Kertas formulir itu, ketika akhirnya sampai di layarnya, ternyata hanya berisi delapan kolom. Nama pengusul. Nama kedua (jika ada). Deskripsi objek. Riwayat pengamatan. Justifikasi nama. Janari menatap kotak terakhir cukup lama sampai kursor berkedip tanpa ia sentuh, seolah ikut menghitung detik seperti segala sesuatu yang lain di observatorium ini selalu dihitung.
Ruang kerja masih berantakan bekas gala tiga bulan lalu—map-map yang belum dikembalikan ke rak, kartu nama Broto Sasongko yang tak pernah ia buang karena entah kenapa merasa perlu menyimpan bukti bahwa tawaran itu pernah datang dan pernah ditolak. Tapi meja kerjanya sendiri sudah bersih, dan di atasnya kini hanya satu map cokelat tua bertuliskan tangan yang bukan tulisannya: catatan Danastri, tiga puluh tahun umurnya, dipinjamkan lagi—kali ini bukan sebagai bukti, melainkan sebagai bahan sitasi.
"Nomor sementaranya sudah keluar," kata Karu dari ambang pintu, tanpa mengetuk, seperti biasa. Ia membawa dua gelas kopi dan meletakkan satu di dekat map, cukup jauh agar tak menetes ke kertas. "Panitia tata nama bilang objeknya masuk kelas yang belum pernah mereka beri templat. Bukan planet katai, bukan bintang gagal, bukan apa-apa yang sudah ada namanya. Mereka menyebutnya kelas baru sementara menunggu orang sepertimu memberi nama yang bagus."
"Aku bukan orang yang pandai memberi nama," kata Janari.
"Kau pandai memberi angka. Itu lebih sulit."
Ia tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar. Nomor sementara itu sudah tercetak di kolom pertama—rangkaian tahun dan kode yang menandai bingkai pertama kali kedipan itu tertangkap, dulu, sebelum semua orang tahu apa artinya: hanya satu bingkai, kurang dari sedetik, di jam sidereal yang tak seharusnya menyimpan apa-apa. Sekarang bingkai itu punya ukuran—didapat dari korda, dari lebar bayangan yang melintasi dua stasiun pada milidetik yang sama—dan punya jarak, dan punya kecepatan gerak yang, kalau dibandingkan dengan data Danastri tiga dekade lalu, menceritakan lintasan yang lambat, sabar, dan sama sekali tidak dramatis. Benda gelap, masif untuk ukurannya, sendirian di kegelapan antarbintang. Bukan lubang hitam. Ia sudah menulis kalimat itu berkali-kali dalam berbagai draf sampai hafal iramanya sendiri, seperti mantra yang menjaga dirinya tetap jujur.
Danastri datang sekitar pukul sembilan, memanjat tangga kubah dengan langkah yang masih hati-hati tapi tak lagi seperti orang yang menyusup ke tempat yang bukan haknya. Ia membawa map lain, lebih tua, dengan sampul yang sudah lepas satu sisinya.
"Kau sudah memilih?" tanyanya, duduk di kursi seberang meja.
"Belum," kata Janari. "Aku tahu apa yang tidak boleh kutulis. Bukan nama yang terdengar seperti judul di koran. Bukan sesuatu yang menjanjikan lebih dari yang bisa dibuktikan korda."
"Itu memang aturan tak tertulis di bidang ini," Danastri berkata. "Nama boleh indah. Tapi tak boleh berbohong."
Janari memutar map cokelat itu, membuka halaman yang sudah ia tandai—koordinat pertama Danastri, tigapuluh tahun silam, ditulis dengan tinta yang sudah memudar jadi cokelat kekuningan, dan di sudut halaman ada satu baris kecil, hampir tak terbaca, yang dulu luput dari perhatian semua orang termasuk Danastri sendiri: sebuah catatan waktu yang, kini Janari tahu, berselisih hanya beberapa detik busur dari posisi objek yang sama, bergeser pelan sepanjang tiga dekade seperti sesuatu yang berjalan kaki melintasi kegelapan tanpa tergesa.
"Kau menemukannya lebih dulu," kata Janari. "Bukan aku."
"Aku menemukan bukti yang tak bisa kubela," kata Danastri. "Itu bukan hal yang sama."
"Justru karena itu," kata Janari, "namanya harus menyebut keduanya. Yang menemukan, dan yang membuktikan bahwa temuan itu boleh dipercaya."
Ia mengetik di kolom deskripsi objek: benda gelap tak-terkatalog, terkonfirmasi lewat okultasi ganda-stasiun, gerak lambat konsisten dengan pengamatan arsip 1994–1995 dan pengamatan terkini, massa dan radius terhitung dari lebar korda, bukan lubang hitam. Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali, memangkas kata yang berbau berlebihan, sampai kalimatnya sekeras dan sesederhana batu.
Untuk kolom nama, ia menulis satu kata dulu, menghapusnya, menulis kata lain. Ia memikirkan kotak sinyal, papan tuas yang berat di tangan kecilnya dulu, lampu yang harus tetap merah kalau ragu—dan memikirkan bagaimana ayahnya tak pernah butuh kata-kata indah untuk menjelaskan aturannya, hanya konsekuensi yang jelas kalau aturan itu dilanggar. Ia tak menulis nama ayahnya di mana pun; ayahnya tak pernah menjadi bagian dari catatan resmi apa pun, dan ia tak berniat mengubah itu sekarang. Tapi ia menulis, di kolom justifikasi nama, sebuah kalimat pendek tentang seorang penjaga sinyal yang mengajarkan bahwa kepastian adalah bentuk lain dari kejujuran, dan bahwa keduanya kini ia titipkan pada satu benda di langit yang menolak dilebih-lebihkan.
Nama yang akhirnya ia ketik di kolom itu berakar dari kata lama untuk rambu—penanda yang jujur, bukan penanda yang menjanjikan sesuatu yang belum pasti—disandingkan dengan satu suku kata dari nama Danastri sendiri, sehingga siapa pun yang kelak membaca katalog itu tigapuluh tahun dari sekarang akan menemukan dua garis keturunan bertaut dalam satu kata.
"Bagaimana bunyinya?" tanya Karu, menyandarkan diri ke pintu.
Janari membacakannya pelan-pelan, mencicipi tiap suku katanya seperti mengecek presisi sebuah stempel waktu.
Danastri diam sesaat, lalu mengangguk, bukan senyum lebar, hanya anggukan kecil dari seseorang yang akhirnya boleh berhenti menahan napas.
"Kirim," katanya.
Janari menekan tombol itu, dan formulir menghilang dari layar dengan bunyi konfirmasi yang teramat biasa untuk sesuatu yang telah memakan tiga puluh tahun, dua karier, dan satu malam berawan yang nyaris merenggut segalanya. Di luar kubah, langit sudah gelap sempurna, dan di suatu tempat di dalamnya, tanpa tergesa, benda itu terus bergerak—kini punya nama, punya ukuran, punya jarak—tapi tetap, seperti sebelumnya, hanya menjadi dirinya sendiri, tak lebih dan tak kurang dari yang dibuktikan datanya.