Tepuk tangan di aula gala itu tidak pernah benar-benar utuh. Ada yang bertepuk karena sopan, ada yang menahan tangan di pangkuan sambil menoleh ke meja utama, menunggu tanda apakah bertepuk itu aman. Janari turun dari podium dengan map berisi kurva cahaya yang belum sempat ia tutup rapat, dan ia tahu, dari cara lampu gantung memantul di gelas-gelas anggur yang tak lagi diangkat, bahwa malam ini tidak berjalan seperti yang diinginkan orang-orang yang membayar ruangan ini.
Broto Sasongko menemuinya sebelum ia sampai ke pinggir panggung. Ia tidak berteriak. Orang seperti Broto tidak berteriak di depan kamera Larasati yang masih menyala di sudut. Ia hanya berdiri terlalu dekat, dan suaranya turun ke daftar terendah yang masih bisa disebut suara.
"Benda gelap," kata Broto. "Itu judulmu. Benda gelap yang jauh dan kecil dan bergerak lambat."
"Itu yang kami ukur," kata Janari.
"Aku mengundang tiga puluh orang yang bisa menandatangani cek untuk mendengar kata lubang hitam." Broto tersenyum ke arah seseorang tamu yang lewat, lalu senyum itu padam begitu punggung tamu itu berbalik. "Aku menyebut kata itu di telingamu berminggu-minggu. Aku tidak memintamu berbohong. Aku memintamu berani."
"Berani mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya buktikan bukan keberanian, Pak. Itu utang yang ditagih orang lain nanti."
Rahang Broto bergerak, seperti mengunyah kalimat yang tak jadi keluar. "Kau tahu berapa yang kutarik malam ini? Kau tahu apa artinya angka itu untuk kubah di atas gunungmu?"
Janari tahu. Ia sudah tahu angka itu sejak sebelum naik podium, sudah menimbangnya sepanjang perjalanan lift dari lobi, dan tetap memutuskan. Ia menahan diri untuk tidak mengulang apa pun. Ada saat ketika membela diri hanya memperpanjang percakapan yang seharusnya sudah selesai.
Pak Wignya berdiri beberapa langkah di belakang Broto, dan itu lebih sukar ditanggung daripada murka donor. Wignya tidak marah. Wajahnya punya warna orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang lama ia takuti terjadi persis seperti yang ia bayangkan. Ia memegang gelas air, bukan anggur, dan tangannya yang memegang gelas itu sedikit gemetar. Ketika matanya bertemu mata Janari, ia tidak menuduh. Ia hanya memalingkan pandang, seolah menatap terlalu lama akan membuat salah satu dari mereka mengucapkan hal yang tak bisa ditarik.
"Pak Wignya," Janari memulai.
"Jangan," kata Wignya pelan. "Jangan sekarang. Saya belum tahu harus bilang apa, dan apa pun yang saya bilang sekarang akan keliru." Ia meletakkan gelasnya di meja terdekat, air itu berdenting sekali. "Dewan memungut suara lusa. Kau membuat pilihanmu di depan mereka semua." Ia berhenti. "Saya tidak tahu apakah saya membencimu karena itu atau iri."
Ia pergi sebelum Janari bisa menjawab, langkahnya lelah, punggungnya sedikit membungkuk di bawah jas yang tadi ia setrika untuk malam yang dijanjikan menjadi malam kemenangannya.
Di seberang aula, Dr. Ardhi Renjani bersandar di tiang dekat pintu, gelas di tangan, dan ia tidak repot-repot menyembunyikan senyumnya. Ketika Janari lewat, ia mengangkat gelas itu beberapa senti, sebuah salut yang lebih menghina daripada cibiran.
"Bersahaja sekali," kata Ardhi. "Benda gelap tak terkatalog. Kau tahu, aku hampir kasihan. Kau punya panggung, punya lampu, punya donor yang menganga menunggu keajaiban, dan kau berikan mereka catatan kaki."
Janari berhenti. Ia menatap Ardhi dengan ketenangan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Kau membaca pracetakmu sendiri, Ardhi?"
Senyum itu tergoyah setipis rambut.
"Kau menulis bahwa ini sistematik instrumen," kata Janari. "Kau memakai kejadian-kejadian yang kami buang karena terkontaminasi satelit, dan kau menyebutnya mewakili. Lusa, atau minggu depan, atau kapan pun ada yang repot memeriksa, mereka akan menemukan dua korda serentak yang terkunci-GPS pada instan yang sama dari dua stasiun yang terpisah puluhan kilometer. Kau tidak bisa menjelaskan itu dengan piksel panas. Kau tidak bisa menjelaskannya dengan derau. Kau tidak bisa mendahuluinya, karena aku sudah membagikan ephemerisnya secara terbuka, dan langit yang kau amati akan menunjukkan hal yang persis sama." Ia menurunkan suaranya, bukan untuk mengancam, tapi karena hal-hal yang benar tidak butuh diteriakkan. "Yang bersahaja itulah yang tidak bisa kau robohkan. Justru karena kecil. Justru karena aku tidak mengklaim lebih dari yang kupunya."
Ardhi meneguk anggurnya, dan untuk sekejap Janari melihat sesuatu bergerak di balik matanya — bukan malu, Ardhi tidak menyimpan malu, tapi perhitungan. Ia sedang menghitung ulang. Ia baru sadar bahwa hal yang ia rencanakan untuk dihancurkan telah dibangun terlalu rendah ke tanah untuk dijatuhkan.
"Kita lihat," kata Ardhi akhirnya, dan itu bukan ancaman. Itu mundur.
Janari menemukan Karu di dekat pintu servis, jauh dari lampu, seperti kebiasaannya. Teknisi tua itu telah melepas dasi yang jelas menyiksanya sepanjang malam. Ia menyodorkan gelas air ke tangan Janari, tahu bahwa perempuan itu belum minum apa pun sejak sore.
"Broto pergi," kata Karu.
"Ya."
"Uangnya juga."
"Ya."
Karu mengangguk perlahan, seolah itu bukan kabar buruk melainkan cuaca yang sudah lama ia baca dari langit. "Ayahmu," katanya, "pernah menahan seluruh kereta di stasiun karena satu sinyal yang dia tidak yakin. Semalaman. Orang-orang marah. Jadwal kacau. Dan besoknya ternyata memang ada rel yang retak."
Janari menatap gelas di tangannya, permukaan air yang diam. Di luar jendela tinggi aula, di atas cahaya kota yang mengaburkan segalanya, ia tahu langit tetap ada, dan di suatu koordinat sidereal yang tak punya alamat, benda itu bergerak lambat pada lintasannya, tak peduli pada gala, pada dewan, pada murka siapa pun. Ia nyata. Itu tidak akan berubah karena tidak ada yang bertepuk.
"Retaknya tetap retak," kata Janari pelan, "entah kita sebut aman atau tidak."
"Betul," kata Karu. "Cuma, kalau kau sebut aman, kau yang menanggung keretanya."
Mereka berdiri sebentar dalam keheningan itu, dua orang di tepi ruangan yang bersinar untuk hal yang salah, sementara di dalam map Janari kurva-kurva cahaya yang jujur itu menunggu, sabar, kebal, tak butuh pembelaan siapa pun selain data yang membentuknya.