Lintasan gabungan itu memberinya sesuatu yang tidak pernah dipunyai Pak Suta sendirian, dan tidak pernah dipunyai Janari sendirian: sebuah ramalan yang bisa diuji di depan mata semua orang.
Ia bekerja sepanjang dua hari berikutnya nyaris tanpa tidur, memeriksa perhitungannya berulang kali dengan ketelitian yang ia warisi dari gurunya. Dengan orbit yang kini terikat oleh tuas tiga puluh tahun, ia bisa memperpanjang lintasan benda gelap itu ke depan, bukan hanya ke belakang. Ia bisa menghitung ke mana benda itu akan merangkak dalam beberapa malam ke depan, dan—inilah yang membuat jantungnya berdebar—ia bisa mencari bintang terang di sepanjang jalur itu yang akan ditutupnya.
Selama ini bintang-bintang targetnya redup, sulit, hanya terlihat oleh teropong sungguhan, mudah dibantah. Tapi kalau benda itu menutup bintang yang terang, bintang yang bisa dilihat siapa saja dengan teleskop kecil, bahkan terlihat mata telanjang dari tempat gelap—maka padamnya akan disaksikan oleh puluhan, ratusan mata sekaligus. Tidak akan ada satu Cakrabuana yang bisa membersihkan ratusan rekaman. Tidak akan ada lagi pengamat tunggal yang bisa diabaikan. Ramalan publik yang terverifikasi adalah hal yang tidak bisa dikubur.
Ia menemukannya. Empat malam dari sekarang, menurut lintasan gabungan dirinya dan gurunya, benda gelap itu akan lewat tepat di depan sebuah bintang terang—bintang yang punya nama, bintang yang dikenal, cukup terang untuk direkam oleh setiap pengamat amatir di separuh pulau. Ia menghitung jam dan menitnya, menghitung pita bayangan yang akan menyapu permukaan bumi, menghitung kota-kota mana yang akan berada di bawahnya. Empat malam. Satu kesempatan. Tak terbantah, kalau ia benar—dan kalau ia salah, ramalannya akan gagal di depan umum dan ia akan jatuh persis seperti gurunya. Tapi itulah ilmu. Kau memberi alam kesempatan untuk membuktikanmu salah, di depan saksi sebanyak mungkin.
Ia menulis ramalannya rapi: koordinat, waktu, durasi yang diharapkan di tiap titik di sepanjang pita bayangan. Ia berencana mengirimnya esok pagi ke seluruh jaringan amatir, ke milis pengamat, ke setiap teropong kecil yang mau menatap langit di malam itu. Bukan pengumuman penemuan—ia cukup bijak untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Hanya sebuah ramalan. Sebuah undangan untuk menatap satu bintang pada satu jam dan melihat apakah ia padam. Kalau padam terjadi seperti yang ia ramalkan, di seluruh pita, dari puluhan teleskop sekaligus, maka benda itu nyata dan tidak ada Brotoseno di muka bumi yang bisa membantahnya. Kalau tidak padam, maka ia salah, dan ia akan menerimanya, dan setidaknya ia tahu ia telah menguji hantunya dengan jujur.
Di luar, kubah berderit. Generator berdengung. Karu tidur di kursi lipat. Janari menatap ramalannya di layar—warisan dari dua astronom yang dipisahkan tiga puluh tahun, akhirnya disatukan dalam satu garis angka—dan untuk pertama kali sejak malam pertama, ia merasa damai. Ia tidak takut lagi pada hantu. Ia hanya menunggu empat malam.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Janari mengangkatnya, mengira itu salah satu amatir. Ia membuka pesannya, dan tubuhnya membeku.
Sebuah foto. Sebuah buku catatan terbuka, tulisan tangan miring yang sangat ia kenal—tulisan Pak Suta. Tapi bukan buku yang ia temukan di rumah Bu Hartini; ini buku lain, lebih tua, sampulnya berbeda, halaman yang penuh perhitungan yang bahkan belum pernah ia lihat. Buku catatan asli yang, menurut surat-surat tiga puluh tahun lalu, telah dinyatakan 'dimusnahkan' sebagai bagian dari penutupan perkara. Buku yang seharusnya tidak ada lagi di dunia. Seseorang menyimpannya. Seseorang menyimpannya selama tiga dekade, dan kini menunjukkannya pada Janari—agar ia tahu betapa dalam tangan itu menjangkau ke masa lalu, dan betapa dekat tangan itu memperhatikannya sekarang.
Di bawah foto, satu baris teks. Tanpa nama. Tanpa salam.
'Berhenti, atau kau akan padam di jam yang sama seperti dia.'
Janari menatap layar untuk waktu yang lama, jantungnya berdebar di telinganya. Padam di jam yang sama. Ia tahu apa arti 'padam' bagi Pak Suta—bukan kematian, tapi pemadaman yang lebih sunyi: karier yang dipadamkan, nama yang dihapus, suara yang dibungkam halus sampai dunia lupa ia pernah benar. Itu yang diancamkan padanya. Bukan nyawa. Sesuatu yang, bagi orang seperti dirinya dan gurunya, mungkin terasa hampir sama beratnya: dipadamkan secara profesional, dijatuhkan dari langit yang ia cintai, dibuat menjadi lelucon yang sama. Seseorang yang masih berkuasa, yang menyimpan buku yang harusnya musnah, yang tahu persis bagaimana memadamkan seorang astronom karena ia sudah pernah melakukannya sekali.
Ia memandang dari layar ponsel ke layar komputernya, ke ramalan yang siap dikirim esok pagi. Empat malam sampai bintang terang itu padam—atau tidak padam—di depan ratusan mata. Empat malam sampai kebenaran yang dikubur gurunya naik kembali ke langit, atau terkubur untuk kedua kalinya, kali ini bersamanya.
Di luar, kubah berderit ke arah angin yang berbalik dari lembah. Janari meletakkan ponselnya menghadap ke bawah, menarik napas, dan menggeser kursornya ke tombol kirim.