang yang bisa menjatuhkannya kapan saja, satu pedang yang menggantung di atas kepalanya.
Dan seolah dunia ingin menambah berat, sore itu, di pengumuman setelah asar, Ustaz Romli berdiri di depan para santri baru dengan kertas di tangannya. "Tiga pekan lagi," katanya, "akan diadakan ujian setoran besar untuk seluruh santri baru. Kalian akan menyetor seluruh hafalan yang sudah dikumpulkan, dinilai langsung oleh tim asatidz. Hasil ujian ini menentukan kelanjutan kalian, terutama yang beasiswa. Yang mencapai standar, lanjut. Yang tidak, akan dievaluasi."
Tiga pekan. Fauzan menghitung di kepalanya: berapa surat yang sudah ia hafal, berapa yang harus ia kejar, berapa jam yang ia punya. Dan dari semua jam itu, berapa banyak yang sudah ia gadaikan ke pasar. Pedang Burhan menggantung di satu sisi. Tenggat ujian menutup di sisi lain. Dan di kampung, ibunya menunggu kiriman berikutnya untuk bisa bernapas. Tiga beban, satu anak, dan waktu yang terus berlari tanpa menunggu siapa pun.