Pak Suta meninggal tujuh tahun lalu, tapi keluarganya menyimpan barang-barangnya, dan Janari ingat alamat rumah tua di pinggir kota tempat ia dulu pernah diundang minum teh sebagai mahasiswa. Putri Pak Suta, Bu Hartini, membukakan pintu dengan keramahan orang yang menyimpan duka dengan rapi. Ketika Janari menjelaskan—bahwa ia kini bekerja di Tepi Lereng, di teropong yang sama, dan menemukan sesuatu yang membuatnya ingin memahami pekerjaan ayahnya—wajah perempuan itu berubah, menjadi sesuatu antara harapan dan kewaspadaan lama.
'Ayah jarang bicara soal itu,' kata Bu Hartini, membawanya ke sebuah kamar belakang yang berdebu, tempat kotak-kotak ditumpuk. 'Tapi ia tidak pernah membuang catatannya. Ia bilang suatu hari akan ada yang membutuhkannya. Aku selalu pikir itu cuma cara orang tua menolak melepas masa lalunya.' Ia menunjuk sebuah peti kayu. 'Ambil apa yang kau perlu. Tapi tolong—' suaranya menegang '—kalau kau menemukan sesuatu, jangan biarkan ia ditertawakan lagi. Ia sudah cukup ditertawakan saat hidup.'
Janari menghabiskan sepanjang sore di kamar itu. Buku-buku catatan Pak Suta tersusun rapi, ditulis dengan tangan miring yang sama yang ia kenal dari buku log hijau. Dan saat ia membaca, gambaran tiga puluh tahun lalu mulai tersusun, lebih utuh dan lebih kelam dari yang ia kira.
Pak Suta tidak keliru. Itu jelas, halaman demi halaman. Lelaki itu meneliti dengan ketelitian yang membuat Janari malu pada dirinya sendiri. Ia mencatat lusinan kedipan, lebih banyak dari yang pernah Janari kira, dikumpulkan selama bertahun-tahun. Ia menghitung lintasan benda gelap itu—sebuah objek di luar Neptunus, gelap dan dingin, terlalu redup untuk dilihat tapi cukup besar untuk menutup bintang—dengan perhitungan tangan yang panjang dan sabar. Ia bahkan sudah memikirkan apa yang Janari pikir baru ia temukan: bahwa kau butuh banyak stasiun untuk mengukur ukurannya, bahwa satu teropong tidak akan pernah cukup. Pak Suta tahu semua itu. Pak Suta sudah benar di hampir setiap hal.
Lalu Janari menemukan halaman yang membuat tangannya membeku.
Di sebuah buku catatan terakhir, bertanggal beberapa bulan sebelum ia diberhentikan, Pak Suta menulis tentang sebuah rekaman penting—satu okultasi yang ia rekam bersama sebuah observatorium lain, sebagai konfirmasi independen, persis seperti yang Janari coba lakukan dengan Cakrabuana. Stasiun kedua itu, tulis Pak Suta, awalnya mengonfirmasi padam. Ia menulis nama rekan mudanya di stasiun itu, seorang asisten ambisius yang merekam okultasi yang sama dan, di malam itu, melihat hantu yang sama. Lalu, beberapa minggu kemudian, rekaman stasiun kedua itu 'direvisi.' Dinyatakan terkontaminasi. Dicabut. Pengamat mudanya menulis laporan resmi bahwa rekaman aslinya cacat dan tidak menunjukkan padam apa pun—bahwa Sutawijaya keliru membaca alatnya sendiri.
Pak Suta menulis, dengan tinta yang ditekan keras sampai hampir merobek kertas, satu kalimat yang Janari baca tiga kali: Ia melihat apa yang kulihat. Lalu ia memilih untuk tidak pernah melihatnya. Dan dengan begitu ia membunuhku tanpa darah.
Nama pengamat muda itu, asisten ambisius yang merevisi rekamannya, yang mengubur kebenaran demi kariernya sendiri yang baru tumbuh: Hardjanto Brotoseno.
Janari duduk lama di lantai berdebu itu, dengan buku catatan terbuka di pangkuannya, dan merasakan sesuatu yang dingin dan jernih mengalir menggantikan ketakutannya. Bukan benda gelap itu yang menghancurkan Pak Suta. Manusia yang melakukannya. Seorang lelaki muda yang melihat kebenaran dan memilih kariernya di atasnya, lalu menghabiskan tiga puluh tahun naik ke puncak komunitas astronomi dengan reputasi yang sebagian dibangun di atas kuburan gurunya. Dan lelaki itu masih hidup. Masih berkuasa. Masih memegang teropong satu setengah meter yang baru saja, beberapa malam lalu, memberi Janari rekaman yang terlalu mulus.
Ia membaca lebih jauh, mencari—dan menemukan—perhitungan lintasan terakhir Pak Suta. Sebuah tabel angka, koordinat dan waktu, orbit benda gelap itu yang dihitung sejauh data Pak Suta mengizinkan. Janari mengeluarkan ponselnya, memotret tabel itu, dan malam itu juga, kembali di kubah, ia memasukkan angka-angka gurunya ke programnya sendiri. Tangannya gemetar saat ia menggabungkan dua kumpulan data yang terpisah tiga puluh tahun: kedipan-kedipan Pak Suta dari masa lalu, dan tiga kedipannya sendiri dari sekarang.
Kalau benda yang sama yang dilihat Pak Suta masih merangkak di orbitnya yang lambat, maka posisinya tiga puluh tahun lalu dan posisinya sekarang harus terletak di satu garis lintasan yang mulus. Dua titik yang terpisah tiga dekade akan mengikat lintasan itu jauh lebih ketat daripada yang bisa dilakukan oleh kedipan-kedipannya sendiri yang berdekatan. Tiga puluh tahun adalah tuas yang panjang.
Program itu berjalan. Lalu hasilnya muncul di layar, dan napas Janari tertahan.
Lintasan itu cocok. Kedipan Pak Suta dari tiga puluh tahun lalu, jika diperpanjang sepanjang orbit yang dihitung, melewati persis tempat ketiga kedipannya sendiri muncul. Bukan kira-kira. Persis. Garis yang sama, benda yang sama, merangkak dengan sabar mengelilingi orbitnya yang luas, kembali ke petak langit yang bisa diramalkan. Pak Suta tidak melihat hantu yang berbeda. Pak Suta dan Janari telah melihat benda yang sama, dipisahkan oleh tiga dekade dan oleh satu kebohongan yang sengaja ditanam seorang lelaki yang masih hidup.
Untuk pertama kali, hantu itu menjadi nyata—bukan hanya di datanya, tapi di tulangnya. Dan untuk pertama kali, Janari tidak takut. Ia marah, dengan jenis marah yang dingin dan terarah, marah seorang anak teknisi kereta yang tahu bahwa jam yang salah selalu punya sebab, dan sebabnya kali ini punya nama.