Pertanyaan ilmiah berjalan dalam hitungan musim. Uang berjalan dalam hitungan pekan. Dan pekan-pekan itu kini menutup seperti kubah yang berderit perlahan ke arahnya.
Ultimatum datang dalam bentuk yang sopan, yang membuatnya lebih menyakitkan. Pak Wirosaba mengundang Bu Halimah dan Janari turun ke lembah, ke kantornya yang ber-AC dingin di lantai atas sebuah gedung yang memandang ke kota. Dari jendela itu, malam hari, Janari bisa melihat lampu-lampu kota yang terus tumbuh, polusi cahaya yang tiap tahun merangkak lebih tinggi ke gunung dan mencuri bintang-bintang redup yang ia butuhkan. Lembah ini menelan langit pelan-pelan. Dan kini lembah ini ingin menelan jamnya juga.
'Aku sudah berbicara dengan Sahabat Langit,' kata Pak Wirosaba, menuang teh untuk mereka dengan ramah yang formal. 'Kami semua menyayangi observatorium itu. Tapi kami pengusaha, bukan dermawan tanpa dasar. Dewan kota bertanya pada kami tiap tahun: apa hasilnya. Dan tiap tahun kami tidak punya jawaban yang bisa dipajang.' Ia duduk. 'Jadi kami sepakat memberi satu kesempatan terakhir yang adil. Dua pekan. Kalau dalam dua pekan observatorium menghasilkan sebuah pengumuman—sebuah penemuan, sesuatu yang membuat nama kota ini di berita nasional—kami perpanjang dana tiga tahun. Kalau tidak,' ia mengangkat bahu dengan menyesal yang dilatih, 'kami alihkan dana ke hal lain. Planetarium kecil di pusat kota, mungkin. Sesuatu yang dilihat anak-anak. Teropong di gunung akan kami tutup.'
Bu Halimah memucat. Janari merasakan ruangan menyempit.
'Aku dengar,' lanjut Pak Wirosaba, dan matanya kini menatap Janari dengan ketertarikan baru, 'dari seorang kenalan di komunitas astronomi, bahwa peneliti muda kita mungkin sedang di ambang sesuatu yang besar. Benda baru di tata surya, katanya. Sesuatu yang belum pernah dilihat orang.' Ia tersenyum. 'Itu persis jenis berita yang kami butuhkan, Nona Nawangsih. Umumkan itu, dan observatorium selamat.'
Janari merasa darahnya dingin. Seorang kenalan di komunitas astronomi. Hanya satu orang yang tahu cukup banyak untuk membisikkan ini ke telinga donor, satu orang yang punya rekaman, satu orang yang punya alasan menariknya ke arah pengumuman dini. Profesor Brotoseno. Lelaki itu tidak menyangkal hantunya; ia justru mendorong Janari untuk mengumumkannya—sebelum bukti kuat, sebelum tuntas, sebelum aman. Karena Brotoseno tahu, lebih baik dari siapa pun, apa yang terjadi pada astronom yang mengumumkan benda yang belum bisa ia buktikan. Ia sudah pernah menontonnya sekali. Ia mungkin ingin menontonnya lagi.
'Pak,' kata Janari, dan ia memilih kata-katanya seperti memilih pijakan di lereng curam, 'kalau saya umumkan sesuatu yang belum sepenuhnya terbukti, lalu ternyata salah, kota Bapak bukan masuk berita karena penemuan. Kota Bapak masuk berita karena observatoriumnya membuat klaim yang ditarik kembali. Itu lebih buruk daripada diam. Itu bukan cuma kehilangan dana. Itu memalukan, dan malu lebih lama menempel daripada uang.'
Pak Wirosaba memandanginya, dan untuk sesaat senyum dilatihnya goyah. 'Kau bicara seperti orang yang takut pada sesuatu yang spesifik.'
'Saya takut pada hal yang seharusnya ditakuti setiap ilmuwan, Pak. Mengumumkan sebelum yakin.'
Di mobil pulang, menanjak ke gunung melalui kelokan-kelokan gelap, Bu Halimah diam lama. Lalu ia berkata, suaranya lelah, 'Dua pekan, Janari. Aku tidak bisa menjual ketelitian kepada Wirosaba. Dia tidak beli ketelitian. Dia beli berita.' Ia menatap ke depan, ke sorot lampu di aspal. 'Aku tahu apa yang kuminta. Aku tahu ini persis lubang tempat Sutawijaya jatuh. Tapi kalau observatorium tutup, tidak akan ada teropong sama sekali untukmu membuktikan apa pun. Kau akan benar dan tidak punya alat untuk menunjukkannya. Itu cara lain untuk kalah.'
Dan di situlah jepitannya, jelas dan kejam dan tanpa jalan keluar yang bersih. Kalau Janari mengumumkan sekarang, dengan tiga kedipan dan satu rekaman yang dibantah Cakrabuana, ia melompat ke jurang yang sama dengan gurunya, dan Brotoseno tinggal menunggu di dasar untuk menutup peti. Kalau ia menunggu sampai buktinya tak terbantah—lebih banyak kedipan, lebih banyak stasiun, ukuran benda yang terukur—ia mungkin kehilangan teropong sebelum sampai ke sana, dan kebenaran terkubur untuk kedua kalinya, kali ini bersamanya.
Waktu, yang selama ini menjadi sahabat dan agamanya, kini menjadi musuhnya. Sepanjang hidupnya jam yang salah adalah dosa yang harus diperbaiki. Kini ia sadar ada hal yang lebih buruk dari jam yang salah: dua jam yang benar, jam ilmu dan jam uang, yang berdetak ke arah berlawanan, dan ia berdiri di antaranya, tahu bahwa apa pun yang ia pilih, salah satu detak itu akan menghancurkannya.
Malam itu ia tidak tidur. Ia naik ke kubah, membuka penutup cermin, dan duduk di lantai dingin di samping teropong tua itu, memandang ke atas lewat celah kubah yang setengah terbuka, ke langit yang penuh bintang yang padam dan menyala di jam yang benar. Ia memikirkan gurunya, duduk mungkin di lantai yang sama, tiga puluh tahun lalu, menghadapi jepitan yang sama. Dan untuk pertama kali ia ingin tahu bukan apa yang Pak Suta lihat, tapi apa yang Pak Suta pikirkan di malam-malam terakhirnya—apakah ia menyesal mengejar hantu, atau menyesal tidak cukup keras mengejarnya. Janari memutuskan ia harus tahu. Dan ia tahu di mana harus mencari.