Radio itu berdesis dua kali sebelum suara Karu benar-benar keluar dari static, dan dalam jeda sepersekian detik itu Janari Nawangsih merasa dadanya berhenti bekerja sama sekali.
"Tepi Lereng, ini stasiun dua. Ulangi, ini stasiun dua."
Layar di depannya masih menampilkan satu garis tunggal—kurva cahaya bintang target yang turun tajam lalu naik lagi, sebuah lubang kecil pada grafik yang telah ia tatap selama tujuh menit tanpa berkedip, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu bukan igauan mata yang kelelahan. Detik yang diramalkan sudah lewat sebelas menit yang lalu. Satu stasiun sudah melaporkan sesuatu. Ambigu. Bisa jadi apa saja—hembusan angin yang menggoyang kubah, seekor ngengat yang lewat di depan lensa penjaga, derau termal yang menipu detektor. Karu sendiri yang mengatakan itu, suaranya datar dan hati-hati seperti biasa, tidak mau menjanjikan apa pun sebelum ada yang kedua.
Sekar duduk di sebelahnya, headset menutupi separuh wajah, jarinya melayang di atas papan ketik tanpa menyentuhnya, seolah takut satu ketukan yang salah bisa mengusir apa pun yang sedang mendekat.
"Stasiun dua, ini Tepi Lereng, kami dengar," jawab Janari, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya—terlalu tenang untuk seseorang yang tangannya gemetar di bawah meja.
Yang menjawab bukan Karu. Ada jeda, gemerisik kertas, lalu suara lain—lebih tua, lebih pelan, dengan jeda-jeda di antara kata seolah tiap kalimat harus ditimbang dulu sebelum dilepas.
"Ini Danastri." Sebuah tarikan napas panjang di ujung sana, di stasiun tua yang tiga puluh tahun lalu ditinggalkannya dan yang kini menyala lagi berkat tangan-tangan yang sabar membersihkan karat dari cermin sekundernya. "Kami dapat sesuatu. Turun, lalu naik lagi. Aku sudah melihat kurvanya dua kali sebelum aku berani bicara."
Janari menatap layar waktu di sudut kanan monitornya—stempel yang dikunci osilator terkunci-GPS, angka yang tidak pernah berbohong karena tidak punya kepentingan untuk berbohong. Ia menuliskan waktu yang disebutkan Danastri di kertas, tangannya sendiri yang menuliskannya, bukan mengetik, seolah tinta di atas kertas terasa lebih jujur daripada kursor yang berkedip.
"Karu," katanya, tanpa menoleh. "Hitung selisihnya."
Karu sudah bergerak sebelum diminta. Dua layar menyala di hadapannya—satu untuk stempel waktu Tepi Lereng, satu untuk stasiun Danastri, keduanya disinkronkan ke satelit navigasi yang sama, ke detik dan pecahan detik yang sama, tak peduli seberapa jauh kedua kubah itu berjarak di punggung gunung. Ia mengetuk angka-angka itu ke kalkulator genggamnya, bukan komputer—kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan, seolah aritmetika yang dilakukan dengan jari sendiri lebih bisa dipercaya.
"Selisihnya dua koma delapan detik," kata Karu akhirnya. "Stasiun dua duluan."
Janari menutup mata sebentar. Ia sudah menghitung ini berkali-kali di kertas selama berminggu-minggu—kecepatan bayangan benda itu menyapu tanah, arah lintasannya, jarak antara Tepi Lereng dan stasiun Danastri yang berjarak dua ratus tiga puluh kilometer di sepanjang korda yang telah mereka rancang. Jika bayangan itu nyata, jika benda gelap itu benar-benar ada di luar sana dan bukan sekadar hantu dalam data, maka bayangannya akan menyentuh stasiun Danastri lebih dulu, lalu menyapu ke arah Tepi Lereng dalam waktu yang bisa dihitung—dua koma tujuh, dua koma sembilan detik, sesuatu di kisaran itu, tergantung kecepatan sesungguhnya benda yang belum pernah mereka ukur langsung.
"Berapa prediksinya?" tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya, karena ia sendiri yang menulis angka itu di buku catatannya tiga hari lalu.
"Dua koma tujuh sampai tiga koma satu," jawab Karu. "Kau menulisnya sendiri."
Tak ada yang bicara selama beberapa detik. Di seberang ruangan, Sekar berdiri, headset masih menempel di telinganya, matanya berpindah dari layar ke wajah Janari dan kembali lagi, seperti mencari izin untuk bernapas lega.
"Itu di dalam jendela," kata Janari pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu. "Selisihnya di dalam jendela yang kita ramalkan."
Dua stasiun, dua kubah, dua puluh tahun perbedaan usia peralatan dan tiga puluh tahun perbedaan riwayat manusia yang mengoperasikannya, mencatat kejadian yang sama dari dua sudut Bumi yang berbeda, dengan selisih waktu yang persis seperti yang diperintahkan oleh geometri bayangan yang bergerak melintasi tanah. Bukan kebetulan yang bisa dijelaskan oleh derau lokal, bukan pukulan sinar kosmik yang menghantam satu detektor pada satu malam, bukan kilau satelit yang lewat kebetulan di depan satu lensa. Sebuah artefak instrumen tidak tahu di mana stasiun kedua berada. Sebuah artefak tidak bisa menghitung dua koma delapan detik dengan tepat seolah ia memahami kecepatan bayangannya sendiri.
Itulah korda—dua titik terpisah di permukaan Bumi, masing-masing memotong bayangan yang sama pada waktu yang berbeda namun konsisten, seperti dua tali busur yang menyeberangi lingkaran yang sama.
"Korda," ucap Janari, dan kali ini ia membiarkan suaranya pecah sedikit, hanya sedikit, sebelum ia menariknya kembali rapat-rapat. "Kita dapat korda."
Sekar melepas headset-nya dan tertawa—tawa yang keluar begitu saja, tidak sopan untuk ruang kendali yang biasanya sunyi, tapi tak seorang pun menegurnya. Di radio, suara Danastri terdengar lagi, lebih pelan dari sebelumnya, hampir seperti bisikan yang ditujukan bukan untuk didengar orang lain.
"Tiga puluh tahun," katanya, "aku menunggu seseorang mengucapkan kata itu tanpa harus meralatnya besok pagi."
Janari menatap kurva di layarnya—dua lubang kecil pada dua grafik terpisah, dua saksi yang tidak saling kenal namun bersaksi hal yang sama pada saat yang tepat. Ia ingin percaya. Ia ingin sekali percaya. Tapi ada suara lain di kepalanya, lebih tua dari malam ini, suara yang mengajarkannya bahwa satu kecocokan, sehebat apa pun tampaknya, belum pernah cukup untuk disebut kepastian.
"Belum," katanya, meski tangannya sudah meraih pena untuk mencatat setiap angka. "Kita periksa dulu semuanya—elemen orbit satelit malam ini, bentuk titik-sebar, semuanya. Baru setelah itu kita boleh percaya pada apa yang baru saja kita lihat."
Tapi ketika ia menuliskan waktu itu di buku catatannya, tangannya tidak lagi gemetar karena takut. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia gemetar karena sesuatu yang lain—sesuatu yang belum berani ia sebut namanya sendiri.