Pukul dua lewat tujuh belas menit, ruang kendali Observatorium Tepi Lereng masih berdengung oleh satu kata yang belum sepenuhnya berani mereka percayai: korda. Layar utama menampilkan dua jendela berdampingan—kurva cahaya dari titik pengamatan utama dan dari stasiun tua Danastri, dua penurunan kecerlangan yang jatuh nyaris berimpit pada stempel waktu yang sama, terkunci-GPS hingga milidetik. Sekar masih berdiri, tangannya menutup mulut, seolah tepuk tangan tadi bisa ia telan kembali kalau perlu. Karu belum duduk sejak ia berteriak dari balik konsol osilator. Janari sendiri merasa dadanya masih berdegup dengan irama yang tidak dikenalinya—bukan lagi kecemasan biasa, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya: harapan.
Ia yang pertama memaksa dirinya duduk kembali.
"Jangan dulu," katanya, lebih kepada diri sendiri daripada kepada dua orang di ruangan itu. "Kita belum menutup log malam ini."
Sekar menurunkan tangannya. "Masih ada tiga stasiun jaringan yang belum lapor. Yang di lembah, yang di punggung barat, dan—" ia memeriksa daftar di layarnya, "—titik Pak Broto punya... maksudku, titik dekat kebun teh."
"Tarik semuanya," kata Janari. "Semua frame mentah, bukan cuma ringkasan deteksi otomatis."
Butuh dua puluh menit lagi sebelum ketiga paket data itu selesai diunggah lewat sambungan yang byte demi byte terasa seperti menunggu napas seseorang di ruang gawat darurat. Karu yang membuka paket dari titik lembah lebih dulu, karena stasiun itu paling dekat dan jaringannya paling stabil.
Ia diam cukup lama sebelum bersuara.
"Janari," katanya, nada yang membuat Sekar berhenti mengetik. "Lihat ini."
Janari mendekat. Di layar Karu, satu kurva cahaya lain—bukan dari dua stasiun yang sudah cocok, melainkan dari titik lembah—menunjukkan penurunan kecerlangan pada rentang waktu yang nyaris sama dengan korda mereka. Nyaris. Selisihnya sekitar sebelas detik, cukup dekat untuk membuat siapa pun tergoda menganggapnya bagian dari peristiwa yang sama.
"Sebelas detik itu terlalu jauh untuk okultasi benda yang sama," kata Janari, mencoba menahan suaranya tetap datar. "Tapi—"
"Tapi bentuknya," potong Karu, menunjuk grafik. "Lihat sisi turunnya. Landai di depan, curam di belakang. Bukan seperti punya kita."
Sekar mendekat, matanya bergerak cepat antara dua kurva di layar berbeda. "Itu... itu bentuk yang sama seperti yang bikin Bu Danastri celaka dulu, kan? Yang diceritakan Kang Karu waktu itu—kilau satelit."
Tak ada yang menjawab selama beberapa detik. Kata itu, satelit, jatuh di ruangan seperti sesuatu yang pecah pelan-pelan, bukan berdentang, hanya retak yang menjalar.
Janari menarik kursi, duduk di depan layar Karu, membuka log posisi. "Kita punya elemen dua-baris untuk konstelasi yang lewat malam ini?"
"Sudah kuunduh minggu lalu, untuk jaga-jaga," kata Karu, sudah memutar kursinya ke terminal lain. Jari-jarinya, yang biasanya tenang seperti orang yang sudah dua puluh tahun menyetel jam yang sama setiap malam, kini bergerak sedikit lebih cepat dari biasanya. "Beri aku lima menit."
Lima menit itu terasa seperti menunggu kereta yang tak jelas jadwalnya. Janari memandangi layar tanpa benar-benar melihatnya, pikirannya melompat ke buku catatan Danastri yang masih tersimpan di rak dekat pintu—ke halaman yang menunjukkan bagaimana satu kilau logam kecil, memantulkan matahari dari orbit rendah, bisa meniru turunnya cahaya bintang yang teroklusi hingga tak seorang pun, bahkan Danastri sendiri, mampu membedakannya pada malam kejadian.
"Kalau ini satelit," kata Sekar pelan, seakan mengucapkannya bisa membuatnya kenyataan atau membatalkannya, "apa itu berarti dua kejadian yang tadi kita anggap korda juga—"
"Belum tentu," sela Janari, cepat, mungkin terlalu cepat. "Satu kejadian terkontaminasi tidak otomatis mengontaminasi semuanya. Itu justru sebabnya kita punya banyak stasiun—supaya satu yang buruk tidak menenggelamkan yang bersih."
"Tapi kalau titik lembah menangkap satelit di jam segini, dekat koordinat segini," kata Karu, tanpa menoleh dari layarnya, "berapa besar kemungkinan salah satu dari dua yang cocok tadi juga cuma kebetulan menangkap benda yang sama, hanya beda posisi?"
Tidak ada yang menjawab. Itu pertanyaan yang tepat, dan justru karena itu, tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan kemungkinan jawabannya.
Karu akhirnya berhenti mengetik. Ia menatap layar lama sekali sebelum berbicara.
"Elemen orbitnya cocok. Ada benda satelit lewat di dekat sana, jam segini, malam ini. Tapi—" ia mengangkat satu jari, seperti biasa ia lakukan ketika hendak menahan orang lain menyimpulkan terlalu cepat, "—posisinya belum tentu pas di garis pandang titik lembah pada detik itu. Aku baru punya elemen kasar, bukan yang presisi."
"Jadi kita belum tahu," kata Janari.
"Kita belum tahu," Karu mengulang, seolah kalimat itu sendiri adalah instrumen yang harus dikalibrasi ulang.
Janari menghela napas panjang, menatap jam dinding analog tua di atas rak arsip—satu-satunya benda di ruangan itu yang tidak terkunci-GPS, tidak terhubung apa pun, hanya berdetak menurut mekanismenya sendiri, seperti pengingat betapa mudahnya waktu bisa berbohong kalau tidak diperiksa. Ia teringat suara ayahnya, jauh di kotak sinyal yang sudah lama pensiun: jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan.
Ia belum ragu bahwa korda itu nyata. Tapi ia juga belum yakin ia boleh percaya.
"Kita tidak tidur malam ini," katanya akhirnya, suaranya lebih tegas dari yang ia rasakan di dada. "Semua frame mentah, semua stasiun, semua stempel waktu, kita periksa satu per satu sebelum fajar. Kalau ini korda sejati, ia akan bertahan dari pemeriksaan sekeras apa pun. Kalau tidak—" ia menahan diri untuk tidak menyelesaikan kalimat itu.
Sekar sudah menarik kursi, membuka folder pertama tanpa diminta. Karu meregangkan bahunya sekali, lalu mendekatkan wajahnya ke layar seperti seseorang yang bersiap menyetel jam yang paling penting dalam hidupnya.
Di luar, langit di atas Tepi Lereng masih gelap, bintang-bintang tak peduli pada keraguan siapa pun yang sedang menatapnya, dan jam sidereal terus berjalan, tanpa menunggu siapa pun selesai memutuskan apa yang boleh mereka percayai.