Malam itu tidak ada yang berani menyalakan lampu utama. Ruang kendali Observatorium Tepi Lereng hanya diterangi layar-layar yang berkedip pucat—biru dari monitor data mentah, hijau dari terminal Karu, dan cahaya oranye kecil dari termos kopi yang sudah dingin di sudut meja. Di luar, kabut menempel di jendela seperti napas yang tak mau pergi.
"Ulangi dari awal," kata Janari Nawangsih, suaranya datar karena kelelahan, bukan karena tenang. "Bukan dari kesimpulan. Dari bingkai mentah."
Sekar mengangguk, jarinya sudah kaku di atas papan ketik. Rambutnya diikat asal, kacamatanya melorot. "Stasiun A, kejadian jam dua lewat tujuh belas menit tiga puluh sembilan koma dua detik sidereal. Stasiun C, kejadian yang katanya sama, tapi—" ia berhenti, menahan napas, "—tapi titik-sebarnya lebih bulat dari yang di stasiun A."
"Berapa lebar setengah-maksimum?"
"Stasiun A, satu koma delapan detik busur. Stasiun C, dua koma satu."
Janari menutup mata sebentar. Selisih tiga persepuluh detik busur bisa berarti apa saja—turbulensi udara, fokus yang bergeser semalam, atau sesuatu yang lebih jujur untuk ditakuti: dua benda berbeda yang kebetulan berhimpit di jendela waktu yang sama.
"Karu," katanya, tanpa menoleh, "berapa selisih stempel waktu GPS di kedua stasiun untuk kejadian itu?"
Karu tidak langsung menjawab. Ia sedang membungkuk di atas osilator cadangan, obeng kecil terselip di sela jarinya, matanya menyipit membaca angka di layar genggam yang tersambung kabel usang ke unit penerima. "Tunggu. Aku mau pastikan jamnya sendiri tidak menipu kita sebelum menuduh langit."
"Karu."
"Sebentar, Nari." Nada itu bukan penolakan, melainkan disiplin yang keras kepala—hal yang membuat Janari mempekerjakannya bertahun-tahun lalu dan tidak pernah menyesal. Beberapa detik kemudian Karu berdiri tegak, punggungnya berbunyi pelan. "Seratus dua puluh mikrodetik. Dalam toleransi. Jam kita bersih."
"Jadi bukan pewaktuan."
"Bukan pewaktuan," Karu mengulang, seolah ingin kata itu berdiri sendiri di udara sebelum ada yang berani menambahinya.
Sekar sudah membuka jendela lain di layarnya—daftar elemen orbit satelit yang diunduh sebelum tengah malam, ribuan baris angka yang tampak seperti mantra. "Aku jalankan lagi propagasi SGP4 untuk semua objek yang lintasannya lewat dua puluh derajat dari koordinat itu, plus-minus sepuluh menit."
"Semua? Termasuk puing?"
"Termasuk puing." Sekar menatapnya sekilas, seperti meminta izin untuk lelah. "Ada tiga ratus objek kandidat. Aku sudah buang yang magnitudonya mustahil cukup terang. Sisa sembilan."
"Perlihatkan."
Daftar itu muncul: nomor katalog, ketinggian, kecepatan sudut, magnitudo perkiraan. Janari menyusuri satu per satu dengan mata yang mulai membakar karena kurang tidur, mencari satu hal—kecepatan sudut yang cocok dengan durasi kedipan yang mereka rekam.
"Yang ini," katanya akhirnya, menunjuk baris keenam. "Nomor katalog sekian. Ketinggian rendah. Kecepatan sudutnya di kisaran yang bisa menjelaskan durasi sub-detik kalau lintasannya lewat dekat garis pandang."
"Tapi jamnya tidak cocok," sela Sekar cepat, hampir membela. "Aku sudah hitung. Objek itu lewat titik itu empat menit lebih awal dari kejadian stasiun C."
"Empat menit itu jauh," kata Karu, menyeka tangan dengan kain lap yang sudah hitam oleh minyak. "Tapi jangan buru-buru lega. Empat menit di kertas bisa jadi empat detik kalau elemen orbitnya sendiri sudah basi. TLE itu meluruh, Sekar. Makin lama sejak diterbitkan, makin longgar kepercayaannya."
"Berapa umurnya?"
Sekar menggulir layar. "Diterbitkan enam hari lalu."
"Enam hari untuk orbit rendah begitu," gumam Janari, "bisa meleset beberapa detik busur dalam posisi. Bisa juga meleset dalam waktu." Ia menarik kursi, duduk lebih dekat ke layar, seakan jaraknya bisa memaksa data mengaku. "Kita tidak bisa memakai argumen 'jamnya tidak cocok' sebagai pembelaan kalau kita sendiri tidak percaya jam TLE-nya."
Ruangan diam sesaat. Di luar, entah burung apa mulai berbunyi—terlalu dini untuk fajar sungguhan, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski mereka berhenti di satu titik keraguan.
"Cara paling jujur," kata Janari akhirnya, "adalah memeriksa geometri, bukan cuma waktu. Kalau itu satelit, sudut lintasannya di langit akan lurus—garis, bukan titik. Kamera langit-seluruh pasti merekam jejaknya bergerak, walau samar, di bingkai sebelum dan sesudah."
"Sudah kucek," kata Sekar, agak defensif sekarang, seperti tak mau dianggap lalai. "Tidak ada jejak gerak di bingkai sekitarnya. Titik itu diam."
"Diam di seluruh sepuluh bingkai?"
"Sepuluh bingkai sebelum, sepuluh sesudah. Diam."
Itu bukan bukti final—Karu sudah mengingatkannya berkali-kali sejak audit pahit yang membuat mereka membuang sebagian data karena kilau satelit. Tapi diamnya titik itu, dipadukan selisih empat menit yang jauh dari toleransi wajar bahkan untuk TLE yang meluruh, mulai menggeser timbangan.
Karu menarik napas panjang, menatap layarnya sendiri—grafik osilator yang kini stabil setelah semalam ia paksa kembali presisi. "Kalau kau tanya aku, sebagai orang yang cuma mengurus jam dan bukan bintang: aku belum berani bilang ini bersih. Tapi aku juga belum bisa menunjukkan cacat yang membuatnya kotor."
"Itu bukan jawaban," kata Sekar, setengah tertawa getir karena lelah.
"Memang bukan," sahut Karu. "Karena belum waktunya ada jawaban."
Janari menatap layar yang penuh angka—titik-sebar, stempel waktu, elemen orbit yang saling bersilang seperti benang kusut yang harus diurai satu demi satu, bukan ditebak. Ia teringat ayahnya, kotak sinyal, aturan yang tak pernah berubah meski dunia di sekitarnya berubah: jangan memberi sinyal aman yang kau ragukan.
"Kalau begitu," katanya, meraih kembali daftar sembilan kandidat satelit yang belum selesai diperiksa, "kita periksa yang delapan sisanya. Semua. Sebelum matahari naik penuh, aku ingin tahu persis mana yang bisa kita buang, dan mana yang tersisa untuk kita percayai."
Di luar jendela, langit mulai berubah dari hitam ke abu-abu tua, dan tak seorang pun di ruangan itu beranjak dari kursinya.