Malam okultasi datang dengan langit yang jernih di mana-mana—keberuntungan yang nyaris tidak pernah ia dapat. Janari mengarahkan teropong Tepi Lereng ke bintang target, jam empat stasiun terkunci ke sinyal satelit yang sama, ramalan pita bayangan sudah dikirim ke semua pihak. Di kota pantai, seorang amatir bernama Pak Dirga berdiri di samping teleskopnya. Di dataran tinggi tetangga, pasangan pengamat muda menunggu. Di titik yang ia tentukan di pinggir hutan, amatir ketiga sudah memarkir mobilnya. Dan di gunung yang jauh, teropong satu setengah meter Cakrabuana, di bawah pengawasan orang-orang Profesor Brotoseno, menatap bintang yang sama.
Lima mata, satu bintang, satu bayangan ramalan yang menyapu pulau dalam hitungan detik.
Janari merekam. Pada saat yang ia ramalkan, kurang dua detik, garis hijaunya jatuh—tajam, datar, lalu naik. Tepi Lereng melihat padam. Lamanya sedikit lebih panjang dari kedua kedipan sebelumnya, persis seperti yang ia harapkan jika Tepi Lereng kebetulan dekat tengah pita bayangan. Tangannya gemetar saat ia menyimpan rekaman. Stasiunnya sendiri, lagi, melihat hantu.
Lalu mulai datang hasil dari yang lain, lewat pesan dan berkas yang diunggah, satu per satu, dan dunia yang rapi di kepalanya mulai retak.
Pak Dirga di kota pantai: padam. Durasinya lebih pendek dari Tepi Lereng—persis seperti yang diharapkan jika ia berada lebih dekat ke tepi pita bayangan. Janari hampir menangis melihatnya. Dua stasiun, terpisah ratusan kilometer, melihat bintang yang sama padam pada saat yang sama, dengan durasi berbeda yang masuk akal secara geometris. Ini bukan lagi satu teropong. Ini tali busur. Ini ukuran.
Pasangan di dataran tinggi: tidak ada. Bintang menyala mantap sepanjang waktu. Janari memeriksa posisi mereka di petanya dan menghela napas lega—mereka berada di luar pita bayangan ramalannya, jadi memang seharusnya mereka tidak melihat apa-apa. Ketiadaan padam di tempat yang benar bukan kegagalan; itu konfirmasi. Bayangan benda itu tidak menyapu sejauh sana, dan itu memberi tahu Janari sesuatu tentang lebar bayangannya, tentang ukuran bendanya.
Amatir ketiga di pinggir hutan: tidak ada. Dan ini mengganggu. Karena menurut petanya, titik itu berada di dalam pita bayangan, dekat tepi tapi di dalam. Seharusnya ia melihat padam singkat. Ia tidak melihat apa-apa. Janari memeriksa lognya: pengamat itu menulis bahwa ada kabut tipis naik dari sungai di dekatnya menjelang waktu okultasi, dan bintang sempat meredup tidak menentu. Mungkin kabut menelan padam yang singkat itu. Mungkin titiknya sebenarnya di luar pita dan petanya sedikit meleset. Mungkin tidak ada padam di sana sama sekali. Tiga kemungkinan, semuanya jujur, semuanya mungkin. Janari menahan diri untuk tidak memaksa data ini menjadi cerita yang ia inginkan. Satu ketiadaan yang ambigu bukan bukti dan bukan sanggahan. Itu hanya ketidakpastian, jenis ketidakpastian biasa yang menghantui setiap pengamatan dari bumi yang berkabut.
Lalu datang Cakrabuana.
Berkas dari teropong besar itu tiba paling akhir, dikirim oleh asisten Profesor Brotoseno dengan catatan resmi yang singkat. Janari membukanya dengan napas tertahan. Inilah saksi terkuatnya, alat terbaik, tali busur terpanjang. Inilah yang akan membuat klaimnya tak terbantah.
Garis cahaya Cakrabuana mengalir mantap. Tidak ada padam. Bintang menyala tenang sepanjang seluruh rekaman.
Janari menatap layar sampai matanya perih. Cakrabuana berada di tengah pita bayangan ramalannya—lebih dekat ke tengah daripada Tepi Lereng sendiri. Kalau Tepi Lereng dan kota pantai melihat padam, maka Cakrabuana harus melihat padam, padam yang paling panjang dari semua. Tapi ia tidak melihat apa-apa. Garisnya datar mulus, terlalu mulus, sempurna seperti rekaman alat baru yang mahal.
Ini bisa membunuh klaimnya. Stasiun terbaik, alat terbesar, di posisi paling menentukan—dan ia tidak melihat hantunya. Dalam ilmu yang jujur, satu ketiadaan dari stasiun yang seharusnya melihat adalah sanggahan yang berat. Profesor Brotoseno bisa mengangkat rekaman ini dan berkata: kau lihat, tidak ada apa-apa, persis seperti Sutawijaya, hantu yang hanya muncul di teropong tua dan hilang di teropong bagus.
Tapi Janari, duduk di gunungnya pada jam lima pagi, memaksa dirinya berpikir lebih jernih daripada rasa takutnya. Ia menggambar ulang. Tepi Lereng: padam panjang. Kota pantai: padam pendek. Dataran tinggi (di luar pita): kosong, benar. Hutan (ambigu): kosong, mungkin kabut. Cakrabuana (paling tengah): kosong. Kalau ia membuang Cakrabuana, sisa datanya melukiskan benda yang nyata, dengan ukuran yang bisa dihitung dari dua padam dan dua ketiadaan yang masuk akal. Hanya Cakrabuana yang tidak cocok—dan Cakrabuana adalah satu-satunya stasiun yang dipegang oleh orang yang punya alasan untuk tidak ingin benda itu ada.
Dua kemungkinan berdiri di hadapannya, dan keduanya menakutkan dengan cara berbeda. Yang pertama: bendanya tidak ada, padam di Tepi Lereng dan kota pantai adalah kebetulan yang sangat tak mungkin tapi bukan mustahil, dan Cakrabuana—stasiun terbaik—mengatakan kebenaran yang ia tolak dengar. Yang kedua, yang lebih gelap: bendanya ada, datanya benar, dan rekaman Cakrabuana yang terlalu mulus itu telah dibersihkan oleh tangan manusia.
Janari menatap garis sempurna Cakrabuana untuk waktu yang lama. Ia tidak mau melompat ke tuduhan; melompat ke tuduhan adalah meninggalkan ilmu dan masuk ke kemarahan, dan kemarahan tidak pernah membuktikan apa pun. Tapi ia tahu satu hal tentang data. Data yang nyata selalu punya derau, gemeretak halus dari foton dan udara dan elektron. Garis Cakrabuana ini terlalu bersih di sekitar saat okultasi. Bukan bukti. Tapi pertanyaan baru, sedingin fajar di luar jendela: kalau benda itu nyata dan satu rekaman dibersihkan, maka seseorang tahu benda itu nyata sebelum aku membuktikannya—dan ingin agar tetap tak terbukti.