Jam sidereal di sudut layar bergerak dengan kepastian yang tidak pernah dimiliki jam sipil mana pun. Janari Nawangsih menatapnya seperti menatap air yang naik pelan-pelan ke leher, tanpa bisa dipercepat atau dihentikan.
Dua puluh detik.
Ruang kendali Observatorium Tepi Lereng terasa lebih sempit dari biasanya, meski tidak ada yang bertambah di dalamnya selain napas yang ditahan. Karu duduk membungkuk di depan panel osilator, jari-jarinya berhenti bergerak, seolah gerakan sekecil apa pun bisa mengganggu detak yang sudah ia kunci mati-matian ke sinyal GPS tiga hari terakhir. Layar di depannya menampilkan angka yang tak pernah berhenti bertambah, tenang, tak peduli.
"Stasiun tiga masih tertutup," kata Sekar, headset menempel di telinganya, suaranya datar karena dipaksa datar. "Stasiun lima bilang ada celah. Kecil. Mungkin cukup."
"Mungkin cukup bukan jawaban," gumam Janari, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu.
Ia sudah menghitung ini berbulan-bulan—ephemeris yang disusun dari gabungan baseline tiga puluh tahun, koordinat yang bergeser semalam terakhir, jendela kejadian yang menyempit sampai tinggal hitungan detik. Dan sekarang setelah semua itu, yang tersisa hanyalah menunggu, sebagaimana ayahnya dulu menunggu di kotak sinyal, mata pada rel, tangan pada tuas, tanpa kuasa mengubah apa yang akan datang, hanya kuasa untuk melihatnya jujur.
Lima belas detik.
Karu mengangkat kepala sedikit, memandang layar detektor 70 cm—mati, ditutup awan sejak dua jam lalu, sebagaimana yang telah dilaporkan pada Bab sebelumnya, dan tak ada gunanya berharap awan itu membuka diri dalam hitungan detik yang tersisa. Stasiun utama, yang paling ia percaya kalibrasinya, kini hanya jadi penonton gelap. Yang tersisa: stasiun lima, milik jaringan amatir yang dikoordinasi Sekar, dan entah bagaimana kabarnya stasiun tua Danastri, yang sinyalnya terakhir terlihat stabil sepuluh menit lalu sebelum jalur data sempat putus-nyambung karena angin di lereng utara.
"Danastri?" tanya Janari, tidak menoleh.
"Belum ada laporan," jawab Sekar. "Terakhir jalurnya hidup."
Sepuluh detik.
Janari merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya sendiri—bukan gemetar, tepatnya semacam diam yang berat, seperti udara sebelum turun hujan. Ia teringat ucapan ayahnya, yang selalu terdengar lebih seperti doa daripada instruksi: jangan pernah memberi sinyal aman yang kau ragukan. Malam ini bukan tentang memberi sinyal apa pun. Malam ini hanya tentang mencatat, apa pun yang datang.
Lima detik.
Layar milik stasiun lima berkedip data mentah, garis hijau tipis yang menunjukkan fluks cahaya bintang target, naik turun kecil karena turbulensi atmosfer biasa, sama seperti ribuan malam lain.
Tiga.
Dua.
Satu.
Tidak terjadi apa-apa yang bisa dilihat mata telanjang di layar itu—garis hijau tetap bergoyang dengan cara yang sama membosankannya seperti detik-detik sebelumnya. Janari menahan napas, menghitung dalam hati, memastikan jendela satu detik penuh sudah lewat sebelum ia mengizinkan dirinya bernapas lagi.
"Lewat," kata Karu pelan. "Jendelanya sudah lewat."
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang menghela napas lega. Ruangan itu tetap diam, seolah semua orang tahu bahwa yang penting bukan apa yang mereka rasakan, melainkan apa yang tersimpan di dalam berkas data yang baru saja direkam.
"Tarik logfile-nya," kata Janari. "Semua stasiun. Sekarang."
Sekar sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai, jarinya mengetuk papan ketik dengan kecepatan yang biasanya ia hindari karena ceroboh mengundang kesalahan. Karu memutar kursinya menghadap terminal kedua, menarik cap waktu presisi dari osilator, membandingkannya baris demi baris dengan stempel di berkas stasiun lima.
Lalu Sekar berhenti mengetik.
"Ada sesuatu," katanya. Suaranya berubah, bukan lagi datar yang dipaksakan, melainkan datar yang benar-benar kosong, seperti orang yang takut kata-katanya sendiri akan mengubah apa yang ia lihat. "Di stasiun lima. Ada dip."
Janari berjalan ke layarnya dalam tiga langkah, menunduk begitu dekat sehingga bisa mencium bau ozon samar dari kipas pendingin yang bekerja terlalu keras. Di antara barisan angka fluks, satu titik turun lebih dalam daripada tetangganya—bukan drastis, bukan mencolok seperti kedipan-kedipan sebelumnya yang pernah mereka tangkap, hanya penurunan kecil yang bisa jadi apa saja: kedipan sungguhan, atau derau detektor, atau satu piksel yang memutuskan untuk berbohong tepat pada detik yang salah.
"Berapa bingkai?" tanya Karu, sudah berdiri di belakang Janari.
"Satu," jawab Sekar. "Cuma satu bingkai."
Karu dan Janari bertukar pandang sekilas, dan dalam pandangan itu ada seluruh riwayat mereka berdua—bab tentang sinar kosmik yang disingkirkan, bab tentang piksel panas yang ternyata alibi kosong, bab tentang berapa banyak cara langit bisa berbohong pada mereka yang terlalu ingin percaya.
"Stempel waktunya," kata Janari, suaranya nyaris berbisik. "Cocokkan dengan prediksi."
Karu menarik jendela lain di layar, mengetik perintah dengan tangan yang untuk pertama kali malam itu tidak sepenuhnya stabil. Angka-angka bertumpuk, satu kolom stempel waktu GPS di sebelah kolom prediksi ephemeris yang telah mereka susun berbulan-bulan.
Selisihnya nyaris nol.
Tidak ada yang berkata apa pun untuk beberapa detik. Lalu Sekar, dengan suara yang pecah di ujung, berkata, "Itu di dalam jendela. Tepat di dalam jendela."
Tapi satu bingkai, satu stasiun, tidak pernah cukup—bukan sejak Karu mengajarinya menyingkirkan sinar kosmik, bukan sejak Danastri mengisahkan bagaimana satu kesaksian tunggal bisa runtuh jadi debu di tangan orang yang lebih ingin membantahnya daripada mempercayainya.
"Kita butuh stasiun lain," kata Janari, dan tangannya sudah meraih radio genggam sebelum kalimat itu selesai. "Siapa pun. Danastri, siapa pun, di mana pun—apakah ada yang lain merekam sesuatu di detik yang sama?"
Radio itu hanya membalas dengan derau statis, dan di balik derau itu, entah kabar baik atau kabar yang akan menghancurkan segalanya, sedang menunggu untuk diperiksa, bingkai demi bingkai, sampai fajar kalau perlu.