Kubah observatorium sudah dingin ketika Janari menemukan Karu di ruang instrumen, membungkuk di atas osilator terkunci-GPS seperti seorang yang sedang mendengarkan denyut nadi orang yang dicintainya. Lampu meja menyorot tangannya — tangan yang berkerut, dengan kuku yang selalu ada bekas timah patri di sudutnya — dan tangan itu bergerak pelan, menyetel sesuatu yang bahkan tak perlu disetel lagi. Malam kejadian sudah lewat berhari-hari. Korda sudah bersih. Kebenaran sudah berdiri sendiri. Tetapi Karu tetap datang, seperti biasa, ketika langit menghitam.
"Kau tidak harus di sini lagi," kata Janari, bersandar di kusen pintu. "Semuanya sudah selesai."
Karu tidak menoleh. Ia mengetuk kaca instrumen dengan buku jari, sekali, kebiasaan lama yang tak pernah ia jelaskan. "Alat tidak tahu kalau kita sudah menang," katanya. "Dia cuma tahu detak. Kalau kau berhenti mendengarkan, dia mulai berbohong pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Dan kau baru sadar setahun kemudian."
Janari melangkah masuk. Di layar kecil di sudut, deretan angka pewaktuan bergulir — mikrodetik yang seragam di semua stasiun, angka-angka yang dulu pernah menyimpang dan nyaris meruntuhkan segalanya. Karu-lah yang menjinakkannya. Ketika detektor 70 cm bermasalah dan stempel waktu melenceng, ketika seluruh kampanye korda terancam mati karena selisih milidetik yang tak seorang pun perhatikan, Karu duduk di sini tiga malam berturut tanpa tidur, mengejar penyimpangan itu sampai ke akarnya.
"Aku sedang menulis ucapan terima kasih untuk makalah," kata Janari. Ia menarik bangku dan duduk, dekat, seperti dulu ketika mereka menunggu bingkai mentah berjam-jam. "Dan aku sadar aku tidak tahu harus menaruh namamu di mana. Kalau kutaruh di daftar penulis, sebagian orang akan bertanya-tanya kenapa seorang teknisi ada di sana. Kalau kutaruh di catatan kaki, itu penghinaan."
Karu akhirnya menoleh. Ada senyum tipis di wajahnya yang letih, senyum yang tidak meminta apa-apa. "Taruh aku di catatan kaki," katanya. "Di sanalah kebenaran disimpan. Semua yang penting selalu di catatan kaki. Orang membaca judul untuk merasa pintar. Orang membaca catatan kaki kalau mereka benar-benar ingin tahu apakah kau jujur."
Janari tertawa kecil, tetapi ada yang menyempit di dadanya. Ia teringat ayahnya, kotak sinyal, jam-jam malam yang tak seorang pun lihat. Dunia hanya melihat kereta yang lewat dengan selamat; tak ada yang melihat tangan yang memastikan lampu itu benar. Karu adalah tangan itu di sini.
"Kau tahu," kata Janari pelan, "Ardhi tidak bisa mematahkan korda kita. Dia mencoba segala cara. Dia bilang instrumen kita sistematik, dia bilang datanya kotor. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia bantah: dua stasiun melihat kedipan yang sama pada instan yang sama, sampai ke bawah milidetik. Itu bukan hasil dari teleskopku. Itu bukan hasil dari modelku. Itu hasil dari pewaktuanmu, Karu. Kebenaran ini bisa dibuktikan karena tanganmu membuat jam-jam itu bertemu."
Karu diam lama. Ia memutar kembali ke instrumen, mungkin karena tak tahu bagaimana menampung kalimat seperti itu. Lelaki yang bisa membetulkan apa pun yang berdetak tampak tak punya alat untuk membetulkan momen ini.
"Ayahmu teknisi sinyal," katanya akhirnya, suaranya lebih serak. "Kau pernah cerita. Dia bilang jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan."
"Aku ingat."
"Kami sama, dia dan aku. Orang seperti kami tidak punya bintang atas nama kami. Kami tidak diundang ke gala. Broto tidak tahu wajahku." Ia mengangkat bahu, tanpa pahit. "Tapi kalau jam salah, seluruh kebenaranmu jadi bohong. Semua persamaanmu, semua malam yang kau bakar — hancur karena satu milidetik yang tidak ada yang jaga. Jadi aku jaga. Itu saja pekerjaanku. Menjaga supaya jam tidak berbohong, supaya orang seperti kau boleh berkata jujur."
Janari merasa matanya panas dan membiarkannya. Di luar, angin lereng menggeser sesuatu di atap kubah, suara tua yang mereka berdua kenal seperti mengenal napas sendiri. Ia teringat semua malam Karu membawakannya teh tanpa diminta, semua kali lelaki itu berkata "tunggu ulangannya, lalu tunggu lagi" tanpa tahu betapa persis kata-kata itu menggemakan ayahnya.
"Aku sudah bicara dengan Pak Wignya," kata Janari. "Konsorsium yang mendanai kita sekarang — mereka ingin membangun jaringan pewaktuan multi-stasiun yang permanen. Standar baru. Dan aku bilang pada mereka hanya ada satu orang yang boleh merancangnya." Ia menatap Karu. "Bukan mahasiswa. Bukan konsultan mahal dari kota. Kau. Dengan namamu di dokumen, sebagai perancang, bukan tukang."
Karu terkekeh, tetapi tangannya berhenti bergerak. "Aku ini teknisi malam, Janari. Aku bahkan tidak punya gelar."
"Kau punya sesuatu yang tidak diajarkan gelar," kata Janari. "Kau tahu kapan sebuah alat sedang berbohong. Itu keahlian paling langka di seluruh gunung ini." Ia meletakkan tangan di lengan tua itu, ringan. "Danastri kehilangan segalanya tiga puluh tahun lalu sebagian karena tak ada Karu di sisinya. Aku tidak. Aku ingin dunia tahu itu."
Untuk sesaat lelaki itu tidak berkata apa-apa. Lampu meja mendesis pelan. Lalu Karu meraih secarik kertas, menuliskan sederet angka pewaktuan malam ini, dan menyelipkannya ke bawah kaca instrumen — arsip kecil yang tak seorang pun minta, kebiasaan seorang yang selalu menyimpan bukti bahwa ia telah menjaga jam dengan benar.
"Kalau begitu," katanya, "aku minta satu hal saja untuk makalah itu."
"Apa pun."
"Jangan tulis 'dengan bantuan teknis.'" Ia menepuk osilator itu seperti menepuk pundak kawan. "Tulis: pewaktuan dijaga oleh Karu. Titik. Biar orang yang membaca catatan kaki tahu ada seseorang yang tidak tidur supaya jam-jam ini tidak berbohong."
Janari mengangguk, dan menuliskannya persis begitu, di sana, di ruang instrumen yang dingin, di bawah langit yang untuk pertama kalinya terasa cukup terang tanpa perlu ada bintang yang padam di dalamnya.