Malam itu aula serbaguna kampus dipenuhi kursi lipat berlapis kain putih, dan di depan podium, layar proyeksi menyala kosong menunggu slide pertama—satu hal yang, entah kenapa, membuat Janari Nawangsih lebih gugup daripada seluruh derau statistik yang pernah ia hadapi. Ruangan itu berbau lilin gala dan kertas foto yang baru dicetak: potret teleskop 70 cm dengan kubahnya terbuka menghadap langit, dipasang besar-besar di dinding belakang panggung sebagai latar. Di baris depan, Broto Sasongko duduk dengan jas yang terlalu rapi untuk malam sedingin itu, dan di sampingnya Pak Wignya memegang map berlogo observatorium seperti orang memegang jimat.
Janari sudah menyiapkan dua berkas. Satu berisi slide yang disetujui Wignya minggu lalu—judulnya, dalam huruf besar yang terasa asing di lidahnya sendiri, mempertanyakan apakah observatorium telah menemukan lubang hitam. Yang satu lagi, lebih tipis, ia susun sendiri semalaman di meja kerja Karu, ditemani kopi yang dingin sebelum sempat diminum. Judulnya jauh lebih sederhana: catatan waktu, koordinat, dan angka.
Dari sudut ruangan, Karu berdiri bersandar ke dinding, tangan terlipat, wajahnya yang biasa tenang itu sedikit tegang—bukan karena ia ragu pada data, melainkan karena ia tahu persis berkas mana yang akan dibuka Janari. Sekar duduk di kursi paling ujung, laptop di pangkuan, siap memutar ulang kurva cahaya kalau ada yang bertanya sampai ke angka mentah. Larasati sudah memegang pena di atas buku catatannya, dan dua kursi darinya, Dr. Ardhi Renjani duduk dengan sikap orang yang datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk mencatat kesalahan.
Wignya mendekat sebelum Janari naik podium. "Slide yang kita sepakati," katanya, pelan, seperti mengingatkan anak kecil membawa payung. "Broto menunggu kata itu. Dewan menunggu kata itu."
"Saya tahu," kata Janari.
"Kau tahu apa artinya kalau malam ini kosong."
"Saya tahu itu juga."
Ia tidak menjawab lebih dari itu, karena tidak ada jawaban yang bisa disingkat jadi satu kalimat tanpa berbohong sedikit. Ia menaiki tiga anak tangga menuju podium, dan untuk sepersekian detik, di bawah lampu sorot yang terlalu terang, ia teringat sesuatu yang tak diundang: kotak sinyal ayahnya, bau minyak pelumas pada tuas besi, dan suara ayahnya yang tak pernah meninggi—sinyal aman yang kau ragukan, kau sebut merah. Ia tidak sedang berdiri di depan rel kereta. Ia berdiri di depan dewan, donor, dan pers. Tapi tuasnya, ia sadar, tetap sama.
Ia membuka berkas yang tipis.
"Selamat malam," katanya, dan suaranya keluar lebih mantap dari yang ia duga. "Saya akan menyampaikan tepat apa yang data kami tunjukkan—tidak kurang, dan saya akan berusaha keras agar tidak lebih."
Slide pertama menampilkan kurva cahaya dari malam kejadian: penurunan bertahap, bukan pemadaman tajam, direkam serentak—dalam jendela kurang dari satu milidetik—oleh dua stasiun yang terpisah puluhan kilometer di punggung gunung. "Ini bukan derau. Ini bukan kilau satelit—kami sudah mengeliminasi elemen orbitnya satu per satu, dan kami akan membagikan seluruh proses eliminasi itu malam ini, bukan hanya kesimpulannya." Ia mengganti slide: dua stasiun, satu korda, satu garis waktu yang berimpit sampai ke angka desimal yang dikunci osilator berpatokan GPS. "Kesamaan waktu sepresisi ini, dari dua titik pengamatan yang berjauhan, hanya bisa dijelaskan oleh satu hal: sebuah benda nyata melintas di depan bintang latar, dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda pada instan yang sama."
Ruangan diam—diam yang berbeda dari kesunyian gala tadi, lebih pekat, lebih menahan napas. Ia melihat Ardhi mencondongkan tubuh sedikit ke depan, pena Larasati berhenti di udara.
"Dari lebar korda dan jarak antarstasiun, kami menghitung ukuran benda ini," lanjut Janari, "dan dari pergeseran posisinya dibandingkan data tiga puluh tahun silam—data yang direkam oleh Profesor Danastri, dan yang dulu ditolak tanpa alasan yang layak—kami menghitung jaraknya, dan kecepatan geraknya yang amat lambat." Ia berhenti sebentar, membiarkan angka-angka di layar berbicara sendiri: kecil, gelap, jauh, hampir tak bergerak dari sudut pandang manusia dalam rentang satu generasi.
"Ini benda gelap yang nyata," katanya, dan ia mendengar sendiri betapa kalimat itu, yang selama berbulan-bulan terasa seperti taruhan hidupnya, kini keluar sederhana saja. "Padat, dingin, tidak memancarkan cahayanya sendiri, dan tak tercatat di katalog benda langit mana pun. Ini temuan baru, dan kami cukup yakin untuk mengatakan itu di depan Anda semua malam ini."
Ia melihat Broto mulai tersenyum—senyum yang menunggu kata berikutnya, kata yang sudah ia bayangkan sejak berbulan-bulan lalu, kata yang akan membuat gala ini bernilai bagi para penyandang dana lain di ruangan itu.
"Dan saya ingin sangat jelas soal satu hal," kata Janari, menatap lurus ke arah Broto, lalu ke Wignya, lalu ke seluruh ruangan, "ini bukan lubang hitam. Tidak ada tanda cakrawala peristiwa. Tidak ada lensa gravitasi yang cukup kuat. Tidak ada emisi yang konsisten dengan itu. Siapa pun yang menyebutnya begitu malam ini—di ruangan ini atau di halaman koran besok—akan mengatakan sesuatu yang tidak didukung data kami."
Kata-kata itu jatuh ke ruangan seperti benda yang lebih berat dari yang siapa pun duga. Ia melihat rahang Wignya mengeras, melihat senyum Broto berhenti di tengah jalan, tak sempat selesai terbentuk. Di sudut ruangan, Karu tidak tersenyum, tapi sesuatu di bahunya melonggar, seperti orang yang baru saja meletakkan beban yang lama dipanggulnya.
"Ini bukan yang paling mengesankan yang bisa saya katakan malam ini," lanjut Janari, lebih pelan sekarang, hampir untuk dirinya sendiri, "tapi ini yang benar. Dan berkas ini—" ia mengangkat map tipis di tangannya, "—ada di sini untuk siapa pun yang ingin memeriksanya sendiri. Semua angka. Semua stasiun. Semua yang kami singkirkan sebelum kami berani sampai ke kesimpulan ini."
Ia menutup laptopnya, dan untuk pertama kalinya sejak naik podium, ia membiarkan tangannya diam di atas kayu mimbar, menunggu apa pun yang akan datang berikutnya—tepuk tangan, keheningan, atau amarah—sebagai sesuatu yang, apa pun bentuknya, sudah tak lagi bisa mengubah satu hal: sinyal yang baru saja ia berikan, sudah benar warnanya.