Lampu-lampu kertas tergantung di sepanjang teras observatorium, berayun pelan ditiup angin yang turun dari punggung gunung, dan Janari Nawangsih berdiri di baliknya, di ruang alat yang biasanya bau minyak pelumas dan logam dingin, kini disulap jadi ruang tunggu bagi seorang pembicara yang belum tahu apa yang akan ia katakan.
Di meja di depannya tergeletak kartu-kartu catatan yang sudah ia susun ulang tiga kali sejak sore. Di setiap versi, kalimat pembukanya berbeda. Di satu versi ia menulis: kami menemukan sesuatu yang nyata. Di versi lain, dicoretnya, lalu ditulis ulang: kami menemukan sesuatu yang belum bisa kami beri nama. Tangannya berhenti di atas kartu ketiga, pena tak bergerak, seperti jarum yang macet di antara dua angka.
Dari balik tirai kanvas yang memisahkan ruang alat dari teras, ia bisa mendengar denting gelas dan tawa yang dijaga agar terdengar anggun. Suara Pak Wignya menyambut tamu demi tamu dengan nada yang, bagi telinga yang mengenalnya bertahun-tahun, terdengar terlalu ramah untuk jadi wajar.
Pintu geser terbuka sedikit dan Wignya masuk, mengenakan jas yang jelas belum lama dikeluarkan dari plastik penyimpan, kancing atasnya masih agak kaku menutup lehernya.
"Semua sudah datang," katanya. "Dewan, Broto, dua wartawan selain Larasati. Bahkan ada yang datang dari kota, orang-orang yang belum pernah repot naik ke sini." Ia berhenti, matanya turun ke kartu-kartu di meja. "Kau sudah siap?"
"Aku sudah siap bicara," jawab Janari. "Soal siap seperti apa yang kaubayangkan, itu urusan lain."
Wignya menghela napas, lalu duduk di kursi seberang, kursi yang biasanya dipakai Karu saat memeriksa jurnal alat. "Janari. Aku tak minta kau berbohong. Aku hanya minta kau—" ia mencari kata, tangannya bergerak di udara seolah menangkap sesuatu yang licin, "—biarkan mereka mendengar bagian yang paling menarik dulu. Baru detail-detailnya. Orang datang untuk kisah, bukan untuk catatan kaki."
"Detail-detail itu yang membuatnya benar, Pak."
"Aku tahu." Suaranya melunak, nyaris memohon. "Tapi malam ini, kejujuran saja tidak akan membayar listrik kubah itu setahun ke depan. Dewan menunggu alasan untuk tidak menutup kita. Broto menunggu alasan untuk terus menulis cek. Aku menunggu—" ia berhenti lagi, dan untuk sesaat Janari melihat sesuatu di wajah atasannya yang jarang tampak: bukan tekanan, tapi ketakutan yang telanjang. "Aku menunggu alasan untuk masih punya pekerjaan yang bisa kubanggakan besok pagi."
Sebelum Janari sempat menjawab, tirai tersibak lagi, dan kali ini masuklah Broto Sasongko, wangi cologne-nya mendahului langkahnya, gelas anggur di tangan yang belum disentuh bibirnya sedikit pun—hanya prop, pikir Janari, seperti segala sesuatu tentang malam ini.
"Bintang acara kita," kata Broto, tersenyum lebar, giginya berkilat di bawah lampu kerja yang masih menyala terang di atas meja alat. "Aku sudah bilang pada semua orang di luar sana: malam ini, Observatorium Tepi Lereng akan mengubah cara dunia memandang langit."
"Aku belum bilang apa yang akan kukatakan, Pak Broto."
"Kau tak perlu bilang." Broto meletakkan gelasnya di tepi meja, dekat sekali dengan kartu-kartu catatan sehingga Janari harus menahan diri untuk tidak menariknya menjauh. "Aku dengar dari orang-orangku. Kedipan berulang, benda masif, gelap, tak terkatalog. Kau tahu bagaimana bunyinya itu di telinga orang yang menandatangani cek, Janari? Itu bunyinya seperti lubang hitam."
"Itu bukan lubang hitam."
"Itu terdengar seperti lubang hitam," Broto mengulang, lebih pelan, seolah mengajarkan sebuah kata pada anak kecil. "Dan yang terdengar seperti itu, akan ditulis seperti itu, entah kau yang menulisnya atau wartawan di luar sana yang menulisnya untukmu. Jadi kupikir lebih baik kau yang mengendalikan kalimatnya."
Janari merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya, bukan dari angin gunung yang menyelinap lewat celah tirai, melainkan dari betapa rapinya logika itu tersusun—seolah kejujuran dan kekacauan narasi cuma soal siapa yang memegang mikrofon lebih dulu.
"Data belum mengizinkan aku bilang begitu," katanya, menahan suaranya tetap datar. "Korda menunjukkan massa dan jarak. Bukan cakrawala peristiwa. Bukan singularitas. Kalau aku bilang lubang hitam malam ini, aku bukan melaporkan temuan—aku mengarang satu."
"Maka karanglah sedikit," kata Broto, dan ia tersenyum lagi, seolah baru saja melontarkan lelucon ramah di antara kawan lama, bukan sebuah permintaan yang membuat dada Janari mengetat.
Wignya tak membela, tak juga menampik. Ia hanya menunduk memandangi ubin, seperti orang yang tahu betul ke arah mana percakapan ini seharusnya berakhir tapi tak sanggup mengatakannya lantang.
Dari luar terdengar suara Sekar memanggil samar-samar, lalu langkah tergesa, dan wajahnya muncul di celah tirai, matanya mencari-cari Janari.
"Lima menit lagi," kata Sekar. "Karu sudah cek mikrofon dua kali. Larasati duduk di baris depan, dia sudah menyalakan perekam sejak tadi." Ia melirik Broto dan Wignya, merasakan sesuatu di udara yang tak perlu dijelaskan, lalu buru-buru menambahkan, "Semua data ada di flash disk itu, Bu Janari, seperti yang Ibu minta."
Janari mengangguk, tapi tangannya, saat meraih kartu-kartu di meja, terasa jauh lebih berat dari kertas yang seharusnya ia angkat. Broto mengetuk pelan jam tangannya, seolah waktu adalah miliknya untuk dibagikan. Wignya berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Janari dengan tatapan seorang atasan yang sedang berharap, dan seorang kawan lama yang sedang berdoa, dalam waktu bersamaan.
"Lima menit," ulang Wignya, lebih lembut kali ini, hampir seperti permintaan maaf yang belum diucapkan.
Di luar, tepuk tangan mulai terdengar, seseorang tengah memperkenalkan namanya ke podium, dan cahaya panggung yang berpendar lewat celah tirai jatuh di atas kartu-kartu di tangannya seperti sorotan yang menuntut sebuah keputusan sebelum ia sempat menuliskannya.