Musim hujan sudah lewat separuh ketika Janari Nawangsih menuliskan entri baru di buku log yang sama, dengan tinta yang sama birunya, di meja yang sama pula—hanya saja kini kertas itu tidak lagi terasa seperti medan perang.
"Objek terkonfirmasi. Elemen orbit tergabung: baseline Danastri 1994–1996 dan pengamatan korda 2024. Periode diperkirakan 41,6 tahun, plus-minus 0,9. Okultasi berikut yang teramati dari Tepi Lereng: paling cepat sebelas tahun lagi, jendela September, ketidakpastian tiga minggu ke kedua arah."
Ia berhenti sebentar, membaca ulang kalimat itu, lalu menuliskannya lagi persis sama di salinan cadangan—bukan karena ragu, tapi karena itulah yang diajarkan ayahnya bertahun-tahun lalu di kotak sinyal: catat dua kali, bukan supaya lebih meyakinkan, tapi supaya tak ada ruang bagi diri sendiri untuk mengarang versi yang lebih menarik pada salinan kedua.
Sebelas tahun. Ia akan berusia empat puluh dua saat itu, kalau ia masih di sini, kalau observatorium masih berdiri, kalau langit di atas puncak ini masih cukup gelap untuk ditatap. Tidak ada dalam data yang menjanjikan salah satu dari itu. Ia menulisnya begitu saja, tanpa embel-embel, karena itulah yang benar-benar diketahui.
Karu masuk membawa dua cangkir kopi, meletakkan satu di sisi buku log tanpa menyentuh kertasnya—kebiasaan lama yang tak pernah berubah sejak bab-bab paling gelap kampanye itu. Ia melirik angka di halaman itu.
"Sebelas tahun," katanya, bukan pertanyaan.
"Sebelas tahun," Janari mengulang. "Kau akan pensiun sebelum itu."
"Aku sudah bilang aku tidak akan pensiun sampai osilator ini yang memutuskan aku pensiun." Karu menyesap kopinya, memandangi kubah lewat jendela kaca kecil di dinding ruang kontrol. "Lagi pula. Aku ingin melihat apakah ramalanmu benar."
Itu bukan pujian, dan Janari tahu betul Karu tak pernah bermaksud demikian. Itu penilaian teknisi: pernyataan hanya berarti sesuatu kalau bisa diuji lagi. Ia menyukai itu lebih daripada pujian mana pun yang pernah didengarnya di podium gala, di halaman depan koran, di mulut wartawan yang berebut kutipan sebulan setelah pengumuman.
Di luar, dini hari masih jauh, tapi kubah 70 cm sudah berputar pelan mengejar target malam ini—target biasa, bukan objek gelap itu, hanya sebuah bintang variabel yang perlu diverifikasi periodenya untuk katalog gabungan yang kini dikelola tiga observatorium sekaligus. Pekerjaan semacam itulah yang mengisi hari-hari sekarang: kecil, teliti, tidak akan pernah membuat halaman depan mana pun. Itu justru yang membuatnya bisa tidur.
Sekar datang membawa laptopnya sendiri, duduk di kursi yang dulu jadi miliknya sebagai relawan, kini miliknya sebagai peneliti dengan namanya sendiri di daftar penulis. Ia menunjukkan grafik baru pada layar—bukan tentang benda gelap itu, melainkan tentang kandidat lain, sebuah kerdil jauh yang kurva cahayanya menunjukkan kedipan tak terjelaskan, kecil, di ambang derau.
"Bisa jadi apa-apa," kata Sekar, hati-hati, dengan nada yang Janari kenali sebagai miliknya sendiri sepuluh tahun lalu. "Bisa jadi bukan apa-apa."
"Lalu?"
"Lalu kita tunggu ulangannya. Lalu kita tunggu lagi."
Janari tersenyum tipis, hampir tak kentara, dan tidak mengoreksi apa pun karena tidak ada yang perlu dikoreksi. Kalimat itu sudah benar sejak pertama kali diucapkan di kotak sinyal kereta, jauh sebelum ada teleskop atau kubah atau nama besar yang bisa hancur karena satu klaim tergesa.
Ia memikirkan Prof. Danastri sesekali, terutama pada malam-malam seperti ini, ketika kubah berdenging pelan dan udara berbau logam dingin. Surat terakhir yang diterimanya berisi kabar singkat: makalah lama sudah diterbitkan ulang dengan nama itu tercantum utuh, dan Danastri sedang menulis sesuatu yang baru, kali ini tanpa rasa perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Ia menyebutnya, dalam suratnya, "kemewahan yang tak pernah kumiliki sebelumnya—menulis karena ingin, bukan karena harus menebus."
Pak Wignya masih direktur, meski kini rambutnya lebih putih dan rapat dewan lebih jarang mengancam pemotongan anggaran. Konsorsium yang mendanai mereka sekarang tidak sebesar yang dijanjikan Broto Sasongko dulu, tapi datang dengan syarat yang jauh lebih tenang: laporan tahunan, bukan gala tahunan; makalah, bukan judul koran. Wignya pernah berkata, di suatu sore biasa tanpa gawat apa pun, bahwa ia lebih suka observatorium ini bertahan kecil dan jujur daripada besar dan rapuh. Janari tidak membalasnya dengan apa-apa selain anggukan. Beberapa hal tak perlu ditegaskan dua kali.
Tentang Dr. Ardhi Renjani, ia hanya mendengar kabar dari kejauhan—pindah ke bidang lain, sesuatu yang lebih jauh dari okultasi bintang, tempat kesalahan lama tak lagi diperbincangkan setiap kali namanya disebut. Janari tak merasa perlu mengecek lebih jauh dari itu. Kemenangan yang paling tahan lama, ia sudah belajar, tidak butuh saksi yang kalah untuk terus menyaksikannya.
Menjelang subuh, setelah kubah ditutup dan data malam itu disalin ke tiga tempat berbeda seperti biasa, Janari berdiri sebentar di anak tangga luar, memandang langit yang mulai pudar di ufuk timur. Di suatu titik yang tak bisa dilihat mata telanjang, jauh melampaui apa pun yang pernah dikatalogkan, benda gelap itu terus bergerak di jalurnya sendiri, tak peduli pada gala yang pernah dipertaruhkan atasnya, tak peduli pada nama-nama yang nyaris hancur atau terselamatkan karenanya. Ia akan kembali mengokultasi bintang yang sama, pada jam sidereal yang sama, sebelas tahun lagi—atau tidak, kalau perhitungan mereka meleset, dan kalau begitu itu juga akan dicatat, bukan disembunyikan.
Itulah yang tersisa setelah semuanya: bukan misteri yang terpecahkan sekali untuk selamanya, melainkan kebiasaan mengatakan yang sebenarnya, berulang kali, malam demi malam, sampai kebiasaan itu sendiri menjadi satu-satunya jenis keabadian yang bisa dipercaya seorang pengamat langit. Janari menutup buku log, mematikan lampu meja, dan berjalan keluar ke udara dini hari yang dingin, membiarkan lintang itu—yang dulu padam di jam yang salah, dan kini punya alamat serta jadwal kembalinya sendiri—tetap di tempatnya, menunggu, seperti segala sesuatu yang nyata selalu menunggu untuk diperiksa lagi.