Angin di lereng stasiun tua itu tidak pernah benar-benar berhenti, hanya berganti arah. Janari mendengarnya menampar pelat seng atap saat ia menaiki jalan setapak yang sudah mulai ia hafal—batu ketiga selalu goyah, tikungan kelima selalu berbau tanah basah meski musim kemarau. Ia membawa map berisi cetakan makalah yang sudah dikoreksi, sampul birunya masih licin karena baru diambil dari percetakan pagi itu. Tetapi map itu bukan alasan sesungguhnya ia datang. Ia bisa saja mengirimnya lewat pos, atau lewat Sekar. Ia datang karena ada sesuatu yang tidak muat dalam kertas.
Danastri sudah menunggu di beranda, seperti biasa, dengan termos di antara kedua telapak tangan dan mata yang sudah lebih dulu menemukan langit sebelum menemukan tamunya.
"Kau bawa kabar atau kau bawa dirimu sendiri?" tanya Danastri, tanpa menoleh.
"Keduanya," jawab Janari, duduk di kursi kayu yang berderit di sebelahnya. "Tapi yang satu bisa menunggu."
Danastri mengulurkan cangkir tanpa diminta—ia sudah menuang dua sejak sebelum langkah kaki Janari terdengar. Uap mengambang sebentar lalu dihisap angin. Di bawah mereka, cahaya Observatorium Tepi Lereng berpendar kecil, satu titik jingga di antara punggung-punggung bukit yang gelap, seperti sesuatu yang sengaja disisakan menyala.
"Aku sudah baca draf akhirnya," kata Danastri akhirnya. "Kau menulis namaku di paragraf metode, bukan di ucapan terima kasih."
"Karena begitu tempatnya," kata Janari. "Data tigapuluh tahunmu bukan sumbangan. Itu setengah dari bukti."
Danastri diam cukup lama hingga Janari mengira ia tidak akan menjawab. Ketika suaranya muncul, ia lebih pelan dari biasanya, seperti orang yang menghitung ulang sesuatu yang sudah lama dihafal luar kepala.
"Tigapuluh tahun aku menyimpan buku catatan itu seperti orang menyimpan luka. Bukan supaya sembuh. Supaya tidak lupa bahwa aku pernah benar dan tak ada yang percaya." Ia menyesap tehnya. "Sekarang setelah dunia bilang aku benar, rasanya… lebih sunyi dari yang kubayangkan."
"Kau kira akan ada perayaan?"
"Aku kira akan ada rasa lega yang besar sekali," kata Danastri. "Tapi yang datang cuma rasa lega yang biasa saja. Seperti meletakkan tas yang sudah lama dipanggul, lalu sadar tanganmu tetap membentuk lengkungan tas itu, meski tasnya sudah tak ada."
Janari menunduk ke cangkirnya sendiri. Ia mengenali bentuk kalimat itu—bukan keluhan, tapi laporan. Danastri selalu melaporkan keadaan batinnya seperti melaporkan bacaan instrumen: jujur, tanpa hiasan, tanpa permintaan supaya didengarkan dengan cara tertentu.
"Ardhi masih menolak?" tanya Danastri, mengalihkan, meski Janari tahu itu bukan benar-benar pengalihan.
"Ia sudah berhenti menyerang secara terbuka. Tidak sama dengan mengaku."
"Itu sudah lebih dari yang pernah kudapat." Danastri tersenyum kecil, getir tapi tidak pahit. "Orang yang menjatuhkanku dulu bahkan tidak repot-repot diam. Mereka terus bicara, sampai suara mereka jadi satu-satunya yang tersisa di ruangan."
"Sekarang bukan hanya suara mereka," kata Janari. "Ada korda. Ada dua stasiun, waktu yang sama sampai submilidetik. Itu bukan pendapat."
"Aku tahu." Danastri menatapnya lama, dan untuk sesaat Janari melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah wanita itu—bukan kewaspadaan lama, bukan kepahitan yang biasa mengeras di sudut bibirnya, melainkan sesuatu yang mendekati damai, seperti cahaya yang akhirnya menemukan sudut jatuh yang tepat. "Aku tahu, karena aku ikut menghitungnya bersamamu. Itu bedanya. Dulu aku sendirian menghadapi meja dewan. Kau tidak."
"Karena kau mengajariku untuk tidak sendirian."
"Aku mengajarimu untuk curiga pada dirimu sendiri lebih dulu daripada curiga pada dunia," koreksi Danastri. "Itu yang menyelamatkanmu. Bukan aku."
Angin berhenti sesaat, seolah memberi ruang untuk kalimat berikutnya. Danastri meletakkan cangkirnya di lantai kayu beranda, menatanya dengan hati-hati seperti orang yang tak ingin bunyi apa pun mengganggu apa yang hendak ia katakan.
"Aku ingin bertanya sesuatu, dan aku ingin kau jujur, karena itu satu-satunya bahasa yang masih kita punya berdua."
"Tanya."
"Kalau malam itu—malam pengumuman—kau tahu jawaban jujur akan membuat observatorium tutup, akan kau tetap bilang bukan lubang hitam?"
Janari tidak menjawab segera. Ia memandang jauh ke arah kubah observatorium, bayangannya samar di antara kabut tipis yang mulai naik dari lembah. Ia memikirkan kotak sinyal ayahnya, aturan yang diucapkan bertahun-tahun sebelum ia mengerti artinya sepenuhnya.
"Ya," katanya akhirnya. "Karena kalau tidak, aku akan jadi orang yang memberi sinyal aman yang kuragukan. Dan aku sudah melihat apa yang terjadi pada orang yang melakukan itu."
Danastri menoleh cepat, matanya berkilat, tapi bukan karena marah.
"Kau melihatnya pada siapa?"
"Padamu," kata Janari pelan. "Tiga puluh tahun lalu kau tidak berbohong. Kau hanya diam terlalu lama sesudahnya, karena dunia sudah lebih dulu memutuskan ceritanya sendiri. Aku tidak mau diam seperti itu."
Untuk pertama kalinya sejak Janari mengenalnya, Danastri tampak nyaris menangis—bukan karena sedih, melainkan karena sesuatu yang telah ia tahan begitu lama akhirnya menemukan tempat untuk berhenti. Ia mengulurkan tangan, menepuk punggung tangan Janari sekali, singkat, seperti seorang teknisi mengetuk instrumen untuk memastikan ia masih menyala.
"Kalau begitu, obor itu sudah berpindah," katanya. "Aku boleh berhenti menjaga apinya sendirian sekarang."
Mereka duduk lama sesudah itu, tidak banyak bicara, membiarkan langit melakukan apa yang selalu dilakukannya—berputar pelan, acuh tak acuh pada nama siapa pun yang mencatatnya, tapi setia pada siapa saja yang mau menunggu dan mencatat dengan jujur. Di bawah mereka, kubah observatorium berputar sedikit, mengejar koordinat lain, kisah lain yang belum selesai ditulis. Danastri memejamkan mata, dan untuk sekali dalam tiga puluh tahun, ia membiarkan langit menjadi milik orang lain untuk sementara, tanpa merasa kehilangan apa pun karenanya.