Surat dari kantor Broto Sasongko tiba tanpa amplop berlapis emas seperti biasanya. Hanya kertas putih biasa, dikirim lewat kurir yang tidak menunggu tanda terima, diletakkan di meja resepsionis di antara tagihan listrik bulan itu. Janari membacanya berdiri, tidak duduk, seolah dengan begitu berita buruk bisa lekas selesai. Isinya singkat: yayasan menarik komitmen pendanaan tahap kedua, mengutip "arah riset yang tidak lagi sejalan dengan visi publikasi lembaga."
Ia melipat surat itu dan membawanya ke ruang Pak Wignya, mengira akan mendapati direktur itu pucat di balik meja. Yang ia temukan justru Wignya sedang menutup panggilan video, dengan tiga jendela lain masih terbuka di layar—logo yang tidak ia kenal, satu di antaranya observatorium di pulau lain, satu lagi lambang universitas negeri yang selama ini hanya ia lihat di kop surat undangan seminar.
"Broto mundur," kata Janari, meletakkan surat itu di meja.
"Aku tahu." Wignya tidak mengangkat surat itu. "Sudah dua hari lalu, lewat telepon, sebelum surat ini menyusul. Dia bilang tak ada gunanya membiayai lembaga yang 'tidak berani mengklaim penemuannya sendiri.'" Ia mengucapkannya tanpa nada pahit, seperti mengutip cuaca. "Aku sudah biasa dengan itu sekarang."
Yang tidak biasa, dan yang membuat Janari berdiri diam di ambang pintu, adalah e-mail yang justru menumpuk di jendela lain layar itu—bukan dari Broto, bukan dari siapa pun yang mengejar sensasi. Konsorsium tiga universitas dan dua observatorium mitra di luar pulau, tertarik bukan pada "lubang hitam" yang tidak pernah ada, melainkan pada metode korda multi-stasiun yang dipublikasikan lengkap dengan seluruh catatan penyingkiran artefak. Mereka ingin tahu bagaimana Karu menyinkronkan pewaktuan sub-milidetik lintas lokasi. Mereka ingin tahu bagaimana Janari dan Sekar memisahkan kilau satelit dari okultasi sejati. Mereka ingin, kata salah satu surat, "mereplikasi keketatan itu di jaringan kami sendiri."
"Mereka tidak minta judul," kata Wignya, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri. "Mereka minta metode."
Selama seminggu berikutnya, ruang rapat kecil di bawah kubah—yang biasanya dipakai untuk jadwal giliran jaga—berubah jadi ruang tawar-menawar yang jauh lebih tenang dari yang pernah Janari bayangkan. Tidak ada gala, tidak ada lampu sorot, tidak ada Larasati dengan buku catatannya yang gelisah mengejar kalimat kutipan yang bisa jadi tajuk. Yang ada hanya panggilan video pukul sepuluh malam waktu Tepi Lereng—pukul lain di zona waktu lawan bicara—di mana orang-orang berbicara tentang anggaran tahun jamak, jadwal pemakaian bersama teleskop 70 cm, dan siapa yang akan menanggung biaya kalibrasi silang.
Karu ikut dalam salah satu panggilan itu, dipanggil khusus karena salah satu mitra ingin memahami arsitektur osilator terkunci-GPS yang telah ia perbaiki sendiri tangannya. Ia duduk canggung di depan kamera, mendorong kacamatanya, menjawab pertanyaan teknis dengan kalimat pendek yang jujur—termasuk mengakui satu kegagalan dini yang nyaris menggagalkan kampanye korda. Bukan menyembunyikannya membuat mitra-mitra itu semakin yakin, bukan sebaliknya.
"Kalau kau bisa cerita di mana kau gagal," kata salah satu perwakilan konsorsium lewat layar, "aku lebih percaya pada tempat kau bilang berhasil."
Sekar mencatat semuanya di sudut ruangan, dengan laptop di pangkuan, wajahnya yang dulu tegang karena tekanan sekarang tampak seperti orang yang menyaksikan sesuatu yang ingin ia ingat persis bentuknya. Sesekali ia berbisik pada Janari, menerjemahkan istilah anggaran yang asing bagi mereka berdua, dan Janari membiarkan dirinya, untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, tidak menghitung berapa lama lagi observatorium ini bisa bertahan.
Angka yang akhirnya disepakati tidak besar. Tidak sebesar yang pernah dijanjikan Broto di masa jaya niatnya, sebelum semua berubah jadi ancaman dan pengunduran diri. Tapi angka itu terikat kontrak tiga tahun, dicairkan bertahap, disertai klausul yang justru Janari sukai lebih dari nominalnya: setiap hasil bersama harus melalui tinjauan sejawat independen sebelum dirilis ke publik, dan setiap data mentah wajib diarsipkan terbuka. Tidak ada ruang untuk hiperbola. Tidak ada ruang untuk menahan catatan kaki demi tajuk yang lebih ramai.
Wignya membaca dokumen final itu dua kali sebelum menandatanganinya, seolah mencari jebakan yang tidak pernah ia temukan sebelumnya karena memang tidak ada. Ketika akhirnya ia meletakkan pena, ia tidak tersenyum lebar seperti saat menerima janji Broto dulu. Ia hanya mengembuskan napas panjang, seperti orang yang baru sadar sudah lama menahannya.
"Ini tidak akan pernah jadi berita utama," katanya pada Janari, hampir menyesal.
"Tidak," jawab Janari. "Tapi ini akan masih ada tahun depan."
Malam itu, sepulang dari ruang rapat, ia berdiri sebentar di anak tangga menuju kubah, memandang langit yang masih sama—bintang-bintang yang sudah dikatalogkan, dan satu titik gelap yang kini punya angka pasti untuk jarak serta ukurannya, tanpa perlu dibesar-besarkan menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia teringat kotak sinyal ayahnya, papan kayu tua dengan tuas-tuas yang hanya mengenal dua warna kejujuran: aman atau merah. Tidak ada warna ketiga untuk membuat orang terkesan.
Observatorium ini, pikirnya, akhirnya diselamatkan bukan oleh cerita yang bisa dijual, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih lambat untuk tumbuh dan jauh lebih sulit direbut kembali begitu ia tumbuh: kepercayaan bahwa apa yang mereka laporkan benar-benar seperti yang mereka laporkan. Uang Broto sudah pergi, dan tidak akan dirindukan lama. Yang tertinggal adalah sesuatu yang tidak berkilau di bawah lampu gala, tapi juga tidak bisa dicabut hanya karena seseorang menginginkan kisah yang lebih riuh.