Kubah observatorium sudah lama sepi ketika Janari mendengar derap kaki Sekar menaiki tangga besi, terlalu cepat untuk jam tiga pagi yang biasanya hanya diisi oleh dengung pendingin detektor. Ia sudah menduga sesuatu terjadi sebelum pintu terbuka, sebelum wajah Sekar—pucat oleh cahaya layar, mata melebar oleh sesuatu yang lain dari kantuk—muncul di ambang.
"Ada kedipan," kata Sekar. "Di pipa otomatis. Baru saja."
Sudah setahun sejak gala itu, sejak nama benda gelap yang mereka temukan dicetak di jurnal dengan segala kehati-hatian yang pernah membuat Broto Sasongko murka. Pipa deteksi yang dulu dibangun Sekar bersama Janari kini berjalan sendiri tiap malam, menjaring apa saja yang lewat di depan bintang-bintang katalog, menunggu kedipan-kedipan baru yang mungkin tak berarti apa-apa, atau mungkin berarti segalanya. Sekar yang mengelolanya sekarang. Janari hanya memeriksa laporan mingguan, membiarkan muridnya memegang kendali malam demi malam, seperti dulu Karu membiarkannya memegang detektor 70 cm untuk pertama kali.
"Tunjukkan," kata Janari, meletakkan pena.
Mereka duduk berdampingan di depan monitor. Kurva cahaya itu ada di sana: penurunan tajam, sepersekian detik, lalu kembali seperti semula. Bentuknya rapi. Terlalu rapi, pikir Janari, tapi ia menahan diri untuk tidak berkata apa-apa dulu. Ini bukan lagi jam kerjanya untuk memutuskan.
Sekar sudah membuka jendela lain di layar—daftar objek katalog di koordinat itu, kosong seperti dugaan—dan jendela ketiga, formulir uji signifikansi yang biasa mereka jalankan sejak malam-malam ketika kata "apofenia" masih membuat Janari terjaga sampai subuh.
"Signifikansinya bagus," kata Sekar, suaranya bergetar sedikit oleh kegembiraan yang ia coba redam. "Di atas ambang yang kita pakai untuk kandidat serius."
"Lalu?"
Sekar menoleh, seakan menunggu Janari memberi izin untuk merasa senang. Tapi Janari hanya diam, menunggu, seperti dulu Karu menunggunya di depan sinar kosmik yang ternyata bukan sinar kosmik, seperti dulu ayahnya menunggu di kotak sinyal sebelum menekan tuas apa pun.
Sekar menghela napas, lalu—dan inilah yang membuat dada Janari terasa hangat dengan cara yang tak pernah diajarkan buku pelajaran mana pun—ia membuka jendela keempat tanpa diminta: basis data lintasan satelit.
"Aku belum cek ini," kata Sekar, seperti mengaku pada dirinya sendiri. "Aku terlalu senang tadi. Hampir kukirim pesan ke grup sebelum aku sadar aku belum menyilangnya dengan ephemeris."
"Kirim pesan ke siapa?"
"Ke semua orang." Sekar tertawa kecil, getir pada dirinya sendiri. "Ke Bu Larasati juga, ada nomornya di ponselku sejak wawancara tahun lalu. Untung aku ketik dulu di draf, bukan langsung kirim."
Janari tidak berkata apa pun tentang draf itu. Ia hanya menonton Sekar menjalankan pencocokan lintasan, jari-jari muridnya bergerak di atas papan ketik dengan kehati-hatian yang tidak ia miliki di usia yang sama—atau mungkin ia memilikinya, tapi harus dipukul lebih dulu oleh kegagalan sebelum ia belajar. Sekar tidak perlu dipukul. Sekar sudah melihat apa yang terjadi pada Prof. Danastri, apa yang hampir terjadi pada Janari sendiri, dan ia memilih belajar dari luka orang lain, bukan lukanya sendiri.
Hasilnya muncul di layar: satu lintasan sampah antariksa melintasi bidang pandang tujuh menit sebelum kejadian tercatat. Bukan pada waktu yang sama. Bukan pada koordinat yang sama. Tapi cukup dekat untuk membuat Sekar berhenti, menyipitkan mata, memeriksa ulang jarak sudutnya sampai tiga kali.
"Ini bersih," kata Sekar akhirnya, meski nada suaranya tak lagi seceria tadi. "Kupikir. Tapi aku ingin menunggu ulangannya dulu sebelum bilang apa-apa ke siapa pun."
Kalimat itu jatuh begitu wajar dari mulutnya, seolah sudah lama menjadi miliknya sendiri, bukan pinjaman. Janari mengenali susunan katanya—tunggu ulangannya, lalu tunggu lagi—kalimat ayahnya di kotak sinyal, yang diwariskan turun ke Janari lewat darah dan duka, dan kini entah bagaimana sudah berpindah ke mulut seorang mahasiswa yang bahkan tak pernah bertemu ayahnya.
"Kamu tidak perlu tanya pendapatku dulu," kata Janari pelan. "Kamu sudah tahu jawabannya."
"Aku tahu." Sekar menutup jendela draf pesan yang belum terkirim, lalu membuka berkas baru: catatan kandidat, ditulis dengan segala kualifikasi yang seharusnya—signifikansi tinggi, satu kejadian tunggal, memerlukan konfirmasi ulang sebelum diklaim sebagai apa pun. Tidak ada kata "penemuan." Tidak ada tanda seru. Hanya data, dan jarak antara data dan kesimpulan yang dijaga tetap terbuka.
Karu muncul di pintu sebentar, membawa dua cangkir kopi tanpa diminta, seperti kebiasaan lamanya menjaga malam-malam panjang di kubah ini. Ia melirik layar, mendengar cukup dari percakapan mereka untuk mengerti, lalu hanya mengangguk kecil pada Sekar—pengakuan seorang teknisi tua pada seseorang yang baru saja lulus ujian yang tak pernah tertulis di silabus mana pun.
Setelah Karu pergi lagi, Sekar menatap layar sekali lagi, lalu Janari, seperti mencari sesuatu yang lebih dari sekadar persetujuan metodologis.
"Bagaimana kalau ini beneran sesuatu?" tanya Sekar. "Bagaimana kalau aku menunggu, dan ternyata memang nyata, dan orang lain menemukannya duluan karena aku terlalu hati-hati?"
Janari memikirkan Dr. Ardhi Renjani, memikirkan pracetak yang runtuh, memikirkan seberapa banyak yang ia sendiri hampir korbankan demi kecepatan yang keliru ia sangka sebagai keberanian.
"Maka itu risiko yang akan kau tanggung dengan kepala tegak," kata Janari. "Lebih baik kalah karena menunggu terlalu lama daripada menang karena berbohong terlalu cepat."
Sekar mengangguk, dan kali ini tak ada keraguan di wajahnya, hanya ketenangan seseorang yang baru saja memilih jalan yang lebih sunyi tapi lebih miliknya sendiri. Ia menyimpan berkas itu dengan nama sementara—"kandidat, menunggu ulangan"—lalu mematikan layar utama, membiarkan pipa otomatis terus bekerja sendiri sepanjang sisa malam, seperti sungai yang tak perlu diawasi tiap detik untuk dipercaya arahnya.
Janari menatap punggung muridnya yang membungkuk kembali ke meja kerja, menulis catatan lanjutan dengan tulisan tangan yang rapi dan sabar, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bagian dari dirinya—bagian yang selama ini menjaga sinyal merah agar tetap merah—sudah punya tempat untuk pulang setelah ia sendiri tiada di kubah ini kelak.