Ruang kerja Pak Wignya tidak pernah benar-benar rapi, tetapi pagi itu ada kekacauan baru yang berbeda: map-map cokelat tua bertumpuk di sisi meja yang biasanya kosong, beberapa dengan sudut yang menekuk karena terlalu lama disimpan di rak paling bawah lemari arsip. Janari Nawangsih berdiri di ambang pintu selama beberapa detik sebelum diminta masuk, memperhatikan bagaimana direktur itu duduk membungkuk di atas salah satu map, kacamata bacanya melorot, jarinya menyusuri sebuah paragraf seolah ia baru pertama kali membacanya—padahal Janari tahu benar dokumen itu sudah ada di arsip observatorium selama tiga dekade.
"Duduklah," kata Wignya tanpa mengangkat kepala. Suaranya lebih pelan dari biasanya, hampir seperti orang yang berbicara di ruang yang menyimpan sesuatu yang mudah pecah.
Janari duduk. Di luar jendela, kubah teleskop 70 cm tampak diam di bawah langit siang yang cerah, sesuatu yang jarang terjadi di puncak gunung ini, dan justru karena cerah itulah tempat itu terasa asing—biasa observatorium hidup dalam gelap, bukan siang.
"Ini berkas rapat dewan, tiga puluh tahun lalu," kata Wignya akhirnya, mendorong map itu sedikit ke arah Janari, tapi tidak melepaskannya sepenuhnya, seperti orang yang menyerahkan sesuatu namun masih ingin menggenggamnya sebentar lagi. "Waktu makalah Prof. Danastri ditarik. Aku sudah baca ini bertahun-tahun lalu, waktu aku baru jadi wakil direktur. Aku kira aku paham isinya."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku baca ulang, dan aku menemukan hal yang dulu tak kulihat." Ia melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidungnya dengan dua jari. "Dulu aku pikir dewan menyuruhnya menarik makalah karena datanya lemah. Itu yang tertulis di notulen resmi. Tapi ada surat lain di sini, surat yang tidak masuk notulen—dari ketua dewan waktu itu ke rektor. Isinya bukan soal data. Isinya soal citra. 'Kita tidak mampu menanggung skandal ilmiah lagi setelah kasus tahun lalu,' begitu bunyinya. Mereka menyuruhnya diam bukan karena dia salah. Mereka menyuruhnya diam karena diam lebih murah."
Janari diam. Ia sudah mendengar sebagian kisah ini dari mulut Danastri sendiri, di stasiun tua yang berdebu itu, tapi mendengarnya lagi lewat suara Wignya—suara orang yang ikut memegang kunci lembaga yang sama—terasa berbeda, lebih berat.
"Aku hampir melakukan itu padamu," kata Wignya, dan untuk pertama kalinya sejak Janari mengenalnya, suara direktur itu retak di tengah kalimat. "Bukan menyuruhmu diam. Lebih buruk. Aku hampir menyuruhmu bicara—tapi bicara yang salah. Aku menghitung, malam sebelum gala, apa yang akan terjadi pada anggaran tahun depan kalau kau hanya bilang apa adanya. Aku menghitung berapa lama aku bisa bertahan sebagai direktur kalau Broto menarik dananya. Aku membuat tabel, Janari. Aku membuat tabel untuk kebohongan."
"Tapi kau tidak memaksaku memakainya."
"Karena kau lebih dulu berdiri dan bicara sebelum aku sempat memaksa." Wignya tertawa pendek, getir, tanpa humor. "Itu bukan aku yang membuat pilihan yang benar. Itu kau. Aku hanya kebetulan tidak sempat menghalangimu."
Janari menatap map di antara mereka, huruf-huruf ketikan mesin tua yang mulai memudar di sampulnya: Kasus R. Danastri — Peninjauan Publikasi. "Kau bisa saja menghalangiku," katanya pelan. "Kau punya wewenang untuk itu. Kau tidak melakukannya."
"Aku ragu-ragu," Wignya mengakui. "Dan keraguan itu nyaris sama buruknya dengan menghalangi. Aku biarkan Broto bicara di telingamu selama berminggu-minggu, aku biarkan Ardhi menyerangmu di depan umum tanpa aku bela dengan sungguh-sungguh, karena aku menunggu melihat ke arah mana angin bertiup sebelum aku memihak. Itu bukan integritas. Itu pengecut yang menunggu."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap kubah yang diam itu. Bahunya, yang biasanya tegak dengan sikap seorang administrator yang terbiasa memimpin rapat, tampak lebih rendah sekarang, seperti seseorang yang baru meletakkan beban yang lama dipanggulnya tanpa sadar betapa beratnya.
"Dewan memutuskan mendanai program konsorsium minggu depan," katanya, masih menghadap jendela. "Bukan uang besar seperti janji Broto. Tapi stabil. Bertahun-tahun, bukan satu gala." Ia berbalik. "Aku ingin kau tahu itu terjadi karena kejujuranmu, bukan karena kepiawaianku bernegosiasi. Aku hampir tidak layak menandatangani kontrak itu atas nama observatorium ini."
"Kau menandatanganinya," kata Janari. "Itu bagian dari yang menyelamatkan tempat ini juga. Kau juga ikut memutuskan formulir rehabilitasi Prof. Danastri. Kau yang mengirim suratnya ke jurnal."
Untuk sesaat Wignya tampak seperti hendak menolak pujian itu, lalu berhenti, membiarkannya berdiri di udara di antara mereka.
"Aku ingin memperbaiki cara aku memimpin tempat ini," katanya akhirnya. "Bukan dengan pidato besar. Dengan hal-hal kecil. Aku sudah minta arsip diperbarui—nama Danastri dikembalikan penuh di catatan kelembagaan, bukan cuma di makalah. Dan aku sudah bicara dengan dewan soal aturan baru: tak ada lagi tekanan waktu pada peneliti untuk mengumumkan sebelum data siap. Aku tidak bisa menjanjikan aku akan selalu berani. Tapi aku bisa menjanjikan aku tidak akan lagi membuat tabel untuk kebohongan."
Janari merasakan sesuatu melunak di dadanya, sesuatu yang sudah tegang sejak berbulan-bulan lalu, sejak pertama kali Wignya memandangnya dengan mata yang menghitung untung-rugi alih-alih kebenaran. Ia tidak sepenuhnya memaafkan—bukan itu yang dibutuhkan di ruangan ini—tapi ia mengangguk, dan uluran itu, sesederhana anggukan, terasa cukup untuk keduanya.
"Kalau begitu," katanya, berdiri, "mari kita mulai membaca ulang yang lain juga. Bukan cuma arsip lama."
Wignya menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak gala, sesuatu yang menyerupai senyum—kikuk, belum terbiasa, tetapi jujur—muncul di wajahnya. Ia mengulurkan tangan, dan Janari menjabatnya, di ruangan yang penuh map berdebu dan jendela yang membingkai kubah diam di bawah cahaya siang yang jarang mereka lihat bersama.